Majalah Dinding Sekolah ; Peningkatan Minat Baca Tulis Siswa di Kalabahi

Majalah Dinding Sekolah ; Peningkatan Minat Baca Tulis Siswa di Kalabahi

- in Artikel
1762
0

Oleh : Rahmad Nasir (Staf Pengajar STKIP Muhammadiyah Kalabahi)

Majalah dinding atau yang dikenal dengan istilah atau singkatan “Mading” adalah salah satu media penyaluran minat dan bakat para siswa dalam suatu sekolah. Dengan berbagai fitur yang ada dalam mading membuatnya sebagai salah satu atribut sekolah yang dapat menjadi media pembelajaran bagi seluruh warga sekolah khususnya guru dan siswa. Dengan maraknya pembelajaran kontekstual di era kekinian serta menuntut lebih aktifnya siswa dalam proses pembelajaran maka majalah dinding menjadi salah satu alternatif bagi implementasi proses pembelajaran yang lebih mengedepankan kreativitas dari siswa sesuai dengan minat dan bakatnya. (Nasir, 2016).

Berbagai kreasi dan variasi model dan tampilan majalah dinding dibuat dalam rangka meningkatkan keterampilan siswa dalam membaca, terlebih menulis. Siswa diajarkan bagaimana mengelola sebuah media mini seperti mading sekolah, selain itu dilatih untuk meningkatkan kemampuan berorganisasi yakni bagaimana secara efektif dan efisien mengelola media. Diharapkan siswa-siswi yang berkecimpung dalam dunia mading akan mengembangkan pasca lulus dari sekolah. Misalnya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi mengambil jurusan bahasa, sastra, jurnalis atau ilmu komunikasi. Selain itu, kemampuan menulis akan mengantarkan alumni sekolah bisa bersaing dalam dunia akademik seperti kemampuannya menulis karya ilmiah karena sudah terlatih di usia sekolah.

Meski begitu, secara keseluruhan pemanfaatan mading di sekolah-sekolah di Alor belum begitu masif. Berapa sekolah yang benar-benar memanfaatkan mading sekolah. Sekolah-sekolah papan atas di Alor saja pemanfaatan madingnya belum begitu baik dikelola pihak OSIS dan pembina OSIS/OSIM. Putaran edisi penerbitan mading masih tersendat-sendat dikarenakan keterbatasan waktu siswa hingga mungkin saja keterbatasan dana serta fasilitas penunjang. Ada kecenderungan pihak sekolah dan OSIM/OSIS kurang memperhatikan pengelolaan mading sekolah/madrasah.

Untuk itulah perlu didiskusikan bagaimana sebaiknya menghidupkan kembali mading sekolah yang kelihatannya tidak begitu baik dikelola. Bagaimana langkah-langkah taktis yang harus dibuat agar proses pengelolaan mading bisa berjalan sebagaimana mestinya. Serta bagaimana meningkatkan partisipasi siswa dalam menuangkan ide-ide atau gagasan serta kreativitasnya melalui papan mading yang telah disediakan.

Majalah dinding merupakan wahana untuk menerapkan kemampuan siswa terutama dalam bidang tulis menulis. Tulisan-tulisan yang ada di dalam sebuah majalah dinding, pada umumnya merupakan bahan ajar yang ada dalam kurikulum bahasa Indonesia. Pada kurikulum bahasa Indonesia juga terdapat kompetensi seperti penulisan berita, opini, resensi, cerpen, puisi, tajuk rencana, artikel, dan sebagainya. Saat ini perkembangan jurnalistik sangat pesat di kalangan pelajar. Hal itu dapat dilihat dari maraknya perlombaan-perlombaan tentang jurnalistik. Salah satu contoh yang nyata, diadakannya lomba majalah dinding antar kelas di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang dilaksanakan setiap bulan Oktober dalam rangka merayakan Bulan Bahasa. Selain itu, sering juga diadakan lomba-lomba majalah dinding antar sekolah dan antar kelas di lingkungan sekolah itu masing-masing. (Ayu, M.S. Dewi, 2013).

Suharsimi Arikunto (2014) merilis urutan makna pengelolaan majalah dinding meliputi tahapan perencanaan, pelaksanaan, pasca pasang dan penilaian. Jika dilihat dari urutannya maka kegiatan pengelolaan mading merupakan program/sistem yang juga melalui tahapan fungsi-fungsi manajemen sehingga membutuhkan komitmen yang kuat dalam mewujudkan tujuan dari pengelolaan sebuah mading sekolah. Fakta membuktikan bahwa tidak semua sekolah di Indonesia memiliki mading, selain itu beberapa di antaranya yang memiliki mading namun pengelolaannya masih cukup memprihatinkan, namun ada juga yang sudah baik pengelolaannya kendati tetap saja ada kekurangan yang teridentifikasi.

