Hari Lahir Pancasila: Sekadar Seremonial Semata?

Hari Lahir Pancasila: Sekadar Seremonial Semata?

- in Opini
234
0

Kembali kita dipertemukan bulan Juni. Bulan yang berhadapan dengan momentum peringatan hari lahir Pancasila yakni tepat pada 1 Juni sejak ditetapkannya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tahun 1945 melalui pidato sang singa podium atau dikenal dengan nama lengkap Ir. Soekarno. Walau demikian, melansir dari historia.id rezim orde baru pernah secara spontan melalui Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan dan Ketertiban) pernah melarang peringatan Hari lahir Pancasila mulai tahun 1970, melainkan yang dianjurkan diperingati pada saat orde baru adalah Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober. Ini tidak lain merupakan pemenuhan kepentingan politisi yang berkuasa pada rezim tersebut. Namun, Pada 1Jjuni 2016 Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 Presiden Joko Widodo membawa kembali marwah pentingnya mengenang dan menghayati momentum hari lahirnya Pancasila. Beliau menyampaikan keputusan melalui pidatonya bahwa mulai 1 Juni 2017 akan diperingati hari lahir Pancasila dan ditetapkan hari tersebut sebagai hari libur Nasional. Tentu apresiasi besar terhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh Presiden yang tengah menjabat sampai saat ini.

Hemat penulis, antusiasme segenap masyarakat dalam memperingati hari lahir Pancasila tidak tanggung-tanggung disemarakkan, mulai dari kalangan pejabat, akademisi, mahasiswa, bahkan masyarakat yang masih awam terhadap kedudukan Pancasila. Tentu bagi kalangan akademisi maupun pejabat negara, tidak afdol jika tidak terlibat dalam upacara peringatan 1 juni tersebut. Apalagi ada himbauan Kepala Biro Hubungan Masyarakat Badan Kepegawaian Negara (BKN) bahwa PNS wajib ikut Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila sesuai dengan surat edaran bernomor 01 terkait pelaksanaan upacara. (dilansir dari kompas.com). Sementara tidak sedikit dari kalangan mahasiswa yang memperingati kelahiran Pancasila dengan menggelar diskusi public lintas organisasi. Belum lagi bagi aktivis sosial media, dalam waktu luangnya memenuhi sosial media dengan ucapan-ucapan selamat memperingati kembali hari lahir Pancasila. Mulai dari media mainstream hingga media alternative sekalipun ikut berkontribusi menampung aspirasi pegiat-pegiat literasi melalui tulisannya yang cukup menggelitik seputar isu hari lahir Pancasila ini. Harap penulis, sepanjang antusias perayaan-perayaan, semoga saja bukan sekadar seremonial semata, namun lebih mewujud sebagai ajang refleksi sejauh mana kita meyakini Pancasila sebagai dasar negara selama ini. seberapa besar semangat kita mengupayakan diri menjadi generasi yang pancasilais? Atau mungkin belum ada sama sekali ciri khas dalam diri pribadi yang menandai penghargaan kita terhadap Pancasila itu sendiri?

Pancasila sejauh ini rupa-rupanya menjadi semakin asing di era modernisasi ini. Terbukti semakin banyaknya penyelewengan terhadap nilai-nilai Pancasila. Misalnya yang paling beresiko ialah ormas yang ingin mengganti Pancasila sebagai ideologi negara. Padahal, sangat jelas ketentuannya bahwa mengganti ideologi negara berarti membubarkan negara secara tidak langsung. Senada yang dimaksud Yudi Latif yang menganjurkan kita untuk memanjurkan Pancasila kembali. Menurutnya Pancasila saat ini ibarat kitab suci dengan kertas yang rombeng. Di buang takut kualat, dipakai tak lgi terbaca. Terlalu lama terpajang sebagai hiasan seremonial tanpa ketekunan perawatan. Barangkali, tidak disadari sejak sekolah dasar kita telah diperkenalkan begitu idealnya Pancasila dijadikan landasan ideal dalam bernegara. Kita pun telah menghafal secara lantang sila-sila Pancasila melalui guru PPKn. Namun, ini juga yang menjadi keganjalan, jangan sampai Pancasila sekadar hanya dianjurkan untuk dihafal sila-silanya, tanpa melalui pemahaman yang mendalam karena corak pembinaan yang ditanamkan pada masa orde baru hanya bersifat indokrinatif. Padahal justru semestinya kita ditekankan terhadap perwujudan sila-sila Pancasila secara substansial dalam berbagai aspek kehidupan. Berdasar pada sambutan Kepala BPIP pada peringatan hari lahir Pancasila (Jakarta,1/6/19), Haryono menegaskan kita harapkan perdebatan tentang kelahiran Pancasila sudah tidak diperlukan lagi, yang diperlukan saat ini adalaha bagaian kita semua mengamalkan dan mengamankan Pancasila secara simultan dan terus menerus. Sehingga, kita memahami Pancasila tidak secara teoritisnya saja, namun lebih kepada praktik yang sesuai dengan nilai-nilai dasar, yang tidak juga mengabai pada nilai instrumental dan nilai praktis Pancasila tersebut.

Menyelami Pancasila dari Sudut Pendidikan. Tentu pertama-tama dari yang utama kita menengok pada peranan Guru PPKn. Aktor Pendidikan yang bersentuhan langsung dengan materi perwujudan nilai-nilai Pancasila. Sudah semestinya, ada perhatian penuh terhadap metode pengajaran yang dicanangkan Guru PPKn mulai dari tingkat sekolah dasar, sekolah menengah hingga perguruan tinggi sekaligus. Mengingat penanaman dan penguatan moral peserta didik bisa dicapai melalui matapelajaran PPKn. Dan yang tak kalah pentingnya ialah penguatan tugas atau peran Badan Pembinaan Ideologi Pancasila sebagai Lembaga yang paling legitimate dalam membidani sosialisasi atau pembinaan Pancasila. BPIP patut berkaca bahkan mengapresiasi kabupaten purwakarta yang menggagas Sekolah Ideologi Kebangsaan (2016) yang cukup berhasil memasyarakatkan Pancasila. Di sekolah Ideologi Kebangsaan, generasi muda banyak memperoleh wawasan luas tentang pengaplikasian Pancasila mulai dari TNI, Polri, Pemuka agama hingga tokoh-tokoh inspiratif. Yang paling menarik dari pelaksanaannya ialah dilakukan kajian Kitab Kuning dan dihadirkan mantan narapidana terorisme sebagai pemateri guna mencegah tindakan radikalisme kedepannya.

Selain itu, perlunya kesadaran diri dari segenap lapisan masyarakat, bahwa sudah semestinya kita melestarikan nilai-nilai dasar yang tercantum pada Pancasila, sehingga setiap kita berlaku selalu saja membentengi diri dengan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan serta keadilan sekaligus.dari Penulis sendiri:

Darah bangsa adalah darah yang Pancasilais. Teruskan cita-cita luhur pendiri bangsa melalui pengamalan nilai-nilai Pancasila, jangan sampai kita memaknai Pancasila hanya sampai pada hafalan teks dari sila ke sila nya semata.

Selamat Memperingati Hari Kelahiran Pancasila.

Semoga kita termasuk dan tercatat dalam sejarah sebagai generasi yang mengupayakan generasi pancasilais.

Penulis adalah Susi Susanti
Mahasiswa PPKn Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar

Facebook Comments