Mempertegas Visi Kebangsaan HMI

Mempertegas Visi Kebangsaan HMI

- in Opini
124
0

Mempertegas Visi Kebangsaan HMI

Oleh: Romadhon Jasn : Ketua Bidang Kemitraan BUMN PB HMI & Kandidat Ketua Umum PB HMI Periode 2020-2022

Romadhon Jasn, Ketua Bidang Kemitraan BUMN PB HMI & Kandidat Ketua Umum PB HMI Periode 2020-2022

Orang berakal adalah dia yang paling jauh pandangannya tentang akibat dan akhir dari segala sesuatu” (Pepatah Arab)

Keinginan kuat Lafran Pane mendirikan HMI meski mendapatkan berbagai hambatan menunjukkan Lafran muda punya pandangan yang jauh ke depan terhadap masa depan bangsa dan generasi mudanya. Tak ayal hingga kini HMI masih terus hadir dalam setiap lekuk dinamika bangsa dan negara.

Bersama kawan-kawannya yang juga visioner, Lafran muda mendeklarasikan organisasi mahasiswa Islam. Organisasi baru ini diproyeksikan kelak akan terus bermanfaat bagi ummat dan bangsa. Menjadi mata air yang terus mengalir, mendidik kader-kadernya agar mengabdikan diri sepenuhnya untuk kepentingan umat dan bangsa. Serta menjadi benteng terakhir bagi siapa saja yang hendak mengubah falsafah berbangsa dan bernegara.

Lafran muda pasti sangat paham, perkumpulan yang dibangun atas rasa kecewa dan kemarahan tidak akan bertahan lama. Dengan berbagai penolakan dari beragam elemen kala itu, Lafran tetap sabar memberikan pemahaman. HMI harus hadir untuk menjawab problematika umat dan juga bangsa.

“Rekan-rekan boleh menyatakan setuju dan boleh tidak, hari ini adalah rapat pembentukan organisasi mahasiswa Islam, karena semua persiapan yang diperlukan sudah beres”, demikian Lafran mengawali pembicaraan.

Jelang 73 tahun HMI, adalah usia yang cukup lama bagi sebuah komunitas. Itu artinya Lafran muda kala itu memiliki niat yang ikhlas membidani lahirnya himpunan ini. Setiap zaman telah dilalui, ada tantangan di setiap etape kepengurusan. Dari Orde Lama hingga pasca reformasi, tentu dengan masih adanya HMI hari ini membuktikan bahwa umat masih membutuhkannya. Dan, rakyat masih percaya bahwa HMI punya andil besar mengisi perjalanan bangsa ini.

Pasca dibai’at menjadi anggota biasa, semua kader HMI diberi beban yang sama untuk mengemban tanggungjawab sebagai kader ummat maupun bangsa. Dua beban ini bukan merupakan alternatif atau bisa dipilih salah satu di antara keduanya. Menjadi kader ummat dan bangsa adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kader, harus meluruskan motifnya berproses. Meletakkan kepentingan ummat dan bangsa dalam satu konsep final untuk diperjuangkan.

Gejolak sosial politik dalam maupun luar negeri termutakhir menghadirkan tantangan serius bagi perjalanan HMI ke depan. Institusi ini harus terus didorong untuk mereformasi lembaga agar tetap relevan dengan kebutuhan dan tantangan zaman. Ini tak lain agar HMI bisa terus menjawab problematika ummat dan bangsa dengan kaidah-kaidah kemaslahatan yang kompatibel.

Di awal lahirnya, HMI sudah menjadikan rakyat sebagai objek yang mesti diangkat derajat dan harga dirinya di muka dunia internasional. Keutuhan bangsa sebagai spirit utama untuk terus diperjuangkan. Bagi kader HMI, mempertahankan keutuhan NKRI adalah semangat awal yang dirumuskan dengan begitu sungguh-sungguh oleh pendiri HMI, sehingga menjadi keharusan bahwa setiap kader harus selalu ada dalam tarikan spirit mempertahankan Indonesia juga turut serta memperjuangkan Indonesia adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Di tengah situasi gegap gempita mengisi proklamasi kemerdekaan, musuh justru mengkhianati perjanjian dan melakukan agresi militer. Dalam situasi bangsa yang cukup tegang dan genting inilah, HMI hadir bersama semua elemen pecinta bangsa untuk mengangkat senjata melawan agresi militer dengan perang gerilya. Bagi HMI, sekali merdeka tetap merdeka. Indonesia harus terus tegak, berdiri sekuat tenaga.

Komitmen keumatan dan kebangsaan inilah yang mendorong HMI berada pada barisan paling depan dalam menjaga keutuhan NKRI. HMI akan terus menentang setiap gerakan apapun yang ingin memecah belah keutuhan bangsa. Komitmen ini adalah pertanggungjawaban sejarah yang tidak bisa ditawar, sekali Indonesia tetap Indonesia.

Dengan cara fikir yang demikian itu, tidak sedikit yang menganggap HMI berdiri satu barisan dengan kelompok sekuler dalam menolak penyatuan agama dan negara. Pandangan yang demikian tentu sangat keliru. HMI dalam menjalankan setiap agenda organisasinya tetap menjadikan Islam sebagai sumber nilai, motivasi serta inspirasi. Bagi HMI, falsafah berbangsa kita sudah sangat Islami. Dilalui dengan perdebatan panjang oleh para pendiri bangsa di sidang BPUPKI maupun PPKI. Hasilnya adalah Pancasila sebagai “Jalan Tengah” untuk menyatukan setiap perbedaan.

Dalam praktiknya, HMI menjadikan konsep-konsep Islam yang inklusif agar selalu relevan dengan semangat ke-Indonesia-an. Cara demikian adalah bahagian dari ikhtiar sungguh-sungguh HMI agar keutuhan bangsa ini selalu terjaga hingga tercapainya masyarakat adil makmur.

Tragedi kemanusiaan yang terjadi di hampir seluruh dunia Islam akhir-akhir ini mestinya menjadi catatan kritis bagi perjalanan HMI. Sebab, beban keumatan harus juga menjadi tanggungjawab yang tidak bisa ditinggalkan oleh HMI. Apa yang salah pada dunia Islam? Bahagian mana yang harus diubah? HMI harus melakukan apa? Pertanyaan-pertanyaan reflektif ini harus dijawab sungguh-sungguh.

Satu dari sekian penyebabnya masih seputaran gerakan radikalisme agama yang terus diternak tangan-tangan gelap untuk menghancurkan negara-negara berpenduduk Islam yang sebelumnya telah berdaulat. Gerakan global ini, terus mengorganisir diri mencari celah masuk di setiap jengkal negara di dunia, termasuk di Indonesia.

Dengan demikian, sangatlah penting bagi HMI sebagai organisasi mahasiswa Islam agar mengambil peran sentral meredam setiap upaya yang bertujuan mengubah ideologi bangsa ini. Dengan ke-Islam-an HMI yang inklusif ini bisa menjadi virus untuk meredam setiap penetrasi yang dilakukan oleh orang atau lembaga yang memiliki pemahaman atau niat memecah belah bangsa.

Gerakan memengaruhi generasi-generasi Islam agar terus mencintai dan menjaga keutuhan bangsa adalah proyek besar HMI yang harus dituntaskan sekarang dan di masa-masa yang akan datang. Meluruskan pemahaman bagi individu maupun organisasi yang terdampak pemahaman menyimpang atau salah dalam menafsirkan konsep-konsep agama bukan saja menjadi tanggungjawab pemerintah, tapi juga tugas kesejarahan HMI yang sifatnya fardu a’in.

Facebook Comments