Dies Natalis HMI LXXIII

Dies Natalis HMI LXXIII

- in Opini
468
0

Oleh: Oumo Abdul Syukur (Pernah Ber-HMI)

Tujuh puluh tiga tahun HMI. Mestinya sudah lebih dewasa, kadernya tidak bertengkar akibat masalah-masalah kecil. Tidak juga terpecah oleh perkara-perkara yang membuat HMI terus tumbuh di pinggiran sejarah. Tidak terpisah-pisah oleh sekat-sekat kecil dan tipis di antara kader. Kita mesti bersama menyongsong masa depan.

Kesiapan mengalah untuk kebenaran dan tidak membiarkan hawa nafsunya memenangkan keangkuhan, terbuka dan menghargai pikiran orang lain dan bersedia mendengar, tahu kelemahan dirinya dan mengakui kehebatan orang lain. Ini adalah modal dasar yang mesti singgah di setiap kepala kader, agar masalah-masalah kecil lenyap dalam tempo yang sesingkat-singkatnya

Peradaban-peradaban besar adalah karya akumulatif lintas generasi. Itu sebabnya, HMI tidak boleh mewariskan konflik-konflik tak produktif pada kader-kader setelah ini. “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Akumulasi kesalahan hari ini akan sangat berdampak buruk esok, bahkan bisa berakibat hilangnya HMI dari peta sejarah Indonesia. Berdamailah.

Pemberi contoh paling otentik yang mesti menjadi rujukan bagi semua kader adalah Allahuyarham Ayahanda Lafran Pane. Dia tidak pernah bicara jabatan apa yang akan diduduki, karena itu tidak penting. Bagi Lafran jabatan adalah kerja. Ada atau tidaknya jabatan, yang dibutuhkan HMI adalah karya-karya. Ketiadaan jabatan bukan berarti menghilangkan produktivitas. HMI harus tetap ada karena dibutuhkan. Begitu kata Lafran.

Lafran justru rela melepas jabatan Ketua Umum PB HMI serta bersedia menjadi pengurusnya Ayahanda Mintaredja yang menggantikannya. Bagi Lafran, yang penting HMI tetap hidup dan terus tumbuh. Ini sebenar-benarnya motif ber-HMI yang perlu ditiru. Kader jangan seperti anjing yang sedang memperebutkan sepotong tulang. Hingga pada akhirnya kita saling menggigit akibat tidak kebagian makanan. Sampai kapan? Sampai hancur lebur?

HMI mestinya tidak lagi bicara tentang perbedaan gerbong dan afiliasi, tapi bicara tentang persamaan. Umur keberadaan HMI sama lamanya dengan umur kebersamaan para kader. Saat sudah tercerai berai, umur semakin pendek. Banyak imperium yang runtuh dan lenyap diakibatkan masalah ini. Belajarlah.

Kader harus diajarkan agar menyadari masa lalu organisasinya dengan kuat, juga diarahkan agar memahami akar sejarahnya dengan baik. Dengan demikian, dia mampu bermimpi dan memproyeksikan agenda-agenda besar untuk masa yang akan datang. Kita hari ini adalah perkaderan sungguh-sungguh yang dilakukan para pendiri kemarin. Menjadikan “ketawadhuan” mereka dalam menata ulang HMI hari ini saya kira masih cukup relevan.

Kebersamaanlah yang menjadi sebab pasukan Rasullullah dapat menang dengan mudah di Badar. Saat kita bersama-sama memikul beban HMI yang sama, bahkan dunia yang besar ini bisa dirubah menjadi sebuah kampung kecil, tempat kita menciptakan sejarah-sejarah paling mutakhir untuk diwariskan pada dunia. Kebersamaan jugalah, yang kelak akan membuat HMI menjadi bagian penting dari kontributor peradaban dunia yang baru.

