HMI Hadir untuk Generasi yang Hilang Arah (Mengabdi dengan Kesederhanaan, Mewah dalam Pikiran, dan Kiprahnya untuk Ummat dan Bangsa)

HMI Hadir untuk Generasi yang Hilang Arah (Mengabdi dengan Kesederhanaan, Mewah dalam Pikiran, dan Kiprahnya untuk Ummat dan Bangsa)

- in Opini
227
0
Raffi Bahri, Wasekum PTKP Komisariat ISIP Korkom Universitas Muhammadiyah Malang

72 tahun sudah hmi berkiprah sebagai organisasi mahasiswa, hmi telah banyak melahirkan   banyak tokoh bangsa dengan kemampuan intelektual di bidang politik,ekonomi,hokum,sosial dan budaya. Berbicara terkait organisasi mahasiswa hmi merupakan organisasi mahasiswa tertua di Indonesia, dengan sejarah yang begitu panjang hmi bukan saja melahirkan tokoh bangsa di era kontemporer ini namun hmi juga melahirkan pahlawan yang  berperan dalam melawan dan mengusir penjajah kala itu. Lewat tangan ayahanda lafran pane lah hmi berdiri sejak 5 februari 1947 sampai dengan 2019. Berbagai dinamika telah dilewati organisasi tua ini, namun dalam kenyataannya hmi masih saja banyak melahirkan mahasiswa-mahasiswa yang mempunyai militansi dan kompetensi dalam berbagai bidang ilmu.  

HMI adalah organisasi perkaderan dan perjuangan. Praktek Perkaderan dan perjuangan yang dimaksud tidak menekankan pada aspek materil, melainkan aspek non-materi berupa aspek intelektual dan spritual. HMI hadir justru sebagai wadah bagi Mahasiswa untuk memperdalam dan mengamalkan wawasan keagamaan (Islam), keilmuan, pengalaman sekaligus sebagai ruang belajar bagi para mahasiswa untuk membina diri agar mampu mengenal bahwa dirinya adalah manusia. Itu yang utama. Kalaupun nantinya, mahasiswa yang pernah menjadi anggota HMI bisa berperan besar dan lahir sebagai tokoh besar itu hanyalah manfaat turunan yang tidak mutlak. Tidak mutlak maksudnya, HMI tidak bisa menjamin bahwa semua anggotanya akan menjadi tokoh besar dan tidak bisa mengaku-aku tokoh besar yang mantan aggota HMI itu 100% produk HMI.

HMI sebagai sebuah organisasi yang lahir atas kepentingan umat dan bangsa, tidak boleh meninggalkan umat dan bangsa dalam setiap kiprahnya. Sering kali aktivitas HMI  menyentuh kepentingan kepentingan masyarakat di level bawah secara luas sehingga HMIada dalam keberadaannya di masyarakat. Peran hmi yang bergerak secara lebih ril pada kebutuhan atau masalah mendasar masyarakat. catatan persoalan persoalan besar soal kemandirian,  kepemimpinan dan menyatunya HMI pada umat dan bangsa adalah catatan penting bagi saya untuk HMI di usia yang ke 72 tahun.

Masalah HMI yang mendasar itu mampu diselesaikan persoalan persoalan lain sebagai anasirnya pun akan tuntas. Jika kita mampu menuntaskannya maka HMI akan menjadi besar dan kuat pada usianya yang semakin bertambah. seperti petikan pada lagu Hyme HMI yaitu ” Bahagia HMI ” akan bisa di wujudkan, seperti kata buya Syafie Maarif HMI akan menjadi anak Sejarah bangsa.

Sebenarnya HMI memiliki kekuatan dan format serta arah perjuangan yang jelas sebagai panduan gerakan. Dalam salah satu buku yang ditulis Prof Dr Agussalim Sitompul (baca: indikator kemunduran HMI) sejak lahirnya HMI 5 Februari 197, HMI memiliki citra baik positif maupun negatif. Sisi positif antara lain HMI merupakan organisi mahasiswa Islam tertua dan terbesar di Indonesia yang memiliki banyak anggota dan alumni. Turut memberi andil besar bagi pembentukan cendikiawan muslim dan berkontribusi terhadap pembinaan generasi muda Indonesia sehingga turut memberi andil bagi pembangunan bangsa dalam bentuk pemikiran. Secara kultural HMI dapat mengembangkan pemikiran-pemikiran yang inovatif dan telah melakukan alih generasi dengan tertib, serta banyak dipublikasi oleh media.

