Lailatul Qomariyah, Anak Tukang Becak asal Pamekasan Ini Raih Gelar Doktor dengan Nilai 4.0

Lailatul Qomariyah, Anak Tukang Becak asal Pamekasan Ini Raih Gelar Doktor dengan Nilai 4.0

- in Daerah, Pendidikan
55
0

Visioner.id – Meski tumbuh dari keluarga tidak mampu, Lailatul Qomariyah (27), anak penarik becak, warga Dusun Jinangka, Desa Teja Timur, Kecamatan/Kabupaten Pamekasan, Pulau Madura, sanggup menggapai cita-citanya.

Laila, panggilan akrab Lailatul Qomariyah, anak pertama dari tiga bersaudara pasangan suami istri Saningrat (43) dan Rusmiati (40), kini meraih gelar doktor teknik kimia di Fakultas Tekhnologi Industri, di Institut Tekhnologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Gelar doktor perempuan yang murah senyum itu diraih lewat sidang terbuka dengan mengambil disertasi “Controllable Characteristic Silica Particle and ITS Composite Production Using Spray Process”. Sidang terbuka ini dilakukan di depan sejumlah penguji di ITS Surabaya, Rabu (4/9/2019) lalu.

Pada Minggu (8/9/2019), Laila mengatakan, disertasi itu mengenai aplikasi silika untuk solar sel. Solar sel ini untuk menyimpan energyimatahari yang bisa digunakan sebagai energy listrik.

“Energi surya kan banyak dan melimpah. Dari pada menggunakan batu bara untuk sumber listrik, bukankah lebih baik menggunakan sumber energi matahari. Sehingga cukup dengan solar sel yang bisa dikonversi menjadi energi listrik,” kata Laila.

Menurut Laila, dari 85 mahasiswa doktoral, yang saat itu siap maju untuk mengikuti sidang terbuka, hanya dirinya satu-satunya dan dinyatakan lulus memuaskan dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4.0.

Dengan nilai 4.0 itu, Laila merasa bersukur kepada Allah dan ayahnya yang kala sidang terbuka ayah dan pamannya menyaksikan langsung.

Laila yang kini juga menjadi asisten dosen di kampusnya menuturkan, sejak duduk di bangku SD, SMP hingga SMA dirinya selalu maraih ranking pertama. Sebagai anak penarik becak, pulang pergi ke sekolah diantar  ayah naik becak. Namun dua bulan setelah duduk di bangku SMA 1, Pamekasan, ia naik sepeda pancal sendiri menempuh perjalanan pulang pergi berjarak sekitar 10 km.

Dikatakan, sejak duduk di bangku SMA, untuk biaya sekolah hingga kuliah saat ini  sudah tidak minta kepada orang tuanya, melainkan mencari sendiri. Berkat kecerdasannya memberi les tambahan kepada siswa, waktu SMA ia mendapatkan beasiswa dari sekolahnya.

“Saya sadar, saya bukan anak orang mampu, sehingga tak mungkin mengandalkan orang tua. Alhamdullillah, ternyata Allah member jalan bagi saya,” kata Laila.

Ia mengakui kali pertama masuk kuliah mendapat banyak cibiran di kampungya, karena anak penarik becak kuliah ke Surabaya. Sehingga cibiran itu menjadi pelecut bagi dirinya untuk membutikan dirinya bisa.

Diungkapkan, setelah lulus SMA pada 2011 lalu, ia meneruskan kuliahnya di ITS Surabaya, mengambil Fakultas Teknologi Industri lalu melajutkan ke jenjang berikutnya S2 di ITS. Namun untuk masa kuliah S2 nya itu, Laila hanya ditempuh selama 3 bulan dan langsung masuk ke program S3 dengan beasiswa lewat Program Magister Doktor Sarjana Unggul (PMDSU).

Dijelaskan, perjalanan dari S2 yang hanya tiga bulan dan bisa langsung ke S3, bukan perkara mudah. Melainkan harus melalui beberapa persyaratan khusus, termasuk nilai IPK minimal 3.5 dan seleksi panjang. Tapi karena IPK nya melebihi nilai batas yang ditentukan, yakni 4.0 maka dirinya bisa lolos ke S3 melalui jalur fast track.

Gadis penyuka program debat di TV Jepang ini mengatakan, dalam kaitannya mata kuliah di S3, ia satu-satunya mahaiswa di program dokotoral yang ditugas kampusnya atas biaya pemerintah mengadakan penelitian di Jepang selama satu tahun, pada pertengahan 2017 hingga pertengahan 2018 lalu.

Diungkapkan, dirinya bisa sukses dalam jenjang pendidikan seperti ini, sehari-harinya tidak selalu belajar terus-menerus  tanpa mengenal waktu.  Baginya seimbang antara belajar dan hiburan, di samping berdoa dan jangan sampai lalai dalam menjalankan ibadah, serta dukungan orang tua, yang menjadi penyemangat.

Dipaparkan, selama kuliah di S1 hingga S2, dari tempat kos ke kampusnya naik sepeda pancal, yang ditempuh lama perjalanan antara 15 – 20 menit. “Walau kita dari keluarga tidak mampu, jangan rendah diri dan putus asa. Tidak ada kata tidak bisa, kalau kita mau berusaha dan yakin dengan kemampuan kita,” tambah Laila, yang hingga kini tidak memiliki FB atau IG.

Dinggung, setelah dapat gelar doktor ini, apakah sudah ada niat untuk ke jenjang pernikahan, Laila buru-buru menjawab sampai sekarang hal itu belum terpikirkan dan dirinya masih ingin mengabdi di kampusnya, walau setiap pulang kampung ke Pamekasan, famili dan tetangga sekitar selalu menanyakan hal itu.

Sedang Saningrat, ayah Laila yang ditemui di rumahnya, mengaku bersukur kepada Allah. Ia bangga memiliki anak seperti Laila, karena sejak SMA hingga  sekarang ini,  dirinya tidak mengeluarkan uang sedikitpun untuk  biaya kuliahnya.

Dikatakan,  ketika Laila lulus SMA dan menyampaikan akan kuliah ke Surabaya, saat itu bingung  untuk menjawabnya. Sebab sebagai penarik becak tentu tidak mungkin mampu membiaya anaknya, apalagi ke Surabaya, sehingga waktu itu, ia membujuk Laila agar kuliah di Pamekasansaja. Namun karena tekad Laila bulat dan berjanji tidak akan membebankan orang tua, akhirnya  Saningrat merestui Laila masuk ke ITS.

Menurut Saningrat, yang kini sudah berhenti jadi penarik becak dan beralih sebagai buruh tani, sejak Laila kuliah S3, sudah tidak naik sepeda pancal lagi. Ia kasihan dan dirinya membelikan sepeda motor berkut laptop dari uang hasil menabung.

“Selama kuliah di Surabaya, saya hanya membelikan sepeda motor dan laptop, itu saja. Lainnya tidak ada, termasuk biaya kos dan biaya makan. Bahkan waktu mendaftarkan diri, anak saya tidak minta uang pada saya,” kata Saningrat.

Diakui, ketika anaknya mau masuk ITS, tetangga dan familinya mencegah dan menyarankan tidak usah menuruti kemauan Laila. Karena biaya kuliah dan biaya hidup di Surabaya itu tinggi, sedang dirinya penarik becak, dengan penghasilannya belum tentu cukup untuk makan sehari-hari.  Namun dirinya pasrah dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa dan bertekad, bagaimana Laila bisa menggapai cita-citanya. (SuryaMalang/haz/*)

Facebook Comments