Meraba Masa Depan HMI untuk Ummat dan Bangsa

Meraba Masa Depan HMI untuk Ummat dan Bangsa

- in Opini
269
0

Oleh : Romadhon Jasn (Ketua Bidang Kemitraan BUMN PB HMI & Kandidat Ketua Umum PB HMI Periode 2020-2022)

Di setiap kemenangan dalam sebuah pertempuran pasti ada syarat-syarat menang yang terpenuhi. Begitu juga ketika mengalami kekalahan, pasti ada sebab. Sebabnya adalah tidak memenuhi syarat-syarat untuk menang. Begitulah siklus hidup yang berlaku bagi individu maupun komunitas.

HMI saat lahirnya sudah mendeklarasikan diri sebagai sebuah lembaga non profit, semua kadernya diberi beban yang sama. Melakukan proses perkaderan demi keberlangsungan lembaga ini di masa-masa yang akan datang. Banyak sekali organisasi yang bubar, kini hanya menyisakan puing sejarah akibat dari proses perkaderan yang tidak berjalan secara maksimal.

Ini alasan yang kuat kenapa HMI masih ada, meskipun di setiap pergantian kepengurusan di tingkatan komisariat sampai Pengurus Besar selalu ada gejolak. Dengan berhasilnya HMI melewati setiap etape gejolak itulah kader-kadernya semakin teruji mentalnya di semua tingkatan pengabdian. Di setiap peringatan Dies Natalis HMI, semua kader dianjurkan untuk merefleksikan perjalanannya sejauh ini. Beban apa saja yang sudah  dimenangkan, mengevaluasi sebab-sebab kekalahan. Memproyeksikan ulang agar kader HMI terus menang di masa yang akan datang .

Gerakan sosial di masyarakat adalah gerak untuk memperoleh pengakuan akan identitasnya. Sebab, pengakuan adalah salah satu kebutuhan mendasar manusia, kata Axel Honneth seorang filsuf Jerman. Pernyataan Honneth ini cukup kompatibel dengan semangat HMI dalam mengajarkan kader-kadernya untuk mengabdikan diri di semua sektor dan lapisan. Meskipun, terdapat beberapa kejadian yang mendistorsi semangat awal lahirnya HMI. Tapi secara umum, gerak HMI adalah gerak agar diakui kontribusi konkritnya untuk ke-Islaman dan ke-Indonesian .

Jelang 73 tahun HMI, sebuah usia yang matang akibat menempuh perjalanan yang tidak singkat. Jika dibanding dengan usia republik dan kontribusi HMI untuk mengisi kemerdekaan, kita belum terlalu jauh dalam mengayunkan langkah. HMI harusnya sudah melakukan imajinasi baru. Memulai sebuah mimpi yang diproyeksikan dengan sungguh-sungguh dan menjawabnya. Tantangan ke depan semakin besar, syarat-syarat untuk menang juga semakin berat.

Itulah sebabnya, satuan waktu yang kita gunakan untuk memproyeksikan kejayaan HMI di masa yang akan datang haruslah panjang. Jika kita menginginkan bangsa ini terus ada 1000 tahun lagi, HMI harus sudah berimajinasi melampaui usia bangsanya. Merancang agenda-agenda besar jangka panjang.

Tahun 1978 Deng Xiao Ping meletakkan tahapan penting dari keberhasilan ekonomi China sekarang. Dia berani melakukan transformasi besar-besaran di China, berpindah dari sistem komunisme-sosialisme ke sistem yang lebih terbuka, dengan menerima masuknya kapitalisme. Merubah negara besar yang penduduknya sangat banyak tapi sangat miskin ini menjadi kaya raya.

Xiao Ping membuat rencana yang lumayan panjang. Tujuh puluh tahun dengan mengevaluasinya setiap 10 tahun sekali. Sebelum China merubah dasar negaranya, terlebih dahulu mereka mengukur jarak mereka dengan negara-negara maju seperti Amerika dan negara-negara Eropa dalam bidang ekonomi, teknologi, dan militer. Jarak itulah yang dijadikan titik tolak dan pemicu bagi setiap pergantian rezim di China untuk mengejar ketertinggalan.

