Mengeluarkan HMI Dari Perangkap Iblis

Mengeluarkan HMI Dari Perangkap Iblis

- in Opini
480
0

Oleh: Oumo Abdul Syukur (Pernah ber HMI)

Dalam terminologi agama, iblis adalah mahluk yang pekerjaan utamanya menggoda lalu menjerumuskan manusia ke dalam kubangan lumpur dosa. Semakin manusia lalai dan menjauh dari pegangan nilai-nilai agama, sepanjang itulah iblis leluasa menjalankan aksinya. Itu sebabnya sejak jauh-jauh hari saat Adam AS tergoda oleh rayuan iblis, Allah berpesan agar hambanya selalu berpegang teguh pada nilai-nilai agama. Dengan demikian iblis akan pensiun sementara dari tugasnya sebagai penggoda.

Dengan tugas iblis yang demikian itu, manusia harus secara dini mengantisipasi masuknya kepentingan iblis dalam setiap aktifitasnya. Jika tidak maka iblis akan semakin menari-nari akibat perangkap yang dia pasang menjebak manusia. Iblis selalu saja punya 1000 cara dalam menjalankan aksinya, sehingga manusia perlu menyiapkan 1001 langkah dalam menangkal setiap jebakan-jebakan iblis.

Meskipun dalam prakteknya, ada banyak manusia yang kadang mengambil alih profesi iblis dalam menghancurkan setiap tatanan ideal. Berkenaan dengan ini suatu waktu Cak Nun pernah berkelakar, iblis-iblis di Jakarta hijrah ke Jogja dan mengadu kepadanya. Betapa tugas dan fungsi mereka sudah digantikan oleh manusia, akibatnya iblis-iblis itu menganggur.

Dalam relasi sosial, juga kerap terjadi pengambilalihan tugas iblis oleh manusia dalam memuaskan syahwatnya. Dia tidak lagi berpikir jauh apakah tindakannya bertentangan dengan norma agama, merugikan orang lain, menghancurkan lembaga dan lain-lain. Itu sebabnya, secara normatif agama menganjurkan kepada setiap pemeluknya untuk terus saling menasihati dalam kebenaran. Nasihat adalah salah satu dari sekian jalan mengembalikan manusia kepada fitrahnya.

HMI sebagai sebuah lembaga yang dari awal dilahirkan bertujuan untuk menciptakan generasi tangguh diberi beban untuk mengembangkan dan menyebarkan syiar Islam. Namun secara empiris sudah perlahan-lahan masuk dalam jebakan iblis. Banyak anggotanya sudah tak lagi menjadikan generasi awal HMI sebagai contoh yang baik dalam menjalankan aktifitas organisasi. Pedoman-pedoman HMI sekedar sebagai penghias rak-rak buku yang hanya dipakai jika relevan dengan kepentingan diri dan kelompoknya.

Iblis tidak pernah bekerja dalam mendukung niat baik manusia untuk merubah diri dan komunitasnya. Itu logika umumnya. Dengan demikian, kondisi yang dialami HMI akhir-akhir ini adalah upaya iblis dalam menjebak HMI agar hancur dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Banyak literatur sejarah yang memberikan pelajaran kepada kita. Satu dinasti yang besar dan kuat dapat hancur seketika saat anggota-anggota kerajaan sudah mulai saling curiga, mengedepankan kepentingan klannya, diikuti dengan memperebutkan tahta kerajaan dengan saling menjatuhkan, bahkan membunuh satu sama lain.

Demikianlah HMI hari ini, banyak elitnya masuk dalam perangkap iblis yang durjana itu. Perebutan kekuasaan di tingkat pusat diawali dengan operasi cabang-cabang dengan mengiming-imingi uang dan jabatan struktural (ini contoh umum). Ide dan gagasan yang mesti dikedepankan sekedar menjadi pelapis ke dua setelah cabang-cabang yang sudah diidentifikasi pragmatis itu diperdagangkan. Dengan tenang  diamati, inilah awal dari petaka itu menggerogoti aktifitas organisasi.

Jangan bohong, HMI memang sedang masuk dalam perangkap iblis. Awal Februari 1923, Serikat Islam yang besar itu mengadakan kongresnya yang VII di Madiun. Menghasilkan keputusan menambah partai di awal nama Serikat Islam menjadi Partai Serikat Islam.

Ternyata ada gerbong revolusioner di bawah Semaoen dkk menolak hasil kongres versi HOS Tjokroaminoto. Mereka menuduh HOS dan kelompoknya  terlalu kooperatif dengan pemerintahan kolonial. Rivalitas ideologis yg terjadi antara HOS dan Semaoen di internal SI meruncing. Semaoen yang tidak kalah cerdas dengan HOS itu memprovokasi kelompok Islam abangan. Meyakinkan kepada mereka tentang relevansi agama (Islam) dan ajaran-ajaran kiri.

Hasil konfrontasi dan penolakan terhadap kongres Madiun itu berakhir dengan dibuatnya kongres tandingan pada awal maret 1923 di Kota Bandung. Semaoen dkk berganti nama menjadi Serikat Rakyat yang berhaluan Komunis.

