Duka Sang Caleg (Gurau Politik)

Duka Sang Caleg (Gurau Politik)

- in Opini
201
0

Oleh : Rahmad Nasir (Dosen STKIP Muhammadiyah Kalabahi)

 

Sore itu seorang caleg tertunduk lesuh di sudut ruangan, sesekali ia menghapus air matanya yang perlahan meleleh di pipinya. Betapa tidak sudah 300-an juta dihabiskan hanya untuk mendanai biaya kampanyenya selama beberapa bulan ini.

Laki-laki yang baru 2 tahun lulus kuliah di perantauan itu memutuskan untuk kembali ke kampung halamannnya dengan niatan untuk membangun kampung halaman lewat jalur politik. Bermodalkan pengalaman menjadi aktivis organisasi ia lalu dengan idealisme yang tinggi ingin merubah wajah demokrasi menjadi lebih berkualitas, ia ingin memperbaiki kualitas perpolitikan di level daerah yang sudah dianggap bobrok, ia ingin menunjukkan prototype anggota legislatif yang sejati.

Menyampaikan niat sucinya kepada orang tua, sontak orang tuanya menyetujui dengan mendukung secara moril termasuk pendanaan kampanye. Tak tanggung-tangguang orang tuanya menyiapkan dana setengah Milyar untuk memenangkan pertarungan politik di DPRD Tingkat II di kabupatennya. Setelah resmi menjadi peserta pemilu yakni sebagai caleg dari partai X, ia mulai membentuk tim sukses dan beberapa relawannya dan mulai melaksanakan segala agenda politiknya yang sangat menguras energi.

Asal tahu saja, masyarakat kita di akar rumput makin hari makin melek politik. Meski banyak yang bilang bahwa orang-orang mampir ke pelosok sekedar bersolek politik untuk mendapatkan simpati untuk dipilih lantas setelah itu menghilang selama 4 tahun dan tahun kelima kembali lagi melakoni hal yang sama di musim politik.

Dengan pengalaman yang cukup banyak maka kini orang-orang pelosok juga mulai kembali mengerjain para politisi yang turun ke dapil. Mereka menyambut sang caleg dengan meriah dan dibaluti dengan prosesi budaya. Hal ini membuat hidung sang caleg kembang-kempis dan ekspektasi dalam dirinya makin tinggi. Amunisi politikpun di hambur-hamburkan secara membabi buta dan habis sebelum hari H pemilihan.

Pada saat bersamaan para politikus lain pun mondar-mandir di dapil yang sama dengan membawa sejumlah janji semanis gulai air bahkan semanis madu. Masyarakat pun mabuk kepayang dibuatnya namun masih dalam kesadaran diri untuk memetik gula-gula politik yang bertebaran di musimnya.

Bermandikan gula-gula politik di musim politik membuat masyarakat di akar rumput menjadi mabuk gula dan dalam ketaksadaran mereka memilih di bilik suara TPS. Alhasil, pilihannya hanya asal-asalan dan bagaikan bermain judi sehingga demokrasi kita ibarat bermain dadu atau menghitung kancing baju untuk menentukan pilihan.

Sang caleg yang telah mengeluarkan ‘duit’ ratusan juta pun akhirnya gigit jari karena hanya saksi yang ditunjuk yang memilihnya di TPS. Pertanyaannya, kemana yang menjemput penuh kemeriahan? Kemana yang menjanjikan 100 suara di kampung ini? Kemana mereka yang saya isikan pulsa hampir setiap hari? Kemana mereka yang dikasi uang bensin secara rutin?.

Kini ponsel miliknya sepih dari orang-orang yang selalu menghubunginya. Ia masih bingung bagaimana caranya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sendiri untuk dirinya. Dalam isak diam ada suara halus membisikan ke telinganya “Itulah politik praktis, kau harus berterima kasih telah membayar mahal pengalaman hidup yang teramat berharga”.

Bayang-bayangnya untuk mengubah wajah demokrasi pupus sudah, cita-cita menjadi prototype “Aleg” yang profesional sirnah sudah, angan-angan mempercantik wajah perpolitikan daerah menguap entah kemana. Ia telah membayangkan nikmatnya duduk di kursih empuk rumah rakyat sambil mengikuti sidang bahasan tentang nasib rakyat atau mungkin untuk nasibnya sendiri.

Baliho-balihonya tetap tersenyum, stiker dan kartu nama tinggal kenangan, foto-foto kampanye dialogis masih tersimpan rapih di media sosial. Semua seolah sedang berbicara padanya bahwa “Hidup adalah akrobat”. mungkin suatu saat akan menjadi barang antik untuk disimpan di museum pribadinya. Apa pun realitasnya, ia telah membuktikan dirinya sebagai petarung pemberani meski berakhir tragis. Setidaknya ia tak sampai menjadi pasien di rumah sakit jiwa.

Hampir 2 jam ia tertunduk lesuh, kusam dan tak bergairah. Ia bahkan seharian tak makan karena tak mampu mengunyah makanan yang dihidangkan. Ia telah membuat susah orang tuanya.

Akhirnya, setelah sedikit pulih dari sakit batin yang diderita, maka ia mulai mengumpulkan berkas-berkas ijazahnya untuk bersiap-siap melamar kerja sebagai honorer di kantor-kantor pemerintahan maupun swasta di kota ini. Setiap bulan ia menerima honornya yang super kecil sambil mengingat ratusan juta yang telah dihamburkan secara percuma. “Tunggu Lima Tahun Lagi”, gumamnya penuh dendam.

Facebook Comments