Refleksi Sumpah Pemuda: Kesadaran terhadap Tanggung Jawab Moral 

Refleksi Sumpah Pemuda: Kesadaran terhadap Tanggung Jawab Moral 

- in Opini
51
0

Refleksi Sumpah Pemuda: Kesadaran terhadap Tanggung Jawab Moral 
Oleh: Rofiatul Windariana Mahasiswi IAIN Madura. Ia aktif di organisasi ekstra kampus, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) 
 
Dalam ingatan sejarah, kemerdekaan Indonesia turut diupayakan oleh para pemuda. Perjuangan-perjuangan melawan penjajahan juga tidak luput dari sumbangsih semangat nasionalisme pemuda. Terbukti dengan lahirnya banyak organisasi kepemudaan dalam memperjuangkan persatuan dan kemerdekaan, beberapa di antaranya, muncul nama organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Disusul Serikat Islam pada 10 September 1912. Hingga dibentuk beberapa kongres pada tahun 1926, sebagai bentuk keseriusan dalam menyatukan semangat seluruh elemen masyarakat untuk mensinergikan langkah perjuangan. Dipertegas dan dikokohkan dengan lahirnya Sumpah Pemuda pada  28 Oktober 1928  melalui  ikrar  pengakuan atas jati diri dan identitas organisasi kepemudaan.  Ikrar itu sebagai saksi bahwa pemuda memutuskan menyatakan sikap untuk menyatukan perjuangan atas rasa senasib seperjuangan, tidak sebagai perkumpulan organisasi kedaerahan, melainkan atas nama perjuangaan membentuk negara kebangsaan. Demikian merupakan integrasi persatuan para pemuda setelah sekian lama terpuruk dalam belenggu penjajahan. Alhasil, 17 Agustus 1945, menjadi puncak perjuangan hingga dicapai kemerdekaan, suatu langkah pembebasan dalam menentukan nasib sendiri, dan kemerdekaan hidup di atas tanah air sendiri, yang tentunya tidak dapat dilepaskan dari peran pemuda, idealisme pemuda.
Rentetan cuplikan sejarah di atas sejatinya telah diselipkan dalam kurikulum pendidikan  dari sejak menginjak bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, atau bahkan di bangku perguruan tinggi. Akan tetapi tidak menjamin tertanamnya substansi sumpah pemuda atau esensi dari perjuangan pemuda. Hal itu sangat diwajarkan mengingat bahwa ada distansi waktu yang cukup jauh dan tranformasi yang cukup signifikan antara masa perjuangan kemerdekaan dan pasca kemerdekaan. Ditambah dengan kepelikan revolusi digital dan modernisasi yang perlahan menggerus nasionalisme pemuda. Sehingga pemaknaan atas perjuangan itu hanya sekadar formalitas, minimal dengan ucapan dan poster yang tersebar di banyak media sosial.
Kompleksitas persoalan pemuda kian rumit ditengah tantangan globalisasi, lebih pelik dibandingkan melawan serdadu dengan bersenjatakan tombak atau bambu runcing. Karena pemuda di masa lalu, siap mati demi NKRI. Sedangkan saat ini, terlalu rumit untuk dapat digambarkan gerakan pemuda yang murni atas dasar nasionalisme atau yang hanya sekadar pejuang popularitas. Singkatnya, banyak sekali persoalan yang tengah merongrong mentalitas pemuda saat ini. Baik dari faktor internal maupun eksternal.
Tentu tidak dapat dinafikan bahwa banyak sekali organisasi-organisasi kepemudaan yang terbentuk saat ini yang bergerak di berbagai  aspek, baik dalam peningkatan  literasi maupun dalam aksi turun ke jalan. Ke semuanya bergerak atas dasar kesadaran bahwa memang seharusnya pemuda tidak hanya sekadar penikmat kemerdekaan, melainkan sebagai penerus perjuangan mempertahankan NKRI. Namun, sebagaimana halnya di masa lalu, penulis menilai kurangnya sinergitas dan solidaritas antar lintas organisasi kepemudaan, minimal dalam satu daerah. Padahal keberagaman tersebut justru dapat saling melengkapi dan mempercepat tercapainya tujuan, (perlu digaris bawahi) apabila mereka memiliki kesamaan tujuan dan cita-cita. Selain itu, organisasi-organisasi tersebut selama inikurang mendapat perhatian dari pemerintah.
