HMI “Aset Bangsa” dan Tantangan Era Digital

HMI “Aset Bangsa” dan Tantangan Era Digital

- in Opini
11197
0

5 Februari 2018 mendatang HMI menginjak usia yang tidak lagi muda, menjelang 71 tahun usia organisasi mahasiswa ini berdiri, HMI telah melahirkan Tokoh Nasional dengan sederet nama besar yang memiliki kontribusi bagi bangsa dan negara. Cendekiawan muslim, budayawan dan guru bangsa yang lebih akrab dipanggil “Cak Nur “atau Nurcholis Madjid, Wapres RI Jusuf Kalla, mantan Ketua DPR RI Akbar Tanjung, mantan Ketua MK Mahfud MD, Anggota BPK RI Harry Azhar Aziz, bahkan sosok fenomenal aktivis HAM “Munir”, lahir dari rahim organisasi mahasiswa tertua di negeri ini.

Dewasa ini, HMI harus semakin kaya lewat gagasan produktif yang dapat membawa perubahan dalam menyikapi era digital. Tepat pada tanggal 6 November 2017 kemarin menjadi moment bersejarah bagi kader HMI dan KAHMI, karena berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/Tahun 2017 “Lafran pane” pendiri HMI resmi menyandang gelar Pahlawan Nasional, setelah melalui serangkaian proses panjang melalui seminar, kumpulan tulisan yang berhasil dibukukan serta berbagai macam dokumen penunjang sesuai ketentuan peraturan perundangan.

Berbicara Hmi adalah berbicara tentang gagasan, gagasan perkaderan harus mampu menjawab dan menyesuaikan tantangan pada era digital, dimana Generasi Y dan Generasi Z dihadapkan dengan sebaran arus informasi serta kemajuan tekhnologi yang semakin tidak terbendung. Teori generasi yang didengungkan oleh William Strauss dan Neil Howe melalui karyanya “Generations” mempelajari tren generasi, dimana terdapat tiga kriteria yang harus dimiliki oleh sebuah generasi yaitu usia lokasi dalam sejarah, kepercayaan dan perilaku yang sama, serta keanggotaan periode yang sama.

Generasi Y atau generasi milenials, mereka yang lahir pada kurun waktu 1982 sampai 2004, sementara Generasi Z mereka yang lahir diatas tahun 2005 sampai dengan sekarang, lebih familiar dengan sebutan Gen Y dan Gen Z, dimana generasi ini tidak bisa lepas dengan perkembangan tekhnologi digital. HMI sudah saatnya bersikap adaptif menyesuaikan dengan perkembangan zaman lewat manajemen pengelolaan organisasi secara digital.

HMI sebagai organisasi kader merupakan generasi harapan bangsa kedepan, mereka memiliki tanggung jawab mengemban misi keumatan dan misi kebangsaan dalam menjaga keutuhan NKRI. Strategi perkaderan pasca LK 1 atau basic training perlu diterapkan, mentoring menjadi strategi efektif pada aspek pembinaan dan pengawalan, sehingga kader mampu mengoptimalkan karya serta gagasan produktif, dimana peranan lingkungan turut andil mendukung terciptanya pembentukan karakter personal.

Pengelolaan dalam lembaga pengembangan profesi pada organisasi diharapkan mampu menjadi solusi atas kebutuhan kader dalam menumbuhkan minat dan konsen terhadap profesi. Struktur organisasi HMI dari tingkatan Komisariat, Korkom, Cabang, Badko sampai dengan Pengurus Besar lebih mengedepankan pembentukan karakter berjiwa leadership dan cenderung profesional pada bidang sesuai dengan kepengurusan, sehingga diperlukan wadah bagi kader HMI yang menggandrungi bidang khusus melalui lembaga pengembangan profesi (LPP) guna memberikan ruang pengembangan kreatifitas yang menunjang bagi kader.

Route Map harus dipersiapkan sedini mungkin agar kader semakin memahami orientasi, dimana mereka akan aktif dan fokus pada bidang yang menjadi pilihan. Perlu sinergi antara HMI dan KAHMI dalam menyiapkan kader potensial agar konsen terhadap bidang yang akan digeluti dan ditekuni, dengan harapan mereka tumbuh menjadi kader yang memiliki dedikasi serta integritas. Komitmen untuk saling menguatkan, saling membesarkan dan saling mengingatkan diperlukan untuk merajut persaudaraan dalam membangun peradaban.