Di usia 72 tahun pada 2019 ini, kader HMI harus semakin berani melakukan gerakan baru (new movement) sebagai langkah strategis untuk mengatasi berbagai problematika yang sedang menggerogoti dalam tubuhnya sendiri dengan tetap menjadikan pengarusutamaan ilmu pengetahuan sebagai basis gerakan agar dapat mengharumkan nama baik bangsa dengan mempertahankan negara dari “penjajahan” pada era milenial.

Idealnya, HMI sebagai lokomotif gerakan mahasiswa intelektual tercerahkan mampu tampil dalam memberi sebuah keyakinan kepada bersama dalam mengubah kehidupan yang dinamis dan membantu untuk mencapai kesadaran diri serta mampu merumuskan cita-cita bangsa. Dalam lapangan pengabdian masa kini, amar makruf tak bisa lagi sekedar mengandalkan semangat berkobar saja, namun juga mensyaratkan wawasan keilmuan mendalam dan kemampuan teknis yang mumpuni. Keduanya menjadi prasyarat dari profesionalitas dalam sebuah bidang spesialisasi. Tentu bukan profesional yang tinggal di menara gading, namun seorang spesialis yang tekun dan konsisten, yang membaktikan kemahirannya secara tulus dalam memecahkan masalah kemasyarakatan. Membincang HMI adalah membincang wajah-wajah optimistis bagi keindonesiaan. Tidak saja karena sejarah HMI, pada tapal-tapal sejarah dan momentumnya yang paling menentukan, berjalin erat dengan sejarah bangsa ini. Juga karena HMI akan terus menjadi ruang belajar bagi mahasiswa Islam untuk mendidik diri dan berkontribusi aktif bagi pembangunan bangsa.

Sebagai kaum intelektual, HMI mempunyai tugas untuk merevolusi, memberi sumbangsih pemikiran intelektual disertai gerakan sosial profetik berdasarkan atas landasan-landasan terdalam dari keyakinan masing-masing dan dilengkapi dengan sumber-sumber yang paling kaya untuk dijadikan sebuah pencerahan dan cita-cita bangsa.

HMI memiliki tanggung jawab besar di negeri ini. Yakni, sebagai upaya menentukan sebab-sebab (perantara) kemajuan masyarakat di bawah paradigma keber-Tuhan-an Yang Maha Esa. Kader HMI wajib mampu hidup bersama dengan masyarakat kecil dan mencoba mencari solusi kesulitan-kesulitannya, baik ekonomi, pendidikan, agama, dan mengenai persoalan yang berkaitan dengan perubahan sosial ke yang lebih baik.

Bicara soal HMI adalah bicara soal rakyat, dan perjuangan HMI adalah perjuangan untuk kepentingan masyarakat luas dalam ridha Allah Swt. Bagi kader HMI keberpihakannya terhadap mustad’afiin atau merupakan doktrin yang wajib melekat dalam diri seorang kader. Itu adalah wujud keimanan dan kesaksian seorang kader dalam menegakkan kebenaran Ilahi, yang dilaksanakan melalui kerja keumatan. Kesadaran tersebut harus menjadi landasan kerja-kerja kader HMI. Bila “mandat langit” itu tidak mampu dijalankan, janganlah pernah mengaku seorang kader insan cita.

Merawat Indonesia adalah kewajiban Merawat HMI adalah keharusan. Dengan harapan Himpunan Mahasiswa Islam menjadi harapan bagi Masyarakat Indonesia dengan terus melahirkan generasi yang mampu mengemban amanah sebagai kader umat dan kader bangsa.Dari para pahlawan lah kita diajarkan tidak ada usaha dan keberhasilan tanpa jeripayah.

Untuk Itu mari bergabung HMI dan harus kembali pada pelukan umat dan bangsa dalam gerak organisasi. HMI yang sering di istilahkan sebagai korp hijau hitam harus selalu bersama rakyat dan mengabdi dengan kesederhanaan, namun mewah dalam pemikiran dan kiprahnya bagi umat dan bangsa,

Yakinkan dengan iman, sampaikan dengan ilmu, usahakan dengan amal.

Yakin Usaha Sampai

Facebook Comments