Tenunan Sarjana (Suatu Tradisi Positif Masyarakat Ternate Alor)

Tenunan Sarjana (Suatu Tradisi Positif Masyarakat Ternate Alor)

- in Artikel
2718
0

Oleh : Rahmad Nasir

(Generasi Muda Ternate Alor)

Cerita tentang perkembangan pendidikan masyarakat Kampung Ternate Kabupaten Alor Propinai NTT diawali dengan tradisi kumpul keluarga jika ada anak yang akan merantau dalam mengenyam pendidikan di Kota. Terutama di Kota Kalabahi, Kupang dan Makassar. Ternate dalam hal ini adalah empat kampung yang ada di Pulau ternate dan satu kampung yang ada di Pulau Buaya (Nuha Kae).

Perlu diketahui bahwa tiga kampung diantaranya memeluk agama Kristen Protestan, sementara dua lainnya memeluk agama Islam, namun hubungan darah kekeluargaan sangat erat sehingga tetap terjalin dengan baik hingga hari ini. Pembuktiannya adalah ada marga/fam yang sama antara yang ada di kampung kristen dan Islam dan dapat anda lihat pada kekerabatan silaturahim saat hari raya keagamaan baik Islam maupun Kristen serta dalam pembangunan rumah ibadah gereja maupun masjid, tentu ini karena hubungan darah yang mengalir dalam diri orang-orang ternate.

Hal yang dirasakan oleh orang-orang Ternate angkatan pertama yang diangkat jadi PNS karena faktor pendidikan yang dahulunya belum terlalu banyak sarjana seperti sekarang ini. Saat sang anak ingin keluar dari pulau Ternate yang letaknya diapit oleh dua pulau besar di Kabupaten Alor yakni Pantar dan Alor, keluarga yang berada dalam suku-suku di Ternate mulai berkumpul dan menyumbangkan uang maupun makanan sebagai bekal sang anak di rantauan.

Tradisi ini semacam arisan sehingga jika ada anak lain yang juga akan berangkat maka tentu yang pernah dibantu juga akan secara moril dan kesadaran balik membantu semacam saat ia dibantu. Rupanya tradisi ini cukup sukses mengantarkan anak-anak Ternate zaman itu untuk suskes di dunia pendidikan dan kembali mengabdi sebagai abdi negara di berbagai bidang kerja terutama di kabupaten Alor, Kota Kupang hingga Makassar.

Tak tanggung-tanggung dari jajaran legislatif, eksekutif hingga yudikatif seperti menjadi jaksa, pejabat level propinsi kepala BPG (dahulu) hingga kepala LPMP, Kepala Sekolah, Camat, dosen, guru, pegiat LSM, tenaga kesehatan, anggota DPRD beberapa periode hingga ada yang menjadi orang nomor tiga di Kabupaten Alor saat itu alias Sekda serta berbagai sektor pengabdian abdi negara lainnya.

Saya jadi teringat dengan cerita yang disampaikan ayah saya tentang perjalanan merantaunya ke Kota Karang juga demikian, keluarga dalam suku berkumpul dan memberikan bekal untuk kepentingannya di perjalanan. Kapal dari Alor ke Kupang hanya sebulan sekali bukan seperti sekarang yang seminggu bisa tiga kali plus dua armada pesawat terbang yang melayani rute Kupang-Alor-Kupang. Dengan demikian, maka pengiriman bekal ke Kupang hanya dilakukan sebulan sekali sehingga bagi anak perantauan harus mencari pekerjaan tambahan untuk menunjang hidup dan pendidikan di Kota Kupang.

Jenis pekerjaan yang mereka dapat diantaranya adalah “proyek borong bangunan”, menjahit sambil numpang bersama orang untuk menghindari membayar uang kos/kontrakan. Konsekuensi tinggal bersama orang adalah harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sebelum berangkat kuliah dan bekerja. Akhirnya beliau berhasil lulus kuliah, lantas diterima sebagai PNS guru di Alor hingga sementara menikmati masa pensiun kini.

Hal yang cukup berbeda pada masa kini adalah, hampir tidak terlihat lagi tradisi kumpul keluarga untuk mengantar/melepas seorang generasi Ternate untuk pergi mengenyam pendidikan di tanah rantau. Wajar saja, karena perkembangan penduduk Ternate baik di Ternate besar maupun kecil sangatlah pesat sehingga masing-masing orang fokus untuk menyekolahkan anaknya secara sendiri-sendiri, kalau pun ada bantuan itu dari keluarga yang sangat dekat.

Kendati demikian, tradisi ini telah berganti dengan tradisi lain yang juga positif karena hampir semua keluarga telah menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Dalam satu keluarga strategi untuk menyekolahkan anak diatur sedemikian rupa sehingga semua anggota keluarga bahu membahu menyekolahkan anak. Sang ayah yang hari-harinya sebagai nelayan serta ikut dalam tradisi mencari (mei ola) hingga keluar perairan kabupaten Alor, Rote, Timor, Flores, Maluku, Timor Leste dan Sumba sementara sang ibu sibuk dengan tenunannya untuk menambah penghasilan keluarga dalam membiayai pendidikan anak-anaknya.