Dalam konteks ideologis, terbelahnya Serikat Islam menjadi merah dan putih hampir sama dgn kisah terbelahnya HMI menjadi dua. Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) yang menolak pemberlakuan asas tunggal dan  konsisten dengan asas Islamnya menuduh kelompok HMI (Dipo) terlalu kooperatif dengan rezim Soeharto waktu itu.

Dua kisah perpecahan di atas akibat dari konflik ideologis, juga bahagian dari strategi dalam mempertahankan eksistensi. Di samping itu, faktor yang menjadi penyebab terbelah juga bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Coba lihat apa yang terjadi pada HMI hari ini di struktur paling atas. Mereka memecahkan diri justru akibat dari hal remeh-temeh, tidak ada alasan idiologis jika diperhatikan dengan seksama.

Kali ini iblis lolos lagi menjebak HMI. Perangkap yang dia pasang hampir penuh diisi kader-kader HMI di dalamnya. Jika tidak secepatnya mencari cara untuk keluar, HMI akan perlahan mati terkubur akibat jebakan iblis. Menjelang 73 tahun, adalah momentum untuk merefleksikan ini semua. Dualisme di tingkat pusat harus dicari formulasi yang tepat agar berakhir dengan kongres bersama. Jangan memperpanjang waktu bagi iblis untuk terus berkerja dengan jebakan-jebakan yang baru.

Friedrich Schiller mengatakan, abad kita adalah abad yang besar maka membutuhkan manusia-manusia yang besar. Jebakan iblis pada HMI akhir-akhir ini adalah dilema yang kita alami. Pecahnya HMI sesungguhnya adalah dilema peradaban. Kita akan terus berada di pinggiran sejarah ummat dan bangsa jika terus begini. Hanya “kader-kader besar” yang jiwanya telah tercerahkanlah yang mampu memilih arah yang benar dalam merubah “jalan sejarah HMI”.

Di komunitas sekuat apapun, Iblis selalu menutup jalan pencerahan dan menawarkan jalan kehancuran. Jebakan iblis setidaknya mengingatkan kita bahwa ancaman dan jebakan-jebakan kehancuran ada di depan mata kita apabila kita tidak waspada, salah meletakkan niat, terus-terusan serakah, sombong tidak mau menerima masukan, tidak lagi rasional, tanpa perhitungan yang matang, serta minus strategi. Iblis sedang menertawai kita. “Percuma mereka belajar NDP”, begitu kata iblis.

Dengan semangat anti kolonialisme Soekarno pernah menggabung seluruh bangsa-bangsa terjajah di dunia dalam sebuah gerakan internasional, HMI mesti  mewarisi semangat itu, supaya kita jangan dibuat bertengkar oleh masalah-masalah kecil yang tidak penting. Supaya kita tidak dibuat terpecah oleh perkara-perkara yang membuat kita tidak akan pernah menjadi “kader besar”.

Supaya kita tidak terpisah-pisah oleh sekat-sekat kecil dan tipis di antara kita. Sehingga kita hadir sebagai sebuah komunitas yang besar, punya marwah, disegani karena kesolidan kita. Akibatnya HMI tidak hanya hidup di pinggiran sejarah tapi punya kemampuan bercampur tangan dalam berbagi peristiwa dunia. Ini yang mesti diperkirakan oleh semua kader. Sebesar apa misi kader, sebesar itulah beban yang harus dituntaskannya.

Jebakan iblis, adalah upaya iblis dalam menjauhkan kader HMI dari cita-cita luhur pendirinya. Secara struktural unit terkecil dalam masyarkat (komunitas HMI) adalah individu (kader). Itu sebabnya, perubahan sebesar apapun harus dimulai dari sana: membangun ulang konstruksi berfikir dan kepribadian individu. Dengan demikian, saat menjalankan aktifitas organisasi, yang terpancar adalah pribadi-pribadi yang sudah selesai secara integritas.

Begitulah cara Rasulullah dalam memulai  berdakwah. Beliau melakukan penetrasi ke dalam masyarakat Quraisy dan merekrut orang-orang tebaik di antara mereka. Jelang hijrah ke Yastrib juga merekrut orang-orang tebaik dari Aus dan Khazraj.

HMI harus sudah berfikir demikian, perubahan besar bermula dari sana, dari dalam diri individu (kader) dari dalam pikiran, jiwa dan raganya. Dengan demikian HMI akan akan bebas dari jebakan iblis yang durjana itu. Pendistribusian kader ke posisi struktural yang paling atas, sudah dengan bekal yang memadai. Dia sudah punya kemampuan membedakan mana kotoran mana emas.

Menjelang milad ke-73, HMI sudah saatnya keluar dari jebakan Iblis. Bicarakan ide-ide besar, perbincangkan narasi-narasi yang agung. Tidak lagi bicara janji-janji palsu, tapi memperbincangkan kinerja kader-kader struktural. HMI tidak lagi bicara diferensiasi, tapi mempererat kekompakan. Kader HMI harus bekerja dalam satu tim solid, dan tidak bekerja untuk kejayaan pribadi. Dengan demikian  masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT segera dicapai. Amin. InSyaAllah.

Facebook Comments