Tahun 2019 kemarin, China lakukan evaluasi atas rencana mereka dalam mengejar ketertinggalan yang sudah berjalan hampir setengah abad. Dan hasilnya, China yang dulunya adalah negara miskin itu kini bermetamorfosis menjadi sebuah kekuatan baru yang cukup disegani dunia.

Pelajaran yang bisa diambil oleh HMI dari sebuah langkah besar yang dilakukan Xiao Ping di China adalah penggunaan satuan waktu yang panjang dalam merancang agenda besar HMI ke depan. Terutama dalam konteks mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Rancangan agenda jangka panjang itu bertujuan agar  HMI tidak berjalan di tempat. Pergantian kepengurusan tidak hanya siklus tahunan yang tidak menghasilkan apa-apa. Tapi momentum yang cukup strategis untuk memulai.

Malik Ben Nabi seorang filsuf Aljazair mengatakan “keberhasilan besar dalam sejarah selalu berkaitan dengan besarnya gagasan sebagai pemicu keberhasilan tersebut”. Xiao Ping tidak hanya menggunakan satuan waktu yang besar, tapi juga dia cerdas meletakkan gagasan besarnya dalam menatap masa depan China yang kita lihat sekarang.

Saat kita ingin mendeklarasikan bahwa HMI akan terus ada demi mewujudkan lima kualitas insan citanya. Kita mesti berfikir dalam satuan waktu yang panjang juga. Jelang 73 tahun HMI adalah waktu yang tepat untuk merancang agenda besar dalam satuan waktu yang panjang. Dinamika internal mesti mendewasakan setiap kader. Riak-riak internal haruslah dimaknai sebagai bumbu penyedap dari suatu masakan yang hendak matang. Kita harus sudah selesai secara internal. Agar agenda besar jangka panjang bisa dirancang secara bersama-sama.

Warisan terbaik dari Ayahanda Lafran Pane adalah harapan. Dari harapan itulah yang mendorongnya mendeklarasikan sebuah organisasi yang merepresentasikan mahasiswa-mahasiswi Islam meskipun mendapatkan penolakan dimana-mana. Sebagai kader, kita semua harus bertanggungjawab dalam merawat harapan yang diberikan pendiri-pendiri HMI.

Syarat untuk menang dan tetap bertahan relatif masih kita pertahankan, yaitu dengan terus adanya perkaderan di tingkatan yang paling bawah. Tapi, kita tidak boleh berjalan di tempat tanpa memikirkan alternatif jalan yang lebih cepat untuk menang. Membuat proyeksi jangka panjang agar kita tidak tampak berjalan di tempat.

“Seorang jenderal yang kuat dengan pasukan yang lemah atau seorang jenderal yang lemah dengan pasukan yang kuat adalah pertanda kekalahan.”
Begitu kata Sun Tzu. Antara anggota di lapisan paling bawah dan kader-kader yang diberi amanah berada di posisi-posisi struktural di tingkatan paling atas sampai bawah mesti saling bersimbiosis. Kita harus kuat semunya, tantangan ke depan bagi HMI semakin besar dan menantang.

Baru-baru ini di Malaysia dilangsungkan sebuah pertemuan yang inisiatifnya datang dari Mahatir, Erdogan dan Imran dari Pakistan. Konklusi dari pertemuan itu kira-kira ingin mengeluarkan dunia Islam dari keterpurukan. Memang benar, secara empiris dapat kita lihat bahwa hampir seluruh konfilik kemanusiaan di dunia saat ini terjadi di dunia Islam, korbannya tentu ummat Islam juga.

