Asap Dan Sengsara

Asap Dan Sengsara

- in Opini
138
0

Azab Dan Sengsara adalah cerita dari novel klasik karya Merari Siregar terbitan Balai Pustaka yang bercerita tentang kasih tak sampai antara Aminuddin dan Mariamin karena kemiskinan, budaya dan ketamakan. Kisah api asmara pilu yang membawa kesengsaraan. Bukannya menikah dengan pujaan hatinya, Mariamin malah dinikahkan oleh bapaknya yang mata duitan dengan lelaki kaya bernama Kasibun yang bengis, suami yang hanya menyakiti Mariamin selama hidupnya. Sebaliknya, Aminuddin pun juga dijodohkan dengan perempuan lain, lantaran orang tuanya yang terpandang tidak bisa menerima wanita yang tidak sederajat dengan keluarganya. Padahal Mariamin adalah cinta sejati dari Aminuddin. Cerita berakhir dengan duka lara kematian Mariamin, karena sesak hati dan beban penderitaan yang tiada berkesudahan. Itu sepenggal alur cerita “Azab Dan Sengsara” yang juga pernah di angkat menjadi serial sinetron di televisi.

Bukan hanya api karena asmara saja yang berakibat sengsara. Sekarang Api karena kebakaran pun bisa meluaskan kesengsaraan. Kebakaran hutan di Sumatra bukan azab, tetapi asap yang membawa kepedihan di mata juga hati nurani. Sebuah kisah klasik berulang dari kebakaran atau dibakarnya hutan yang selalu meninggalkan jejak pilu, bukan hanya rasa sesak di dada tetapi juga penderitaan karena pencemaran dan polusi udara. Asap tebal menggulung melumpuhkan sekolah dan aktivitas masyarakat. Gelap terasa pekat karena simbol kehidupan dari sang matahari yang tertutup kabut asap. Asap adalah produk samping yang tak diinginkan dari nyala api dan bisa berujung pada kematian. Sebuah pola dari musim kemarau yang cenderung berulang dari sebuah ketamakan korporasi, mindset budaya agraris yang keliru, dan hati yang gersang. Ini darurat kesengsaraan.

Bukan rahasia umum bahwa para pemodal asing berada di balik bisnis kebun-kebun sawit Indonesia, sektor yang di duga banyak terkait dengan kebakaran hutan. Banyak investor asing dan pemodal besar domestik di balik beroperasinya kebun-kebun dan pabrik pengolahan kelapa sawit di Indonesia. Asumsi bahwa lahan memang sengaja dibakar sebagai bagian dari proses pembersihan tanah (land clearing) terkait juga dengan klaim asuransi untuk tahap penanaman berikutnya (yang secara ekonomis menguntungkan) perlu diselidiki. Korporasi jelas tidak boleh melulu mengejar profit, tetapi juga harus memberdayakan masyarakat dan melestarikan bumi. Kongkalikong antara pemerintah daerah dengan korporasi atau pemodal dan pembakar hutan harus ditelusuri, karena masyarakat yang terkena dampak buruknya. Kerakusan korporasi yang berlindung di balik regulasi pemerintah membuat bumi rusak dan gap kemiskinan yang semakin melebar.
Kekuasaan yang bersekutu dengan korporasi, cenderung tidak malu menjual murah lahan negerinya sendiri. Negara wajib bertindak karena investasi bukanlah untuk menghancurkan bumi dan manusia yang tinggal di dalamnya, tetapi untuk memberikan kehidupan yang lebih baik, bukan kering dan tandus seperti cerita dalam Azab dan Sengsara.

*Penulis adalah Igor Dirgantara, Dosen Fisip Universitas Jayabaya.

Facebook Comments