Mahasiswa dan Minimnya Literasi

Mahasiswa dan Minimnya Literasi

- in Opini, Pendidikan
76
0
Ilustrasi
Mahasiswa setingkat lebih tinggi dibandingkan siswa dan telah beranjak menuju kedewasaan ilmu dan kebebasan untuk benar-benar memilih arah masa depan dan orientasi pendidikannya. Maka dari itu, sepatutnya, mahasiswa juga harus beranjak dari belenggu pencekokan ilmu selama hampir 12 tahun, dan harus bijak memilih ilmu yang akan ditelan dan menjadi spesifikasinya. Sehingga pada fase ini, kemahasiswaannya benar-benar menjadi pijakan awal dalam menentukan masa depan karirnya.
Apabila diulas, seharusnya jumlah mahasiswa yang sekian ribu jumlah lulusannya tiap tahun mampu setidaknya meminimalisir angka kemiskinan, atau minimal tidak menambah deretan angka pengangguran terdidik di Indonesia. Namun kenyataannya, Sumber daya manusia dari golongan intelektualis masih minim sumbangsihnya dari sekian juta mahasiswa.
Demikian peliknya persoalan pengembangan kualitas mahasiswa, tidak dapat dilepaskan dari faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswa dan lingkungannya. Serta kebiasaan yang membudaya yang menurut penulis menjadi faktor lambannya perkembangan intelektualitas mahasiswa. Padahal kualitas SDM menjadi salah satu indikator majunya sebuah bangsa. Faktor yang hendak ditekankan dalam tulisan ini adalah mirisnya literasi di kalangan mahasiswa.
Pertama, minimnya perhatian terhadap budaya membaca dan menulis. Dalam beberapa seminar yang diadakan di banyak kampus selalu menekankan mahasiswa untuk serius membaca dan menghasilkan karya tulisan, terutama karya ilmiah atau penelitian ilmiah. Namun, realitanya tidak demikian. Sudah menjadi kebiasaan di kampus, bahwa mahasiswa hanya melakukan 2 hal itu ketika mendapat perintah dari dosen pengampu. Tidak atas dasar keinginan pribadi.
Kedua, minimnya perhatian terhadap karya. Salah satunya dengan kebiasaan mahasiswa memplagiasi karya orang lain. Virus plagiasi ini menjadi kebiasaan terburuk dan hampir mengakar. Hal itu karena minimnya perhatian dari dosen dan pihak kampus. Seharusnya plagiarisme sangat tidak diperbolehkan, karena selain itu merupakan kejahatan, perbuatan itu juga membodohi dan menambah kedunguan mahasiswa. Seharusnya anti plagiarisme ini ditekankan dari tingkat terendah, misalnya pada proses pembuatan makalah bagi mahasiswa semester awal, agar merrka terbiasa menulis dari hasil kemampuannya sendiri.  Walaupun segelintir dosen atau kampus sudah melakukannya, tetapi mayoritas masih abai terhadap hal itu. Pun dengan adanya alat pendeteksi plagiarisme, hanya di kalangan akademisi setingkat dosen dan kalangan di atasnya.
Mahasiswa perlu dipaksa agar terbiasa membudayakan membaca dan menulis. Selain itu karena tugasnya sebagai agen perubahan, melainkan juga agar mereka lebih kreatif dan bertanggungjawab. Apabila tidak dengan tulisan, atau dengan aksi nyata, lalu bagaimana mereka merealisasikan pelabelannya sebagai agen-agen yang lain, atau pelabelannya sebagai intelektualis. Meskipun persoalan Mahasiswa cukup banyak untuk dikaji. Penulis menilai bahwa 2 hal di atas adalah masalah yang cukup serius. Apalagi ditengah kepelikan persoalan digitalisasi yang merongrong mentalitas mahasiswa.
*Penulis adalah Rofiatul Windariana, ia merupakan kader HMI IAIN Madura yang juga aktif di LPM Activita IAIN Madura

Facebook Comments