74 Indonesia Merdeka, Pemuda Sudah Berbuat Apa?

74 Indonesia Merdeka, Pemuda Sudah Berbuat Apa?

- in Opini
196
0

Oleh : Hafid

Hari ini adalah hari bersejarah bagi bangsa kita. Kita telah menyambut hari kemerdekaan Indonesia yang ke 74. Dalam historical bangsa, kemerdekaan bangsa tidak semerta merta didapatkan dengan kemudahan begitu saja. Namun sarat akan pertumpahan darah dan nyawa para pahlawan dalam perjuangan.

Penjajahan kaum kolonials terhadap bangsa sangatlah memakan waktu cukup lama. Dimulai dari penjajahan bangsa portugis sampai jepang bukanlah memakan waktu yang singkat. 350 tahun belanda menjajah dengan misi 3G nya, dan kurang lebih 50 tahun jepang menjajah dengan misi “tanam paksanya”. Penderitaan dan kesengsaraan rakyat kala itu cukup membuat bangsa ini menderita.

Soe Hok Gie mengatakan, “kemerdekaan adalah ibarat gedung yang kosong, dan perlu diisi dengan hal hal yang bermanfaat”. Pendapat Gie ini cukup relevan untuk kita renungkan. Apakah kita telah mengisi dengan sesuatu yang bermanfaat atas kemerdekaan ini? Atau justru bangsa lain yang mengisinya? Hal itu jangan sampai terjadi.

Dewasa ini kita sudah berbuat apa saja untuk mengisi kemerdekaan kita? Apa yang sudah kita berikan untuk membayar jasa pahlawan yang telah rela mengorbankan nyawanya untuk kemerdekaan bangsanya?

Kita tidak boleh menganggap remeh temeh terkait kemerdekaan bangsa ini. Peran pemuda sangatlah dibutuhkan untuk terus mengawal kemajuan bangsa ke arah yang lebih progresif dan gemilang. Waktu 74 tahun akan sangat sia sia jika hanya dihabiskan dengan bermain game dan bersenang senang saja. Tentu itu semua perlu bekal pendidikan dan pengetahuan yang cukup untuk mengawal progesivitas bangsa.

Pemuda jangan sampai terlena dengan fasilitas, walaupun saat ini secara kuantitas terbilang cukup banyak, dirinya harus terus menerus meningkatkan kualitas.Beberapa hari yang lalu penulis sempat mengikuti sarahsehan kebangsaan dengan beberapa tokoh kota malang, yang bertempat di kopi tani, kabupaten Malang.

Salah satunya adalah mas Barka, seorang mantan Aktivis HMI dan kini telah menjadi dosen di Universitas Brawijaya. Dalam pertemuan itu kita membahas tentang arah gerak pemuda dalam mengawal kemerdekaan bangsa. Beliau menyampaikan, “Kita mendapat bonus demografi dan itu akan kita panen pada 2045. Namun untuk hal ini marilah generasi muda harus mempersiapkan dengan matang. Supaya saat merayakan panen kejayaan bangsa nanti, kita tidak menanggung dosa akibat tidak bisa memaksimalkan peluang dengan baik akibat bobroknya generasi muda bangsa”.

Dalam sarahsehan tersebut juga dihadiri perwakilan anggota DPRD provinsi Jatim, Ibu Bu Sri Untari yang sekaligus menjabat sebagai Sekjend PDIP JATIM, dirinya juga menyampaikan keprihatinan terkait kondisi sosial budaya anak muda dewasa ini. Hal itu disampaikannya dengan sangat gamblang saat sarahsehan tersebut,
“Perkembangan anak muda zaman sekarang banyak yang menyimpang daripada budaya asli Indonesia, marilah kalian semua generasi muda. Kembalilah ke budaya kita Indonesia. Tidak kebarat-baratan, tidak ketimur tengahan, tetapi tetap pada budaya asli melalui sejarah bangsa kita”.

Diantara beberapa tokoh tersebut juga dihadiri oleh pihak dari TNI yaitu Pak Didik Hartono
Perwakilan Dandim 0818
Kab Malang, beliau mengatakan dalam pendapatnya, “Tampilah anak muda, negara mewadahi, institusi mengamankan, namun masih dalam koridor nilai-nilai kebaikan.” Artinya, hal ini merupakan lampu hijau bagi kita generasi muda. Beberapa elemen bangsa telah menyambut baik arah gerak kita sebagai generasi muda. Pemerintah telah siap menfasilitasi, dan aparat telah siap untuk mengamankan segala karya dan semangat perubahan generasi muda. Yang perlu digaris bawahi adalah SDM yang unggul sangat diperlukan untuk mengawal kemajuan bangsa.

Soekarno pernah mengatakan, “Berikan aku 10 orang tua, maka akan kucabut Semeru se akar-akarnya. Berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia!”
Kalimat agitasi yang dinyatakan Soekarno tentu bukan tanpa pertimbangan atas apa yang dikatakannya. Dirinya sangat meyakini bahwa pemuda merupakan aset berharga sebuah bangsa. Yang mana posisinya sangatlah strategis dalam membawa kemajuan di tingkat dunia.

Segala perubahan dan pergerakan bangsa semua selalu melewati pertimbangan pemuda. Tidak heran, jika jatuhnya rezim tahun 98 adalah bukan lain akibat pergerakan pemuda. Sikap idealis dan tidak pernah kopromi merupakan ciri ciri seorang pemuda. Apapun yang diangggap merugikan rakyat akan disingkirkannya tanpa tedeng aling-aling.

Gubernur Jakarta, Anies Baswedan pernah berkata “Anak muda memang minim pengalaman, namun mereka menawarkan masa depan”. Saya sebagai penulis sangat apropreasi akan statement tersebut. Pemuda memang tidak kaya akan pengalaman, namun sejarah selalu membuktikan peran pemuda adalah agen perubahan yang mampu mengaktualisasikan dengan baik perubahan bangsa di masa depan.

Lantas apa yang perlu ditingkatkan bangsa Indonesia untuk mengisi kemerdekaan? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut tentunya ada sebuah korelasi terkait PR bangsa yang perlu diselesaikan terlebih dahulu. Supremasi hukum yang masih belum jelas, inovasi teknologi yang harus menguntungkan masyarakat, literasi yang perlu ditingkatkan dalam kehidupan masyarakat, dan yang paling vital adalah “pemberantasan korupsi” yang perlu terus digencarkan. Karna point terakhir itulah yang selama ini masih menjadi permasalahan yang cukup menghambat arah reformasi bangsa.

Jika PR sudah mampu diselesaikan, maka kemajuan akan lebih mudah mudah untuk digapai. Karena sudah tidak ada beban yang mengintai. Hingga pada akhirnya kemerdekaan dapat diisi dengan hal hal bermanfaat, dan perjalananan menuju kemajuan bangsa kita akan lebih landai.

Mungkin ini adalah opini pribadi dari penulis, yang masih banyak kekurangan dan akan dengan senang hati jika ada kritik maupun masukan.

Dirgahayu Indonesiaku ke-74
Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Pemudanya
Untuk Indonesia Raya.

Facebook Comments