Pandemi Covid-19 dan Inveksi Terhadap Kuliah Online Mahasiswa

Pandemi Covid-19 dan Inveksi Terhadap Kuliah Online Mahasiswa

- in Opini
378
0
Haziz Hidayat, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Lombok Utara-Malang (HIMLU-Malang)

Serangan corona virus telah merembak ke 200 negara yang ada di dunia. Tak ayal pandemi yang mulai meluas pada akhir 2019 ini telah merenggut jutaan manusia yang ada di dunia ini. Sebut saja, Amerika sebagai negara adikuasapun tak bisa tak bisa menahan serangan dari pandemi covid-19 ini. Dalam data terkini Amerika kasus yang terjadi di Amerika sekitar 394.587  kasus, 12.748 yang meninggal dan 21.674 yang telah sembuh.

Indonesia pun sebagai negara berkembang yang jika di lihat dari aspek georafis yang lumayan dekat dengan asal pandemi ini. Ataupun di lihat dari kacamata antar negara baik dalam bentuk kerja sama perdangan, ketanaga kerjaan dan semacamnya memiliki hubungan yang sangat dekat. Kini telah  terkena dari serangan pandemi Covid-19 ini. Bagaimana tidak dalam data terupdate 7 April 2020 terbilang 2.738 kasus, meninggal sejumlah 204 dan 204 telah di nyatakan sembuh.

Pemerintah Indonesia pun lumayan kewalahan dalam menahan serangan Covid-19 ini. Dapat di lihat dari kebijakan kebijakan yang di terapkan seperti psycal distansing antara warga, membatasi sejumlah jalur lalu lintas antar daerah yang di lakukan hingga keputusan terbaru terkait darurat sipil dalam mengahapi pandemi ini. Pendidikan salah satu korban yang harus di relakan dalam memutus pandemi ini. Dari jenjang Sekolah Dasar hingga Perkuliahan   telah di liburkan selama 14 hari bahkan lebih hingga waktu yang tidak di ketahui.

Ujian Nasional telah di hapuskan demi memutuus penyebarannya dan juga kuliah daring pun di masifkan bagi para mahasiswa guna menghindari kontak fisik antar individu. Dalam menjalankan kuliah daring atau kuliah online tak semuanya berjalan lancar dan sesuai harapan. Banyak kendala yang yang di hadapi oleh semua pihak baik dari pihak mahasiswa itu sendiri begitu juga kendala yang di hadapi oleh pihak dosen.

Kendala dari pihak mahasiswa.

Mengawalinya dari pihak mahasiswa yang di mana di sini sebagai salah satu korban dari wabah ini. Sedikit senang dan banyak susah sudah menjadi santapan yang dihadapi oleh para mahasiswa paska adanya  kebijakan online/daring ini. Memandang dari aspek positivenya tentu saja ada yakni BMM kendaraan berkurang karena tidak bolak balik kampus. Kemudian biaya kos-kosan bisa di potong bagi yang bulanan.

Namun, lebih dari itu dampak negativ justru lebih terasa dalam berjalannya perkuliahan online/daring ini. Diantaranya, bebrapa dari mahasiswa yang masih mengeluhkan terkait layanan jaringan atau internet. Baik yang di berikan oleh kampus ataupun jaringan daerah daerah sediri yang masih tidak sesuai dengan harapan. Kemudian ketidak teraturan jadwal yang ada pun mengakibatkan  tugas yang di berikan oleh Dosen pun rata rata dalam waktu yang bersamaan hingga mengakibatkatkan para mahasiswa kewalahan dalam memulai setiap tuges yang di berikan di waktu yang singkat. Dan juga keterbatasan komunikasi yang sangat terasa di alami oleh mahasiswa terkait dengan penugasan kelompok hingga menyebabkan kecanggungan dann kesalah fahaman antar individu mereka.

Melihat dari sudut pandang yang berbeda, dengan kegiatan yang #dirumahsaja tentu yang di kerjakan bukan saja tentang perkuliahan. Namun, ada orang tua, ada keluarga yang perlu di bantu dalam kesehariannya hingga mengurangi waktu untuk mengerjakan tugas dari dosen. Kemudian yang terakkhir yang sering menjadi bahan kontroversial saat ini dari pihak Mahasiswa adalah keuangan. Baik itu dalam bentuk SPP, DPP,UKT yang tidak nominalnya  entah kemana.

Kendala dari Pihak Dosen

Sekarang beranjak kepada korban selanjutnya sebut saja para dosen yang yang di sini sebagai ujung tombak generasi. Dalam menjalani masa perkuliahan online/daring ini para dosen banyak mengalami kendala kendala. Seperti kurang maksimalnya penyampaian materi karena hanya melalui online/daring saja. karena hanya memberikan sebatas power point dan makalah saja. Pertanyaannya apakah mahasiswa membaca apa yang di berikan tersebut.?

Kemudia dalam menjalani perkuliahan online/daring ini merupakan ajang sekaligus peluang untuk pencontekan copy paste masal yang lebih massif dan lebih besar lagi oleh mahasiswa. Karena minimnya buku acuan ataupun Revrensi yang di miliki oleh  mahasiswa itu sendiri kemudian penutupan perpustakaan perpustakaan kampus ataupun kota.

Belum lagi melihat dosen dosen yang lebih kepada pembelajaran yang bersifat tatap muka karena belum terbiasa dengann alat yang namanya teknologi. Pasti sebuah kepusingan tersendiri untuk merubah konsep dan belajar tentang teknologi dalam beberapa minggu saja.

Solusi

Kemudian sedikit mencari jalan tengah  yang dapat penulis berikan dalam selama perkuliahan online/daring ini. Komunikasi atpun koordinasi harus berjalan lancar baik yang bersifat horinsontal (Mahasiswa=Mahsiswa) ataupun yang bersifat  vertikal (Mahasiswa=Dosen). Dan mengurangi kerja yang bersifat kelompok dengan memperbanyak tugas tugas individu, guna menghindari miss komunikasi antar Mahasiswa.

Kemudiann prihal keuangan, kampus bisa saja mengambil kebijakan dengan melihat situasi dan kondisi saat ini di mana aksesoris kampus tidak di gunakan dan dari aspek keuangan masyarakat sendiri yang menurun secara signifikan. Dengan memberikan pemotonngan pemototongan sekian persen (%) untuk semester selanjutnnya.

Prihal masalah layanan kampus bisa bekerja sama dengan para dosen dosen yang ada, terkait menyatukan layanan mengajar online  yang di gunakan selama masa perkuliahan ini dan kemudian bekerja sama dengan pihak layanan tersebut terkait hal hal semacam ini.

Yang terakhir yang  tidak kalah penting di mana kita semua menjadikan masalah masalah ini terkait dengan meningkatkan kualitas diri baik pada bidang tekonologi informasi, pemanfaatan media yang ada tengah industri 4.0 ini. Dan dari pihak mahasiswa untuk meningkatkan kualitasnya dengan memperbanyakak literasi literasi dengan melalui E-jurnal, google schoor dan semacamnya

Facebook Comments