HABIS JK TERBITLAH SANDI “Potret Regenerasi Saudagar Di Pilpres 2019”

HABIS JK TERBITLAH SANDI “Potret Regenerasi Saudagar Di Pilpres 2019”

- in Opini
2843
0

Oleh: Farhan Syuhada (Dosen Universitas Muhammadiyah Kupang)

Demokrasi langsung di Indonesia yang bergulir usai reformasi 1998 berkonsekuensi pada pembiayaan politik yang sangat tinggi. Fakta inilah yang membuat para saudagar seperti mendapatkan ‘karpet merah’ untuk terlibat langsung dalam percaturan politik nasional.

Hal ini karena partai-partai politik membutuhkan dana yang tidak terbatas agar tetap eksis. Kebutuhan akan pembiayaan mesin partai bisa terjawab oleh solusi yang langsung diberikan dari para saudagar dengan sumber dana segar yang tidak terbatas.

Dari banyaknya saudagar yang langsung terlibat dalam politik praktis, muncullah figur Jusuf Kalla sebagai simbol di panggung politik nasional dengan tampil sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia pada tahun 2004. Tidak bisa dipungkiri bahwa Jusuf Kalla (JK) sangat berjasa besar secara finansial bagi terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden Republik Indonesia untuk periodenya yang pertama tahun 2004-2009. Berbasis pada kekuatan korporasi bisnis keluarga Kalla yang menggurita terutama di wilayah timur Indonesia, SBY-JK akhirnya mampu menumbangkan Presiden RI saat itu yakni Megawati yang menggandeng Hasyim Muzadi saat sedang memimpin Nahdatul Ulama (NU).

Memasuki tahun 2009, duet SBY-JK akhirnya pisah jalan. SBY yang sudah mengakumulasi berbagai modal sosial, politik dan ekonomi dengan kapasitas sebagai orang nomer satu di Indonesia memutuskan menggandeng Boediono, yang merupakan seorang profesor di bidang ekonomi. SBY sudah tidak membutuhkan lagi sumber kapital dari saudagar JK. Bahkan JK kemudian tumbang dalam Pilpres 2009 saat berduet dengan Wiranto.

Pada Pilpres 2014, JK berhasil membantu  memenangkan Joko Widodo (Jokowi) sebagai Presiden RI periode 2014-2019. Posisi wakil presiden kembali digenggam sang saudagar. Biaya pemenangan tim Jokowi-JK tentunya tidak bisa dipungkiri salah satu sumbernya adalah dari basis finansial JK.

Hari ini ketika Jokowi akan memasuki Pilpres 2019 guna mempertahankan jabatannya pada periode yang kedua, langkah SBY pada tahun 2009 akhirnya kembali ditempuh Jokowi. Berpisah dengan sang saudagar JK. Entah apa yang terjadi dibalik perpisahan ini, yang jelas Jokowi sudah sangat percaya diri dengan akumulasi modal lima tahun menjadi presiden. Jokowi sepertinya sudah tidak membutuhkan lagi sumber pembiayaan dari JK dan korporasinya.

Setelah meninggalkan JK, Jokowi juga seturut dengan SBY di tahun 2009 dengan menggandeng Ma’ruf Amien yang seorang profesor menjadi calon wakil presiden. Bahkan Jokowi juga meniru Megawati di tahun 2004 karena duetnya kali ini juga adalah seorang tokoh NU yang sedang memimpin Majelis Ulama Indonesia.

Ketika sinar politik saudagar JK mulai memudar seiring usia, dari arah yang lain muncul seorang saudagar muda di panggung Pilpres 2019. Dialah Sandiaga Salahudin Uno yang tampil sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Pemuda ganteng dan kaya-raya ini tentunya akan berjibaku dengan kekuatan finansial yang dimilikinya demi memenangkan Pilpres 2019.

Sandiaga rela melepaskan jabatan Wakil Gubernur DKI Jakarta untuk merebut jabatan Wakil Presiden Republik Indonesia. Alotnya kompromi koalisi Gerindra, PKS dan PAN, keputusan mengusung duet Prabowo-Sandi tentunya tidak lepas dari hitung-hitungan sumber biaya pemenangan yang bakal dikeluarkan sejak Agustus 2018 hingga pemilihan presiden pada April 2019. Durasi waktu konsolidasi yang cukup lama akan berkonsekuensi pada membengkaknya biaya yang dibutuhkan.

Memilih seorang saudagar Sandi Uno mendampingi Prabowo secara otomatis akan memudahkan logistik menuju kemenangan. Sang Jenderal tentu sangat paham bagaimana seniornya yakni SBY menang Pilpres 2004 dengan menggandeng saudagar JK. Bagi Prabowo, Sandi adalah solusi nyata secara finansial. Inilah alasan dari mengapa bukan anaknya SBY yakni Agus Harimurti Yudhoyono yang dipilih.

Kekuatan finansial di era demokrasi langsung saat ini adalah sebuah keniscayaan. Semua aktifitas politik saat ini mustahil bisa berjalan bila tidak ditopang dengan sumber dana yang jelas. Ditambah lagi dengan budaya konsumtif yang kian melekat pada masyarakat di Indonesia. Pragmatisme politik yang juga kian meluas dipraktekkan mayoritas anak bangsa saat ini membuat hanya kaum berduitlah yang bisa berbicara banyak di panggung politik lokal hingga nasional.

Sekarang saatnya Sandi Uno membuktikan kelasnya. Mampukah dia mengulang keberhasilan JK pada tahun 2004 dan 2014? Berbekal kecerdasan finansial seorang Sandi Uno, rasa-rasanya capaian sang senior tidak mustahil untuk diwujudkan. Selamat berjuang saudagar.

 

Facebook Comments