Saat ini hampir tidak ada perbedaan dalam urusan gender yakni laki-laki maupun perempuan sama-sama mendapat kesempatan untuk sekolah/kuliah di tanah rantau, dengan demikian strategi yang dipakai adalah jika yang kuliah adalah anak laki-laki, maka kalau ada saudara perempuannya yang tidak kuliah biasanya ikut membiayainya dengan pekerjaan menenun sehari-hari. Sementara jika yang kuliah adalah anak perempuan, maka saudara laki-lakinya mati-matian bersama sang ayah mencari nafkah di lautan biru menerjang ganasnya gelombang. Kendati demikian, ada juga yang semuanya bisa dikuliahkan. Bahkan jika musim tanam tiba maka ramai-ramai masyarakat ternate meninggalkan laut dan sibuk dengan urusan “kebun” yang letaknya di pulau ternate dan Buaya serta di seberang pulau Alor khususnya daerah Sebanjar hingga Baolang. Masyarakat ternate bisa disebut sebagai nelayan, namun bisa juga sebagai petani. Dengan demikian, etos kerja mereka sangat tinggi dengan tidak menyia-nyiakan segala peluang untuk mendapatkan penghasilan demi menyambung hidup.

Satu hal yang menjadi fenomena adalah peran strategis kegiatan menenun bagi penghasilan keluarga terutama dalam membiayai pendidikan generasi Ternate. Tenun sudah menjadi darah daging perempuan-perempuan Ternate, kini laki-laki pun ikut bergelut dalam aktivitas ini namun pada bagian pemasaran. Jangan heran jika anda bertemu ada orang yang berjalan dari rumah ke rumah (door to door) memakai tas berisi sarung tenun ikat, sendal jepit, jika laki-laki kadang memakai sarung, maka hampir dipastikan bahwa itu orang tua kami dari Ternate. Tak ada kata gengsi/malu dan menyerah meskipun dengan berjalan kaki, berkeringat dan letih dalam menawarkan karya tenunannya kepada masyarakat umum. Jika anda bertanya dengan kalimat “anak bapak/ibu dimana?” hampir pasti jawabannya adalah “oh… sedang kuliah di Kalabahi, Kupang, Makassar, Bandung, Jogja dan sebagainya” bahkan beberapa diantaranya akan menjawab yang sulung sudah bekerja sebagai guru, pegawai dan lain sebagainya. Bahkan dengan menenun, generasi Ternate telah mengenyam pendidikan hingga magister dan doktor.

Baru-baru ini diadakan pertemuan adat dalam bentuk seminar adat di Ternate kampung Umapura yang dihadiri oleh kampung Ternate lain seperti dari Pulau Buaya (Nuha Kae) dan berdasarkan informasi yang didapat bahwa 500-an mahasiswa Ternate sedang kuliah di berbagai tempat di Indonesia. Itu artinya potensi 500-an ilmuan/akademisi yang akan dihasilkan dari kampung Ternate. Ini belum dihitung dengan mahasiswa dari 3 kampung lainnya seperti Ternate Abangbol, Ternate Biatabang dan Ternate Bogakele.
Sarjana bagi masyarakat Ternate dianyam dalam tenunan-tenunan tradisional itu. Mereka tak pernah mengenyam pendidikan formal di jurusan seni dan budaya, ekonomi atau mengenyam mata pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian (KTK) seperti yang pernah diajarkan di SD dulu. Akan tetapi karyanya diakui di pentas nasional bahkan internasional sebagai karya peradaban yang patut diapresiasi. Menenun membutuhkan keahlian, ketekunan, kesabaran terutama dalam memilih dan meracik warna alam yang berasal dari akar-akar, batang pohon, daun dan dari tanaman/hewan laut.

Jika ada momentum expo Alor, orang Ternate sering menjadi juara menenun antara Desa, mereka bahkan beraktivitas dalam kelompok tenun ikat yang diakui pemerintah daerah Alor. Expo Alor menjadi momentum orang Ternate untuk mendapatkan rezeki yang lumayan karena mereka tidak harus berjalan dari rumah ke rumah namun pemburu tenun ikat yang datang sendiri, kebanyakan dari mereka adalah bule-bule luar negeri yang sangat suka dengan tenunan asli dari kapas yang dipintal sendiri serta dengan pewarna alam. Biasanya mereka tak menawar jika bertemu dengan sarung seperti ini.

Menenun bagi kami masyarakat Ternate telah melekat dan menjadi budaya, bahkan kampung kami telah dijuluki kampung tenun ikat dan telah tersohor ke luar negeri. Semoga tetap lestari karena dengan lestari budaya ini maka sarjana kami akan semakin banyak dan berkualitas. Salam levo tanah.

Facebook Comments