Sastrawan, filosof sekaligus politisi besar abad 20, Muhammad Iqbal pernah berucap:
“Walau satu keluarga kami tak saling mengenal
Himpunlah daun-daun yang berhamburan ini
Hidupkan lagi ajaran saling mencintai
Ajari lagi berkhidmat seperti dulu”

Sajak doa Iqbal ini cukup relevan dengan kondisi HMI sekarang. Kader-kader seperti daun-daun yang berhamburan. Di beberapa kesempatan ada instruksi dari pusat (PB HMI) agar tak boleh demonstrasi, kader melawan. Demo sampai ditangkap, dipukul, hingga ada yang dipenjara. Kita cenderung abai, rasa solidaritas hampir hilang. Seolah kita tidak saling mengenal. Kader-kader seperti daun-daun gugur yang diterpa angin, tak ada kekuatan yang dapat menghimpunnya kembali, menatanya seperti ketika ia masih menggelantung pada pohonnya. Ini pekerjaan rumah yang harus dijawab secepatnya.

Kebersamaan (jama’ah) adalah obat sekaligus alat yang diberikan Islam bagi umatnya untuk menghimpun semua yang berserakan. Agar potensi dari setiap individu (kader) dapat dipadukan menjadi sebuah kekuatan yang memiliki daya “ledak tinggi“. Saat bercerai-berai apa yang didapatkan? Justru yang terbaca di luar adalah ketidakmampuan semua entitas HMI dalam mengelola konflik internal.

Kata Imam Ali, “Kekeruhan jama’ah jauh lebih baik daripada kejernihan individu”. Kita harus jaga terus kebersamaan (jama’ah), sebab kondisi seperti sekarang ini sama sekali tidak membuat para pendahulu HMI bangga.

“Di bawah pemimpin yang baik, anak buah bodoh pun ada gunanya. Tapi di bawah pemimpin bodoh, pasukan terbaik pun kocar-kacir.” penggalan kalimat Kang Komar di film Preman Pensiun. Ungkapan ini jika dipikir-pikir ada benarnya, saling menguntungkan dalam kebaikan adalah prinsip dasar dalam beragama. Tugas utama pemimpin adalah menjadi lokomotif yang membawa gerbong ke tujuan yang diimpikan semua orang dalam gerbong yang berbeda. Pemimpin adalah jabatan strategis yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan banyak orang. Prinsip-prinsip dasar seperti ini yang hilang saat ini

Posisi-posisi struktural di HMI bukan untuk dibangga-banggakan, bukan juga dipakai untuk mencari dan mengumpulkan pundi-pundi uang. Tapi digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan Ummat dan Bangsa. Juga adalah jalan untuk mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Dahis dan Ghubara adalah nama 2 orang penunggang kuda di zaman jahiliah. Keduanya adu pacu, kemudian salah seorang dari mereka memukul kuda kompetitornya agar tidak lebih dulu memasuki garis finis. Dari masalah sepele ini timbul perang puluhan tahun antar dua kabilah hingga ribuan orang terbunuh sia-sia karenanya.
Kader HMI jangan seperti orang-orang jahiliah, bangsa yang tidak kenal kata bersatu, tersegmentasi dalam kelompok-kelompok kabilah, tempramental dan mudah terprovokasi. Sejak lahirnya, HMI adalah pelopor pencetak kader-kader berwatak inklusif yang siap menerima masukan-masukan yang konstruktif

Letak kematangan berkader tampak dari keresahannya pada problematika ummat juga bangsa, kader juga dianjurkan mengetahui dan menyadari agenda-agenda besar yang mesti dituntaskannya. Hadir sebagai bahagian dari solusi atas masalah, selalu waspada dan terus mengevaluasi diri atas ancaman infiltrasi dari luar.

Kader harus bersedia mereduksi dan mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadi yang bersifat sesaat demi kepentingan-kepentingan Ummat dan Bangsa yang bersifat strategis dan jangka panjang. Dengan demikian kita akan lupa dengan segala konflik tidak penting yang justru menjauhkan HMI dari tugasnya sebagai kader Ummat  dan Bangsa

Tujuh puluh tiga tahun HMI, sudah saatnya kita memandang betapa pentingnya kebersamaan untuk menciptakan sebuah peradaban agung. Dengan usia tujuh puluh tiga tahun saat ini, HMI harus mengakhiri konflik recehan dan memulai berimajinasi. Sekarang.

Facebook Comments