Antara Nama Kekasih di Skripsi dan Buku Nikah?

Antara Nama Kekasih di Skripsi dan Buku Nikah?

- in Fiksi
179
0

Oleh : Rahmad Nasir

Jika nama yang kau tulis dalam skripsimu, ternyata tak mendampingimu saat pernikahan. Cukup gandakan skripsimu sebagai museum sakral di rumahmu. Satu lagi kau simpan di perpustakaan kampus sebagai monumen otentik peninggalan sejarah karir asmara hidupmu. Generasi selanjutnya akan membaca kisah heroik nan haru tentang seniornya yang kandas melanjutkan episode percintaannya dengan orang yang tak menjadi jodohnya. Mereka para junior lantas membaca dengan mata berkaca-kaca sambil terisak dan membatin “Sungguh Menyedihkan, aku akan melanjutkan tradisi seniorku”. Bagi para kutu buku yang hobinya bersemayam di perpustakaan kampus akan selalu mendapati kisah tragis para seniornya dalam memperjuangkan cintanya, meski harus berakhir dengan berlinangan air mata.

Kini nama yang ditulisnya telah menjadi milik orang lain sehingga ia hanya bisa menatap nanar kebahagiaan orang lain. Ternyata ia hanya menjadi penjaga jodoh orang lain, sungguh ia layak mendapatkan ganjaran pahala yang berlimpah dari Tuhan karena terlalu baik. Kendati demikian, penulis skripsi tersebut bersikeras dalam argumennya bahwa mantan kekasihnya telah banyak berkorban untuknya, bersama dengannya mengedit skripsinya, menemaninya dalam konsultasi skripsi ke dosen pembimbingnya, membantu keuangan untuk tugas akhirnya serta berbagai macam pengorbanan lainnya. Mereka beraliran asmara “Cinta adalah pengorbanan”. Ada yang yakin dengan kalimat “namanya memang abadi dalam karya skripsimu, namun akulah yang akan mengabadikan namanya dalam buku nikahku”.

Siapa sangka takdir berbicara lain, seseorang datang dalam hidup mereka berdua menjanjikan kebahagiaan yang lebih sehingga kekasihnya pun beralih ke pelukan hangat orang lain. Sungguh ia tak menyangka nasib buruk ini bakalan menimpanya, ia tak menyangka modal kegantengan dirinya tak cukup juga mempertahankan kesetiaan kekasihnya. Belum lagi ditambah faktor ketidaksetujuan orang tua kekasihnya jika anaknya dijodohkan dengannya. Skripsi miliknya yang ada di rumahnya telah menjadi abu karena dibakar. Sebelum dibakar dilakukan upacara penghormatan terakhir dengan aura kesedihan yang menyelimuti. Rasa-rasanya ia ingin membakar skripsi yang sudah terlanjur diserahkan ke perpustakaan kampus, bila perlu dibakar bersama gedung-gedungnya. Ia semakin kalut karena masih ada dua skripsi lagi yang terlanjur beredar yakni dosen pembimbing utama dan yang kedua, pertanyaannya adalah apakah ia juga harus bertamu ke rumah dosennya lalu membakar skripsi tersebut beserta rumah-rumahnya?.

Kedua dosen pembimbingnya selalu menyelipkan kisah tragis mantan mahasiswanya di sela-sela materi perkuliahan. Para juniornya menanggapinya dengan beragam rasa. Banyak yang berempati namun hanya sedikit yang mau mengambil hikmah dari kisah pendahulunya. Kini, para dosen pembimbing skripsi mulai kritis bukan hanya pada materi penelitian dan kaidah menulis saja namun juga pada soal lembaran persembahan atau ucapan terima kasih khusus untuk para kekasih. Mereka lalu bertanya saat sidang skripsi, “Apakah anda yakin kekasih anda akan menjadi istri anda nanti?”. Tentu jawaban dan argumen masing-masing mahasiswa akan berbeda, jika jawabannya ilmiah seilmiah isi pembahasan skripsinya maka akan diberi nilai yang baik. Kisah ini berlanjut saat kekasihnya mendampinginya saat acara wisuda kampus. Dengan kebaya merah keemasan sang kekasih mendampinginya dengan senyuman super lebar dan bahagia. Foto-foto kemesraan saat wisuda pun telah dihapus semuanya baik di komputer/laptop hingga di sosial media seperti facebook dan instagram. Dengan bangganya foto-foto kemesraan bersama kekasihnya dicetak ukuran besar dan dipajang di ruang depan rumahnya. Semua keluarga pun telah mengetahui calon ipar dan anak mantu mereka. Pada akhirnya ia hanya membuat kecewa keluarganya yang sudah terlanjur menyukai anak gadis yang bakal masuk ke dalam keluarga mereka.

Kini semua telah berakhir dan ia harus segera move on (bangkit) dari keterpurukan asmaranya. Perempuan tak hanya dirinya, masih banyak yang bertebaran di muka bumi ini. Kesadarannya muncul akibat akhir-akhir ini banyak berkonsultasi pada konsultan cinta kondang yang juga adalah tetangganya. Kini ia sibuk memakan makanan yang bergizi tinggi, banyak berdoa, belajar doa ijab qobul, serta banyak bekerja untuk memantaskan dirinya sebagai calon suami untuk jodohnya yang sedang disiapkan Tuhan secara diam-diam. Ia percaya bahwa semua akan indah pada waktunya. Ia harus segera mengabadikan nama kekasihnya yang sesungguhnya sebagai istrinya ke dalam buku nikah yang diakui negara, adat dan agama.
Berhati-hatilah menulis nama kekasihmu di lembaran persembahan skripsimu!. Apakah itu sudah pasti? Yakinkah semua akan bejalan sebagaimana harapanmu? Mungkinkah jodoh bisa tertukar?. Pesannya untuk para juniornya.

Facebook Comments