Ekonomi Negara Importir Pangan di Negeri Agraris

Ekonomi Negara Importir Pangan di Negeri Agraris

- in Opini
159
0
Kader HMI Cabang Malang Komisariat Ekonomi UMM

Oleh : Nurul Afifah

Jurusan Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang

Mungkin kita pernah mendengar sebuah lirik yang berbunyi “orang bilang tanah kita tanah surga tongkat kayu dan batu jadi tanaman” kata tersebut tak asing lagi bagi telinga kita, itu katanya tapi tidak pada faktanya, Dinegri yang sekaya ini namun tak mampu menjamu pemiliknya. Ironis bukan? Mayoritas penduduk indonesia berprofesi sebagai petani dengan luas lahan yang berhektar-hektar dengan banyak sekali potensi yang ada namun sayang para petani dalam negri hanya bisa menjadi penonton di balik layar kesuksesan para petani Tiongkok.

Dari badan pusat statistik (BPS) impor hanya pada komoditi beras saja pada triwulan I terakhir indonesia naik menjadi 755% atau sebanyak 383 ribu ton dan apabila digabungkan impor dari mulai januari-juni 2018 impor indonesia mencapai sebesar 1.119.797,80 berarti negara ini telah mengeluarkan US$524,49 di tengah-tengah rapuhnya nilai rupiah bukankah jumlah tersebut merupakan jumlah yang fantastis apabila kita bandingkan dengan nilai tukar rupiah saat ini berarti US$1=Rp.14.303 berarti jumlah rupiah yag telah dikeluarkan oleh pemerintah hanya untuk impor beras saja sebesar Rp.7,501,780.47. hasil tersebut melonjak naik dibandingkan dari tahun 2017 pada priode yang sama padahal nilai tukar rupiah sedang dalam keadaan stabil apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya impor 130.992,60 ton atau senilai US$ 65,57 juta atau jika di rupiahkan menjadi US$1=13.560 atau Rp.889,129,2  itu hanya pada komoditas beras selama 2 tahun terakhir, bagaimana dengan impor jagung yang hanya pada tahun ini saja yang mencapai 330,8 juta kg pada periode januari-juli 2018, pada komoditas kedelai hingga april 2018 sebesar 532.000 ton, dan pada komoditas daging indonesia sudah impor dengan sebanyak 100.000 ton naik 81% dari tahun lalu yang hanya 55.000 ton.

Sedangkan jumlah peroduktifitas pangan dalam negri pada komditi beras telah mencapai 47.4 juta ton dengan konsumsi 33.1 juta ton dan neraca 12.7 juta ton dengan harga perkilo Rp.11,500, pada produtifitas jagung hingga juli 2018 hanya mencapai 19 juta ton dari total target 30 juta ton dengan harga Rp.4000 perkilo dan produktifitas kedelai dalam negeri sebesar 982,47 ribu ton biji kering dengan kebutuhan 43% dan harga perkilo Rp.8000, ditengah-tengah acuan pemerintah yang sedang gencar-gencarnya melakukan swasembada kedelai malah melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negri lebih mirisnya lagi dengan produksi daging sapi di dalam negeri pada tahun 2018 sebesar 403.668 to. Namun, perkiraan kebutuhan daging sapi di dalam negeri pada tahun ini sebesar 663.290 ton. Angka tersebut memperihatkan bahwa produksi daging sapi indonesia masih rendah. berdasar hal itu,  kebutuhan daging sapi baru terpenuhi 60,9% dan harga daging di pasaran masih cenderung mahal yaitu Rp.120,000 per kg,

Dengan adanya impor sebanyak itu seharuhnya dapat menekan harga di pasaran namaun tidak pada kenyataannya harga di pasar masih cenderung mencekik bagi ibu ibu rumah tangga menengah kebawah untuk mengatur uang belanjanya dengan rata rata pendapatan penduduk indonesia hanya Rp.47,000,000; pertahun atau hanya Rp.3,900.000 perbulan dan tentunya data tersebut tidak merata bagi seluruh golongan. Dengan penghasilan tersebut sangatlah sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dikarenakan masyarakat saat ini tidak hanya memenuhi kebutuhan primer yang hanya sandang, pangan dan papan namun juga harus memenuhi kebutuhan sekundernya. Menurut pendapat dari kementrian pertanian impor yang dilakuakn di indonesia sebagai wujud penekanan harga terhadap bahan pokok saat ini namun hal ini juga di tanggapi oleh bulog yang menyatakan tentang kebijakan impor di indonesia terutama pada komoditas beras tidak perlu dilakukan impor lagi dikarenakan negri ini mamapu memenuhi kebutuhannya sendiri tidak perlu impor lagi.

Pada saat ini cadangan beras pemerintah (CBP) di perum bulog sebanyak 2,4 juta ton perseptember ini belum sepenuhnya masuk pasar.Beras impor berikutnya akan masuk sebanyak 400 ribu pada oktober mendatang bulog akan membeli hasil petani pada musim gadu (kemarau) dan rendeng (penghujan), sehingga tidak perlu impor karena stok telah mencukupi hingga juni 2019. Izin beras impor pertama di lakuakan pada januari 2018 sebanyak 500 ribu ton dan yang ke tiga pada agustus lalu sebanak 1 juta ton. Namun bulog masih akan melakukan pembelian beras terhadap petani.

Lalu bagaimana dengan indikator kesejahtaraan petani saat ini indeks nilai tukar petani pada tahun ini turun 0.49% ke level 102,56  mengalami penurunanari posisi akhir tahun lalu. Indonesia adalah sebuah negara agraris yang sebagian besar penduduknya bergantung pada sektor pertanian. Namun mirisnya nasib petani dari tanah air tidak mengalami perunahan dari tahun ke tahun, ini terbukti dari indikator kesejahteraan petani.

Data Badan Pusat Statistik NTP pada bualan agustus 2018 berada pada level 102,56, yang berarti turun0,49 dari posisi tahun lalu. Ini mengindikasikan dari daya beli atau kesejahteraan petani sepanjang tahun ini turun menjadi 0,49%. Sementara upah rata-rata riil buruh pertanian pada agustus 2018 hanya sebesar Rp.37.863 per-hari, rendahnya upah buruh tani, minimnya lahan yang dimiliki serta harga jual produk pertanian produk pertanian yang tidak berpihak pada petani membuat indikator kesejahteraan petani belum mampu bergerak lebih jauh.

Meskipun harga-harga pangan sering mengalami kenaikan saat menjelang puasa dan lebaran, tapi tidak berdampak signifikan terhadap para petani. Sebab yang mendapat untung besar adalah para spekulan bukan petani, hal itu akan semakin terpuruk apabila pemerintah melakukan impor saat menjelang panen raya apabila gudang bulog penuh maka beras petani tidak ada yang membeli dan akhirnya petani akan menjual hasil panennya ke pada tengkulak atau pengepul dengan harga yang relatif murah.

Facebook Comments