Support system harus dibangun dalam mengedepankan kebersamaan demi kelancaran dan kemanfaatan bagi organisasi. HMI sebagai organisasi kemahasiswaan menjadi garda terdepan dalam menyiapkan kader-kadernya yang akan menempuh pendidikan dalam jenjang perkuliahan yang lebih tinggi pasca S1, banyaknya kader yang melanjutkan study ke jenjang S2 hingga S3 baik dalam negeri maupun luar negeri merupakan penunjang gelar akademik sebagai kebutuhan akan lahirnya intelectual community.

HMI dan KAHMI konsisten menyongsong indonesia 2045, mengingat banyaknya profesor dan doktor alumni HMI yang hadir pada acara simposium pada tanggal 14-15 November sebelum acara Munas KAHMI di medan. Simposium yang digelar kemarin, melahirkan gagasan-gagasan kontributif dalam mengatasi kesenjangan sosial dan ekonomi dengan judul ‘Membangun Negeri Memihaki Bangsa Sendiri’, merupakan bukti bahwa HMI dan KAHMI bersinergi dalam mempersiapkan Aset Bangsa.

Dewasa ini, marak kita jumpai kajian diskusi dan seminar di angkringan, kafe dan hotel dimana tempat tersebut merupakan tempat yang digandrungi oleh gen Y dan gen Z, sehingga organisasi perlu menyesuaikan dengan kebiasaan mahasiswa yang cenderung hedonis, apatis serta mengikuti trend zaman.

Strategi untuk menarik minat mahasiswa dalam organisasi, perlu mengedepankan ide dan gagasan yang visioner seperti pembuatan video yang mampu menggugah semangat mahasiswa akan pemahaman pentingnya organisasi. pada masa mendatang gedung bioskop dapat menjadi referensi tempat kegiatan mahasiswa, karena mereka hari ini lebih tertarik dengan tempat yang dinilai menggambarkan karakter pemuda zaman now.

Perkembangan tekhnologi media online menjadi ruang diskusi bagi mereka dalam membangun komunikasi serta menyalurkan gagasan tanpa tersekat oleh ruang, mereka tidak harus bertemu secara fisik dan bebas menyuarakan aspirasi berkat kemudahan mengakses internet pada smartphone.

Diskusi online perlahan mulai menggerus kajian diskusi rutin yang dahulu menjadi budaya mahasiswa karena banyaknya pengguna internet pada tahun 2016. Merujuk rilis hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dimana dengan total penduduk indonesia sekitar 256 juta, angka pertumbuhan pengguna internet meningkat 44 persen pada tahun 2016 menjadi 132 juta pengguna, mengingat data pada tahun 2014 pengguna internet masih di angka 88 juta.

Mahasiswa cenderung membaca artikel hingga e-book daripada membaca buku sebagai literatur, gadget atau handphone menjadi alat praktis sebagai media mahasiswa dalam membantu menjalankan aktivitas. Universitas harus mampu menyajikan literatur sebagai penunjang keilmuan mahasiswa, tenaga pengajar profesional serta laboratorium menjadi pendukung utama agar menghasilkan lulusan mahasiswa dalam menjawab tantangan era digital. Teori yang kita dapatkan di bangku perkuliahan perlu diimbangi dengan kegiatan praktek di lapangan agar mereka tidak merasa gamang ketika terjun pada dunia kerja.

Pendidikan perlu mengedepankan pelayanan, tidak boleh terjebak pada wilayah bisnis yang cenderung profit oriented agar menghasilkan kualitas mahasiswa yang relevan dengan kebutuhan zaman. Universitas harus selektif serta reaktif dalam memfilter infiltrasi serta intervensi kekuatan politik dari luar yang cenderung praktis, karena dapat mencoreng citra civitas akademik. Peran mahasiswa sebagai agent of change, agent of control dan iron stock diharapkan dapat memberikan warna pada tataran kemahasiswaan sebagai insan akademis, mereka tidak dibentuk sebagai generasi pengikut, tetapi justru mereka dibentuk sebagai generasi pengawal perubahan.

Peranan organisasi internal kampus diharapkan hadir sebagai wadah bagi mahasiswa dalam membesarkan kiprah Universitas mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, organisasi internal memiliki tugas menyerap aspirasi mahasiswa sebagai media penghubung komunikasi, dimana peranan organisasi internal kampus harus diposisikan sebagai elemen yang dapat memberikan saran dan masukan dalam bentuk otokritik terhadap kebijakan Universitas. Sementara peran organisasi eksternal berfungsi sebagai kawah candradimuka dalam mengasah analisis kader menyikapi isu kekinian, organisasi eksternal harus tampil menjadi garda terdepan dalam mengawal demokrasi melalui prinsip chek and balances sesuai dengan tiga cabang kekuasaan yaitu legislatif, eksekutif dan yudikatif.

*Chairul Anam Ketua Badko Hmi Jatim

Facebook Comments