INSTITUT PENELITIAN DAN PENDIDIKAN SOSIAL INDONESIA (IP2SI); Potensi Golput capai 30%, Bagaimana Solusi KPU dan BAWASLU menyikapi Suara Swing Voter dalam pemilu 2019

INSTITUT PENELITIAN DAN PENDIDIKAN SOSIAL INDONESIA (IP2SI); Potensi Golput capai 30%, Bagaimana Solusi KPU dan BAWASLU menyikapi Suara Swing Voter dalam pemilu 2019

- in serba serbi
221
0

Jakarta-  Potensi meningkatnya angka Golput (golongan putih) atau tidak memberikan suara saat Pemilu 2019 semakin mengkhawatirkan. Apalagi, semakin banyak muncul kampanye atau ajakan untuk golput dari berbagai kalangan, Rabu (27/2/2019)

Kehawatiran ini muncul disebabkan karena kinerja anggota lembaga penyelenggara seperti KPU dan Bawaslu yang belum optimal dalam menyoroti polemik daftar pemilih tetap (DPT) dan sosialisasi pemilu serentak terhadap pemuda dan khususunya Mahasiswa sebagai pemilih pemula.

Kontroversi persiapan pileg dan pilpres 2019 yang serentak ikut menarik perhatian swing voters atau masa pemilih yang mengambang karena belum menentukan pilihan. Terlebih pemilu yang diadakan serentak ini membuat para pemilih bingung karena terlalu banyak surat suara yang akan di coblos pada waktu bersamaan.

Lebih lanjut, Gilang mengatakan bahwa jumlah swing voter memang cukup banyak pada pemilu 2019 nanti. Oleh karenanya swing voters turut menjadi penentu pada kontestasi politik lima tahunan ini.

Sementara itu, Direktur Institut Penelitian dan Pendidikan sosial Indonesia (IP2SI), Arief Wicaksana mengatakan swing voters dalam survei politik merupakan masyarakat atau pemilih rasional yang berjumlah 30 hingga 40% di setiap pemilu. Mereka biasanya tidak nyaman dengan tingkah laku para politisi peserta pemilu dan gagasan yang dinilai tidak masuk akal.

Dari data PSV, angka swing voter mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Dimulai dari 7,3% pada Pemilu 1999, 15,9% pada Pemilu 2004, 21,8% pada Pilpres putaran I tahun 2005, dan 23,4% pada pilpres putaran II tahun 2005. Sedangkan, pada Pileg 2009 terdapat 29,3% golput, sebanyak 28,3% pada Pilpres 2009, 24,8% pada Pileg 2014, dan 29,1% pada Pilpres 2014.

“Dari pengamatan Institut Penelitian dan Pendidikan sosial Indonesia (IP2SI), pemilu ke pemilu sejak era reformasi mulailah kelihatan bahwa masyarakat kita tidak semuanya memahami Mekanisme pemilihan umum apalagi dengan dilakukan serentak seperti ini. Kami tidak ingin golput terus meninggi, maka langkah apa yang akan diambil oleh KPU atau Bawaslu dalam menekan angka swing voter sebagai upaya mengurangi angka golput dalam pemilu kali ini” Tandas Gilang yang ditemui di kantor IP2SI.

Facebook Comments