SUKMAWATI SOEKARNO PUTRI GAGAL FAHAM DAN MENGOLOK-OLOK UMAT ISLAM

SUKMAWATI SOEKARNO PUTRI GAGAL FAHAM DAN MENGOLOK-OLOK UMAT ISLAM

- in Opini
1379
0

MHR. Shikka Songge (Direktur Lembaga Kajian Pengembangan Muballigh Indonesia PP BAKOMUBIN)

Seseorang yang cerdas, berintegritas, dan merupakan warna negara yang baik tidak akan melakukan kesalahan yang sama secara berulang kali, selain terselip suatu kepentingan. Belum terlalu jauh dari pandangan mata kita dan belum juga terlupakan dari ingatan publik bahwa di negeri ini telah terjadi gelombang aksi gerakan komunalisme ummat Islam berupa aksi 411, 212, 313 dst yang juga menyita perhatian publik internasional. Para analis atau pengamat politik menyebut gerakan ummat itu dengan istilah Gerakan Populisme. Gelombang massa yang hadir sangat mengejutkan, jumlahnya diperkirakan mencapai 5 – 7 juta umat Islam.

Gelombang massa itu memang cukup fenomenal karena sanggup menyedot massa tiga kali melebihi massa yang menduduki senayan saat meminta Presiden Soeharto turun di tahun 1998. Oleh para pengamat gerakan massive 411, 212, 313 dst yang menuntut pengadilan terhadap Ahok atas penistaan Al- Quran Surat Al-Maidah ayat 51 diidentikkan sebagai gelombang kebangkitan politik identitas atau politik Islam. Gerakan ini amat sangat merepresentasikan politik umat Islam Indonesia di tanah air.

Belum pernah dalam sejarah politik Indonesia sejak Orla dan Orba umat Islam datang dari penjuru negeri membanjiri Jakarta hanya sekedar mengingatkan Mr. Ahok bahwa keinginan politik setinggi langit silahkan saja tapi tidak boleh mencederai perasaan beragama umat Islam. Menurut para pengamat gerakan politik identitas ini adalah bentuk dari adanya krisis demokrasi. Karena bagi mereka demokrasi membolehkan gerakan aksi massa tapi tidak boleh mengatasnamakan tema Islam dan oleh orang Islam. Aksi-aksi umat Islam atas nama Islam bagi mereka mencederai demokrasi atau menodai demokrasi. Bukankah ini merupakan bahagian dari indikasi menguatnya pemikiran sekularisme di tanah air?

Olehnya atas nama demokrasi, liberalisme, pluralisme, serta menjaga eksistensi NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, polisi pun bekerja ekstra keras menjebloskan para aktivis Islam ke dalam tahanan. Selain itu fitnah keji bertubi-tubi dialamatkan kepada para ulama tanpa bukti dan tak masuk akal. Umat Islam yang mayoritas di negeri ini dianggap sebagai penghuni baru dan diperlakukan sebagai kelompok minoritas yang tak bersejarah di republik ini. Polisi lalu bekerja dengan dalih penegakan supremasi hukum menyasar para aktivis dan ulama. Namun publik yang cerdas tentu memahami bahwa semua itu hanyalah upaya rekayasa untuk mendiskreditkan martabat umat Islam pada fora kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lalu untuk apa puisi Sukmawati yang membandingkan suara adzan dan kidung, cadar dan konde? Rakyat memahami Sukmawati binti H. Ahmad Soekarno bukanlah orang baru dan bukan pula baru lahir. Namun puisinya seakan tanpa referensi politik atau pengetahuan tentang rangkaian reaksi umat atas penistaan Al-Quran itu. Puisi Sukmawati bernada memperolok m dan merendahkan dimensi peradaban keberagamaan umat Islam yang memicu kemarahan umat. Lantas pantaskah putri seorang proklamator merendahkan martabat umat Islam yang merupakan pemilik saham terbesar di negeri ini? Memang patut dimengerti bahwa yang dilakukan Sukma adalah cermin dari gerakan kaum sekuler untuk meredam api kebangkitan Islam di tanah air.

Sukma pun tahu bahwa ajaran Islam di Indonesia sudah melembaga dan membudaya, menjadi model keberadaan Islam sebagai agama negara. Islam hadir jauh lebih awal dari usia NKRI. Itu bukan rahasia tapi fakta sejarah. Sukma sebagai anak proklamator pun tahu bahwa tidak ada kemerdekaan yang dideklarasikan oleh Soekarno-Hatta tanpa perjuangan panjang dengan senjata bambu runcing oleh mayoritas umat Islam di negeri ini yang telah gugur menjadi syuhada.

