Elit Kapitalis Memanfaatkan Islam Sebagai Label Pasar

Elit Kapitalis Memanfaatkan Islam Sebagai Label Pasar

- in Opini
118
0
Fajar Irawan

Hal apa yang tak laku dipasaran jika dibumbui dengan kata-kata islami(identik dengan islam)? Yaaa tidak berlebihan jika pertanyaan itu di cap provokatif, Namun kiranya mari kita bedah hal tersebut supaya kita tidak cenderung menjadi umat islam yang reaksioner. Indonesia sebagai negara yang mayoritas dihuni oleh penduduk beragama islam tentu merupakan suatu sumber potensial bisnis berkedok Islam.  Potensi tersebut nampaknya disadari dengan sepenuhnya oleh elit kapitalis untuk mengeksploitasi secara penuh potensi tersebut. 

Coba kita telisik sedikit dari kemunculan bank syariah, bukan bermaksud untuk memancing amarah teman-teman yang berada pada sircle tersebut tapi jika kita berani untuk buka-bukaan maka sebagian besar bank syariah di Indonesia lebih menghisap daripada bank konvensional.  Apakah itu yang disebut sebagai nilai-nilai yang dibawa oleh islam? Jelas tidak, islam sama sekali tidak menganjurkan penghisapan/pemerasan dalam bentuk apapun. Nampak jelas bahwasanya label bank syariah adalah upaya sebagai pengelabuhan belaka.

Dari Bank syariah kita sedikit beranjak pada produk-produk “islami” mulai dari pakaian renang syariah, pemilihan putri syariah,  shampo khusus pengguna kerudung, hotel syariah, pegadaian syariah,  dan masih banyak produk lainya, hampir semua hal pada saat ini ada versi syariahnya mungkin suatu saat nanti muncul kondom syariah atau bahkan prostitusi syariah. Tidak cukup sampai pada hal-hal yang sifatnya konsumtif, bahkan kulkas pun ada yang dilabeli halal, jelas tujuan diberikanya label halal pada kulkas tersebut pastinya untuk menarik calon konsumen yang beragama islam. Kendati demikian bisa jadi  jikalau ditilik lebih jauh yaitu dilihat dari segi corak produksinya bisa jadi kulkas tersebut menjadi haram jikalau upah buruh tidak sebanding dengan tenaga yang diperas oleh perusahaan yang dalam hal ini bisa dikatakan perusahaan tersebut telah melakukan sesuatu tindakan yang tidak manusiawi.

Fenomena maraknya produk-produk “syariah” menandakan bahwa sebagian besar umat islam masih bisa terbuai dengan hal-hal tidak substansial yang dibumbui oleh agama. Memang tidak sepenuhnya salah akan tetapi hal itu alangkah baiknya umat islam mengetahui bahwa hal tersebut belum tentu sepenuhnya menerapkan sistem islam, hal tersebut mungkin pula hanya strategi dagang yang akhirnya bertujuan untuk mengumpulkan capital belaka. Hal tersebut sebisa mungkin harus diketahui sejak dini oleh kalangan umat muslim supaya tidak terjebak pada simbol-simbol belaka yang hanya menguntungkan pemuja capital.

Dalam hal ini penulis bukan bermaksud  anti kepada produk-produk yang berbau “syariah/islam” namun penulis menekankan pada esensi daripada tujuan dibuatnya produk tersebut. Perlu digaris bawahi jikalau esensi dari islam bukan sekedar pada pemanfaatan suatu produk yang berbau “islam” tanpa mengetahui inti daripada produk tersebut. Calon konsumen khususnya umat islam haruspaham betul bahwa kalanganya (umat islam di Indonesia) adalah target pasar yang sangat menggiurkan karena secara kuantitas sangatlah banyak.

Jikalau tindakan atau “labeling islam sebagai produk pasar” terus terjadi maka secara perlahan nilai-nilai luhur dari islam akan sedikit demi sedikit tereduksi, oleh karena itu umat islam harus paham akan perilaku keji elit kapitalis yang ingin memanfaatkan nilai jual dari islam.

Produk-produk yang mengatas namakan “islam/Syariah” secara kasat mata memanglah tidak menghawatirkan namun jikalau ditelisik lebih jauh maka terdapat beberapa hal menghawatirkan terkait maraknya produk-produk yang berbai “islami”. Melalui analisa penulis adapun hal-hal yang penulis maksud ialah terjadinya perilaku mabuk agama dalam kalangan umat muslim yang akhirnya akan menjadikan islam jauh dari substansinya. Perlaku menghegemoni yang dilakukan oleh e;lit kapitalis perlu kita lawan dengan penyadaran kepada setiap umat muslim supaya nilai-nilai luhur dalam islam tetap terjaga. Lain dari pada itu perilaku konsumtif terhadap barang-barang yang ber label islam akan menjadikan umat islam tak ubahnya pundi-pundi penghasil capital bagi kaum elit keji tersebut, Maka dari itu umat islam harus sadar dengan sepenuhnya akan adanya perselingkuhan yang dilakukan oleh elit kapitalis dengan memanfaatkan nilai-nilai islam.

Menyikapi hal yang demikian perlu kesadaran aktif dari setiap pribadi umat muslim supaya  mampu mengubah hal itu sebagai kekuatan umat islam, umat islam di Indonesia perlu melawan balik sikap elit kapitalis yang menjadikan Islam sebagai objek. Umat islam harus mampu membalikkan keadaan supaya islam kembali kepada fitrahnya. Islam perlu menunjukkan taringnya sebagai agama yang tidak bersifat konsumtif dan kembali menjadi mesin perlawan yang mmapu mendobrak kejamnya gerbang penindasan yang dilakukan oleh elit kapitalis nan bengis. ISLAM SELAMANYA HARUS MENJADI AGAMA ANTI KEMAPANAN DAN MENAJADI AGAMA PEMEBEBASAN BAGI SEMUA UMAT!!!!!!

Facebook Comments