Belum lagi gerakan islamophobia yang sudah semakin mewabah bukan hanya di dunia barat tapi juga merangsak masuk ke negara-negara Asia, India, Myanmar, China adalah contohnya dan masih banyak negara Asia yang lain. Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang semestinya berperan aktif dalam memproteksi kepentingan ummat Islam justru tidak berdaya dibawah agresi meliter yang dilakukan barat atas dunia Islam.

HMI tidak boleh terlalu lama hidup di pinggir sejarah, realitas hari ini mendesak kita untuk keluar dan lebih bermanfaat lagi. Bukan hanya untuk ummat dalam negeri, tapi juga berguna bagi dunia. Ini adalah saat yang tepat dalam mewartakan penghapusan penjajahan di atas dunia. Dengan Islam inklusifnya, HMI mesti hadir sebagai duta untuk perdamaian dunia.

Masa depan bangsa atau dunia dalam cakupan yang lebih besar ada di tangan anak-anak muda. HMI sebagai organisasi yang diisi anak-anak muda yang cerdas sudah saatnya membuat sebuah lompatan jauh. Sambil memenuhi persyaratan-persyaratan untuk menang dalam menuntaskan beban keummatan dan kebangsaan.

HMI adalah entitas peradaban, elemen penting dari kebudayaan Indonesia. Terima atau tidak, HMI begitu banyak meninggalkan sidik jari bagi perkembangan sejarah Indonesia. Para pendiri dan angkatan awal adalah para ideolog yang meletakkan dasar betapa pentingnya kader harus terdistribusi secara proporsional ke semua sektor.

Secara empiris, hari ini kita dapati kader-kader HMI surplus di wilayah politik dan mengalami defisit di bidang-bidang yang lain, ini juga bahagian penting dari tantangan di masa depan HMI yang perlu serius dijawab. Orientasi perkaderan HMI sudah saatnya dirancang untuk melahirkan kader yang dapat mengisi sektor-sektor yang mengalami defisit. Menjadi pengusaha contohnya, padahal ini juga profesi yang sangat penting dalam menopang terwujudnya masyarkat adil makmur. Meskipun ada satu atau dua organisasi internal yang dibentuk dalam rangka mewadahi alumni-alumni yang berprofesi pengusaha. Belum ada progres yang berarti ke akar rumput (komisariat-komisariat)

Menjadikan HMI mandiri adalah bahagian penting proyeksi masa depan. Agar kita tidak lagi mengandalkan proposal dalam setiap penyelanggara kegiatan. Langkah yang demikian ini, juga bahagian dari mengeluarkan HMI dari keputusan-keputusan organisasi yang kerap mendapatkan intervensi dari luar. Caranya adalah, ke depan kurikulum perkaderan kita haruslah dipikirkan ulang, agar kader tidak hanya menumpuk di satu profesi

Peradaban dunia terus bergerak, tepat seperti diutarakan Samuel Huntington. Peradaban seumpama patahan lempeng tektonik yang terus bergeser dan pada waktunya berbenturan satu sama lain sehingga menimbulkan guncangan hebat. Sudah saatnya HMI mempersiapkan kader-kadernya menghadapi tantangan global.

Disamping itu, rasa-rasanya kita juga sudah mulai kekurangan akademisi. Sepeninggal Cak Nur, Mas Dawam dan sekian alumni angkatan awal yang dikagumi karena pemikiran-pemikirannya yang visioner dan inklusif. Hampir sudah tidak ada lagi ideolog-ideolog HMI sekaliber mereka ( الله يارهم). Kita perlu juga memikirkan ini mulai sekarang. Kader perlu juga di dorong untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Agar setelah pulang dapat memberikan khasanah baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan di dalam negeri.

Rosulullah dengan tepat mendiagnosa kekalahan dan akibat-akibat kekalahan di perang Uhud itulah pasukan Islam selalu menang di peperangan-peperangan setelahnya. Masa depan HMI, kemenagan hanya akan kita raih jika kita betul-betul memenuhi sebab-sebab agar menang

Facebook Comments