Feodalisme dan Formalisme Akademik

Feodalisme dan Formalisme Akademik

- in Daerah, Nasional, Opini, Pendidikan
6983
0

oleh: Mustofa*

Pada suatu hari saya ditanya oleh mahasiswa “Bapak mengapa kalau saliman dengan mahasiswa tidak mau dicium tangannya?”, secara singkat saya jawab “tangan saya belum pantas dicium mahasiswa”. Fenomena mencium tangan guru mengingatkan saya beberapa tahun silam saat belajar di pondok pesantren, rasa takdzim santri terhadap kiai salah satunya ditunjukkan dengan nyungkem (mencium tangan kiai) bahkan dengan melepas sandalnya terlebih dahulu. Kiai yang secara cuma-cuma dan ikhlas memberikan ilmunya kepada santrinya, mereka tidak dibayar bahkan hampir semua pondok pesantren (di Madura) memberikan tempat tinggal dan fasilitas gratis. Tidak hanya itu, kiai selalu menghabiskan waktunya untuk beribadah dan setiap waktu selepas salat selalu mendoakan santrinya agar mendapat ilmu yang bermanfaat dan diberikan keselamatan di dunia dan akhirat.

Kemudian, bagaimana dengan dosen, apakah pantas tangan saya dicium oleh mahasiswa? Pertanyaan ini mengusik nurani saya sehingga kegelisahan tersebut membuat saya selalu mengatakan kepada mahasiswa “tidak perlu untuk saya”. Selain merasa belum pantas, keyakinan saya menghormati dan menyayangi dosen tidak harus mencium tangannya, tapi banyak sikap dan perilaku yang lebih urgent. Disiplin (tidak telat masuk kelas), tidak ramai di kelas, memperhatikan penjelasan, bersikap autentik, justeru jauh lebih penting. Namun bukan berarti saya tidak setuju dengan budaya nyungkem kebiasaan tersebut menurut saya ada positifnya apalagi dalam usia anak-anak sekolah, selain itu pantaskan terlebih dahulu pikiran, sikap, dan perilaku kita. Saya juga tidak hendak mendikotomikan antara kiai dengan dosen, keduanya “sama” seorang pendidik yang memunyai tanggung jawab besar terhadap yang dididiknya.

Tugas Berat Dosen
Dosen dalam imajinasi mahasiswa adalah seorang yang tahu segalanya, selain itu dosen sebagai cerminan perilaku agung yang selalu menjadi sumber inspirasi mahasiswa. Mitos tersebut berkembang dalam dunia kampus sehingga menumbuhkan sikap glorifikasi diri di kalangan dosen yang selalu merasa benar dan anti kritik. Sikap tersebut wujud dari tirani yang biasanya ada pada seorang penguasa tetapi justeru juga berkembang dalam dunia akademik. Padahal dosen selain mengajar yaitu mentransfer ilmunya kepada mahasiswa tugas yang tak kalah penting adalah mendidik yaitu internalisasi nilai-nilai untuk membentuk karakter mahasiswa seutuhnya. Maka model dan/atau kultur perkuliahan di kelas memunyai peran yang sangat signifikan. Menurut pemerhati pendidikan Augustinus Widyaputranto, secara pedagogis proses pembelajaran esensinya adalah kegiatan yang cerdas dan partisipatif yang mengembangkan otonomi berpikir, kreatif, serta membentuk kompetensi dan sikap bertanggungjawab. Merangsang peserta didik agar secara reflekif dapat menemukan dan membangun dirinya yang autentik melalui dinamika interaksi yang sehat dengan para pendidik.

Mahasiswa tidak boleh diposisikan seperti botol kosong yang harus terus diisi, tetapi dosen harus memberikan ruang untuk berpikir secara bebas. Seperti yang dikatakan Socrates bahwa prinsip dasar pendidikan adalah metode dialektis, yaitu dosen tidak boleh memaksakan gagasan-gagasan atau pengetahuannya kepada mahasiswa karena mereka dituntut untuk bisa mengembangkan pemikirannya sendiri dengan berpikir secara kritis. Membuat mahasiswa mampu berpikir kritis jauh lebih sulit daripada hanya mentransferkan pengetahuan kepada mahasiswa, artinya dosen harus punya metode khusus agar mampu membuat mahasiswa memaksimalkan nalarnya untuk berpikir. Sumber informasi dan ilmu pengetahuan sangat melimpah serta mudah diakses oleh siapapun, yang paling fundamental adalah merubah mindset agar gemar membaca dan tidak malas berpikir sehingga seringkali terjebak pada hal-hal yang instan. Bangsa Barat sudah melampaui membaca mereka sudah masuk pada tradisi menulis (reading the past. writing the future) bangsa kita masih berada pada level gerekan literasi untuk menyadarkan masyarakat karena sangat rendahnya minat membaca. Tulisan Victoria Fanggidae (Kompas 2/9/2016) Membuat kita sesak, dari hasil survey OECD Indonesia berada di peringkat paling buncit pada hampir semua kompetensi, seperti kemampuan literasi, numerasi, dan kemapuan pemecahan masalah. Padahal survey dilakukan di Jakarta dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) paling tinggi di Indonesia 78,99. Kita bisa membayangkan bagaimana jika survey dilakukan di luar Jakarta, sungguh mengerikan.

Merubah Mindset ½ Dosen
Dewasa ini ada kecenderungan para akademisi lebih mementingkan nilai-nilai pragmatis daripada nilai-nilai ilmu pengetahuan. Tri Dharma perguruan tinggi yang dilakukan lebih berorientasi pada formalitas belaka untuk menggugurkan tugas dan mendapat jabatan. Padahal akademisi adalah sekolompok orang yang dianggap memunyai ilmu pengetahuan untuk kepentingan kemaslahatan bangsa.

Pengajaran/pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat harus memberikan perubahan yang positif. Bahkan menurut Profesor Heru Nugroho tugas utama seorang akademisi adalah melakukan refleksi kritis dan memertahankan nilai-nilai abstrak pada zamannnya seperti kebenaran, keadilan, dan rasio. Namun realitasnya nilai-nilai tersebut semakin memudar selain hanya realisasi hasrat materi semata, yang banyak hanya sekumpulan dosen yang suka gaya-gayaan. Membicarakan dosen saya teringat sosok Buya Safii Ma’arif (dalam tulisan Zen RS yang dimuat tirto.id) ditengah kesibukannya yang laur biasa dan nama besarnya, ia tidak sedikitpun mengabaikan tugasnya sebagai seorang dosen. Ia masih bersedia mengajar mahasiswa S1 dan masih mengoreksi tumpukan tugas-tugas mahasiswa, selain itu buya selalu melakukan pekerjaannya sendiri tidak gampang menyuruh mahasiswa ia rela berdiri lama di depan poto copy an. Tidak seperti dosen-dosen saat ini yang haus hormat dan pelayanan, buya berbeda saat ada mahasiswa menawarkan untuk membawakan laptopnya, ia menjawab “Anda kira saya sudah tidak kuat membawa sendiri”, Buya Syafii adalah sosok dosen seutuhnya yang sangat layak kita teladani.

*) Penulis adalah Dosen FKIP Universitas NU Surabaya & Pengurus Masika ICMI Jawa Timur

 

Facebook Comments