Banyak di antara pengelolaan mading yang bermasalah pada tahapan pasca pasang, hal ini karena setelah mading itu terpasang dalam jangka waktu yang direncanakan maka karya-karya yang ada dalam mading biasanya tempatnya adalah di tong sampah dan nasib akhirnya menjadi abu sisa pembakaran. Padahal hasil mading pasca pasang bisa dimanfaatkan untuk dikumpulkan dan dijilid dalam bentuk bundelan dan diberi judul kumpulan mading edisi tertentu yang pada akhirnya bisa disimpan di perpustakaan sekolah untuk dimanfaatkan lebih lanjut sebagai tambahan pengetahuan siswa dan seluruh warga sekolah bahkan menjadi wadah pengakuan karya siswa dan menjadi kebanggaan dan kenangan tersendiri untuk siswa bersangkutan. Pengelolaan majalah dinding harus dicari format dan pengelolaan yang baik karena menyangkut upaya sekolah membangkitkan kreativitas dan menggali segala potensi siswa yang terpendam.

Faktor penghambat pengelolaan mading sekolah di Kalabahi secara kasat mata dapat dilihat dari belum seriusnya sekolah memperhatikan kerativitas siswa dalam menulis dan membaca dalam ranah ekstrakurikuler. Selain itu, OSIM/OSIS juga belum begitu baik mengurusi mading.
Beberapa cara menghidupkan pengelolaan mading sekolah di antaranya adalah dengan memperkuat struktur OSIM/OSIS dan pengelola mading sehingga dapat bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Selain itu sekolah harus mendukung dalam hal materi maupun moril sehingga fasilitas dan roda perputaran edisi mading dapat berjalan dengan baik.

Salah satu ide menarik lainnya adalah perlu dilakukan perlombaan mading antara sekolah yang bisa difasilitasi oleh Dinas Pendidikan atau Kementrian Agama Agama atau diselenggarakan oleh satu sekolah. Sementara sekolah lain menjadi partisipan. Perlombaan bisa dilakukan pada bulan bahasa sebagaimana sekarang ini beberapa sekolah sedang melakukan perlombaan dalam rangka memperingati bulan bahasa. Ego dan gengsi sekolah bisa menjadi pemicu semangat para siswa untuk berkreativitas melalui mading. Majalah dinding sekolah bisa dimanfaatkan guru mata pelajaran untuk memberikan tugas kepada siswa misalnya mencari atau membuat artikel sederhana yang berkaitan dengan materi ajar yang sedang diajarkan atau melakukan kajian/penafsiran terhadap karya-karya seperti puisi, cerpen, pantun dan lain sebagainya sehingga ada sinergisitas antara ranah akademik dan ekstrakurikuler.

Untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam mengisi karya-karya di mading sekaligus menjadi penikmat mading maka beberapa hal yang harus dilakukan di antaranya yakni keaktivan pengurus OSIM/pengelola mading untuk mengajak para siswa menuangkan ide dan kreativitasnya, selain itu guru-guru juga diharapkan memotivasi para siswa untuk berpartisipasi dalam menuangkan ide-ide dalam pengelolaan mading. Para siswa yang paling rajin menuangkan ide seharusnya diberikan penghargaan oleh pihak sekolah dalam bentuk piagam dan bentuk lainnya sehingga memotivasi siswa yang lain untuk terlibat aktif menulis bahan-bahan mading.

Jika mading yang telah habis masa pasang dimanfaatkan lebih lanjut menjadi kliping dan kumpulan karya mading dalam beberapa edisi dan disimpan di perpustakaan menjadi bahan bacaan maka akan semakin memancing motivasi dan semangat siswa untuk menulis karena merasa karya mereka dihargai.

Daftar Pustaka
Dewi, A.M. Septia, 2013. Majalah Dinding Sebagai Implementasi Kemampuan Menulis Cerpen Siswa Yang Mengikuti Ekstrakurikuler Jurnalistik di SMP N.4 Singaraja. Jurnal Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 1 Nomor 1. Singaraja : Jurusan Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja.

Nasir Rahmad, 2016. Pengelolaan Majalah Dinding di MAN Kalabahi dan SMA Negeri 1 Kalabahi, Kabupaten Alor, Propinsi NTT. Tesis tidak diterbitkan. Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Suharsimi Arikunto, 2014. Handout seminar majalah dinding. Universitas Teknologi Yogyakarta.

Facebook Comments