Sukmawati pun tahu republik ini bisa dideklarasikan atas kebesaran jiwa dan kerelaan politik dan watak kenegarawanan para tokoh Islam pendiri bangsa yang rela dan mengikhlaskan hilangnya 7 kata dalam sila pertama Pancasila demi tercapai tujuan segera berdirinya negara dan terselenggaranya pemerintahan negara Indonesia yang merdeka, berdaulat dan tetap bersatu. Dari situ saya yakin dan percaya bahwa Sukmawati sangat sadar saat menulis puisi untuk sebuah tujuan. Dengan begitu menurut keyakinan saya ada unsur kesengajaan Sukmawati dan ada tujuan tertentu saat menulis dan membaca puisi tersebut.

Sukmawati putri Soekarno, tapi rasanya ia tak memiliki sukma bangsa yang menjahit persatuan kebangsaan. Apalagi Sukmawati tahu bahwa ayah biologisnya seorang pendiri dan ideolog bangsa yang sangat menjiwai denyut nadi kebangsaan kita. Soekarno beberapa kali mendapat pengukuhan Doktor HC di Universitas Al-Azhar Mesir dan IAIN Yogyakarta dalam bidang Pemikiran Islam. Jadi rasanya Sukmawati tidak mungkin tidak tahu di negeri ini Islam telah menginstitusi dan membudaya sepanjang jejak nusantara.

Adzan setiap hari dikumandangkan untuk mengajak orang shalat. Adzan berisi lafadz tentang Tuhan yang maha agung, syahadat tauhid, syahadat rasul, mari sholat dan mari menuju kebahagian. Apakah Anda terganggu? Cadar itu refleksi iman dan islam seorang muslimah. Fenomena cadar bukan baru hari ini saja, tapi sejak 20 hingga 30 tahun yang lalu sebahagian muslimah di negeri ini sudah bercadar. Dan kesadaran akan cadar oleh muslimah dan masuk ke ruang publik seperti masjid, ruang kuliah, kampus, pasar, mall, supermarket, dll. Kenapa baru sekarang putri Bung Karno terusik dan disampaikan melalui puisinya.

Suara adzan baik atau buruk, syahdu atau merusak pendengaran, adalah sesuatu yang relatif dan tidak substansif. Tetapi lafal adzan yang disuarakan oleh muadzin merupakan panggilan untuk mengingatkan kaum muslimin dan muslimah bahwa telah tiba waktu sholat wajib bagi muslimin dan muslimah. Maka bersegeralah untuk menunaikan shalat wajib.

Adzan, memang sesuatu yang terpisah dari shalat, tetapi adzan bermakna seruan, yakni mengajak orang untuk segera menunaikan shalat wajib. Adzan dan shalat merupakan rangkaian dasar konstruksi gerakan peradaban Islam. Sesungguhnya perkara shalat lima waktu kedudukannya menjadi kunci dari salah satu rukun islam. Dan konstruksi shalat itu dimaksudkan untuk mencegah seseorang dari tindakn fahsya dan munkar. Shalat meneguhkan kualitas kemandirian esensi dan eksistensi manusia.

Adzan dianalogikan sebagai jembatan penghubung shalat. Bila adzan dinihilkan, diruntuhkan, sama halnya meruntuhkan shalat wajib. Erdogan, Presiden Republik Rakyat Turki menyatakan keteguhan eksistensialnya sebagai muslim. Ia menyerukan pada dunia bahwa di mana adzan berkumandang, di situlah tanah airku. Betapa dahsyatnya nilai adzan. Itu sikap karakter dan integritas seorang Pemimpin Dunia Islam. Muslim Indonesia belum menemukan mukjizat adzan yang menguatkan dimensi setiap muslim baik bersifat personal maupun jamaah.

Dalam analogi yang lain, bila Sukmawati tidak suka dengan suara adzan berarti Sukma juga tidak suka dengan shalat yang bertujuan untuk mencegah perilaku buruk dan tidak terpuji lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana mungkin negeri yang besar dan mayoritas muslim ini tanpa ibadah shalat kaum muslim. Dalam pengertian yang lebih luas penegakan shalat lima waktu merupakan upaya untuk mencegah tindakan buruk yang merugikan masyarakat dan bangsa yang lebih besar. Seorang pejabat negara atau warga negara biasa akan selalu berkomitmen untuk membangun negeri ini dengan perilaku yang islamis. Barangkali kita setuju tidak perlu negara Islam dengan melaksanakan perangkat hukum publik yang islamis, namun setiap muslim berpandangan bahwa setiap muslim bisa mempertahankan kemaslahatan eksistensi negeri ini dengan menjadi pribadi muslim.

Bisa dibayangkan bila Sukmawati mengatakan kidung lebih indah dari suara adzan, konde lebih indah cadar. Hal itu sebagai peringatan dini, boleh jadi suatu saat nanti Sukmawati juga akan mengatakan suara kidung lebih indah dari suara orang membaca Al-Quran, suara penyiar agama atau muballigh yang berceramah, atau mimbar khotbah jumat.

 

Facebook Comments