Selain persoalan organisasi kepemudaan, persoalan sekaligus ancaman bagi mentalitas pemuda adalah kurangnya kreativitas, inovasi dan budaya konsumtif. Sehingga pemuda atau masyarakat secara umum hanya berperan sebagai konsumen produk luar yang meniscayakan terselipnya budaya asing. Maka dari itu, pemuda perlu melirik peluang kemajuan IPTEK atau teknologi agar mampu bertahan dan tidak menelan mentah-mentah budaya-budaya luar.  Akulturasi budaya atau gesekan budaya luar menjadikan pemuda atau yang sering disebut milenial abai terhadap nilai-nilai luhur bangsa. Sehingga mereka mudah sekali terbawa arus negatif, semisal LGBT, Narkoba, dan budaya-budaya negatif lainnya. Dampaknya adalah mulai tergerusnya nilai-nilai moral bangsa (degradasi moral).
Tantangan yang juga menjadi persoalan adalah kesiapan memasuki Bonus Demografi  sekitar 10 tahun mendatang, yang menempatkan  pemuda di usia produktif sebagai populasi penduduk terbesar dari jumlah total penduduk Indonesia.  Tentu hal itu dapat menjadi ancaman bagi seluruh elemen masyarakat, dan akan bersinggungan langsung dengan persoalan pengangguran terdidik yang masih tinggi di negara ini. Serta akan berdampak pada persoalan lainnya, seperti kemiskinan dan angka kriminalitas.
Maka dari itu, seharusnya momentum sumpah pemuda ini dijadikan pengetuk kesadaran  bahwa mereka mengemban tanggung jawab moral atas bangsa ini.  Mereka sebagai pemegang tonggak estafet perjuangan pemuda-pemuda di masa lalu. Mereka mengemban amanah untuk turut memberikan manfaat bagi masyarakat dengan kapasitas keilmuan yang mereka kuasai, dan dengan kemampuan diri yang mereka miliki. Memaksimalkan fungsi agen of change, dan Agent of social control yang melekat dalam identitas mereka sebagai pemuda.
Pemuda perlu berpegang teguh pada  Pancasila dan noma-norma agama. Serta mengupayakan fungsi sebagai pengawas kebijakan-kebijakan pemerintah agar tetap dalam koridor tercapainya kesejahteraan rakyat. Pemuda perlu sadar, kritis dan tegas terhadap segala bentuk penyelewengan agar dibentuknya aturan dan kebijakan kembali pada fungsi yang semestinya. Dan supaya pemangku kebijakan tersadar bahwa pemuda tidak mati suri dan masih bernyawa untuk meneruskan perjuangan pemuda yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda. Di samping itu, perlu disadari oleh pemuda yang masih menginjak tanah air yang sama dan menghirup udara kemerdekaan yang sama, bahwa penjajahan yang sesungguhnya adalah lunturnya nasionalisme dan nilai-nilai luhur bangsa. Sehingga sebagai upaya perjuangan, pemuda perlu berdaya dan berkualitas. Serta berjiwa nasionalis.
Perlu diingat bahwa tragedi rasisme beberapa waktu lalu merupakan penghianatan terhadap sumpah pemuda, karena (sekali lagi) perjuangan kemerdekaan bangsa yang dinikmati seluruh warga Indonesia saat ini diupayakan tanpa mendiskreditkan identitas ke suku-an, tanpa membedakan ras dan agama. Sehingga cukuplah momentum sumpah pemuda ini menjadi pengingat dan pengobar semangat nasionalisme pemuda, serta semangat persatuan menuju Indonesia yang lebih baik di masa depan.

Facebook Comments