Penulisan Karya Ilmiah Bagi Para Dosen Pemula

Penulisan Karya Ilmiah Bagi Para Dosen Pemula

- in Artikel
3795
0

Oleh : Rahmad Nasir, M.Pd
Staf Pengajar STKIP Muhammadiyah Kalabahi

Dalam pedoman penulisan karya ilmiah Universitas Negeri Malang (2017) menjelaskan penulisan karya ilmiah merupakan salah satu ciri pokok kegiatan perguruan tinggi. Karya ilmiah adalah karya tulis atau bentuk lainnya dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, atau seni yang ditulis atau dikerjakan sesuai dengan tata cara ilmiah, dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan. Penjelasan ini memberikan gambaran bahwa aktivitas menulis dengan kaidah-kaidah yang sudah ditetapkan secara universal, meskipun ada sedikit perbedaaan jika diterapkan untuk setiap institusi bernama kampus.

Karya ilmiah dimaksudkan untuk mengkomunikasikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat/pihak yang bisa mendapatkan manfaat dari penulisan karya tersebut. Sebagai akademisi seperti dosen memiliki tanggung jawab moral yang besar sebagai ilmuan untuk berkontribusi bagi masyarakat yang juga diamanatkan dalam TRI DARMA Perguruan Tinggi (Pendidikan, penelitian dan pengabdian massyarakat). Kontribusi nyata dari seorang ilmuan dalam bentuk tulisan inilah yang ikut mendinamikai dialektika ilmu pengetahuan (tesis, anti tesis dan sintesa). Saat dialektika pengetahuan terjadi antara para ilmuan lewat tulisan-tulisan dari masa ke masa telah menambah perbendaharaan pengetahuan, pengembangan IPTEKS serta membuka tabir-tabir pengetahuan yang masih misteri selama ini.

Menurut Mukhadis (2015), dalam kegiatan menulis terdapat empat hal pokok yang saling terkait yakni penulis, ide/gagasan, sasaran, dan simbol/lambang bahasa tulis. Keempat hal tersebut memang sangat menentukan kualitas dari suatu karya ilmiah. Selain itu, Tarigan (2013) mendefenisikan menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Saat awal menulis dibutuhkan kepekaan/sensitivitas yang tinggi dari penulis sehingga membutuhkan inspirasi serta keahlian yang diasah secara terus-menerus hingga menjadi sebuah budaya. Khalifah Ali r.a pernah berujar bahwa “untuk mengikat ilmu pengetahuan adalah dengan menulis”. Pramoedya Ananta Toer juga ikut berujar bahwa “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Hal ini sangat logis karena saat seseorang menulis dan menjadi manuskrip seperti buku/koran/majalah/buletin dan sebagainya atau dalam bentuk media online, jurnal online dan sebagainya maka semua karya-karyanya tak akan hilang begitu saja meskipun sang penulis telah tiada/meninggal dunia. Raja Jawa tanpa mahkota (H.O.S Tjokroaminoto) juga mengatakan bahwa “jika ingin menjadi pemimpin besar maka berbicaralah seperti orator dan menulislah seperti wartawan”. Para penulis-penulis besar telah mencatatkan namanya dalam sejarah peradaban manusia. Baru beberapa hari yang lalu seorang ilmuan besar bernama “Stephen Hawking” menghembuskan napasnya yang terakhir, meski begitu karya-karyanya tentang cosmos menjadi perbincangan para ilmuan di erak kekinian.

Tugas menulis itu pun harus diamanahkan di pundak para dosen sebagai bagian dari manifestasi ulama di era kekinian. Untuk menunjukkan jati dirinya sebagai dosen, ia harus menulis. Untuk mengajukan kenaikan pangkat akademik ia pun harus menulis. Untuk mengeksistensikan dirinya di mata publik juga harus menulis. Saat banyak karya tulis dihasilkan tentu modal sosial dengan sendirinya sedang ditabung. Inilah yang membuat kegiatan menulis tak pernah akan sia-sia. Menurut UU Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 2 mendefenisikan dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Beberapa titik poinnya adalah mengembangkan dan menyebarluaskan IPTEKS melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Sekilas terlihat menulis itu mudah lewat membaca karya orang, namun saat pembaca tadi ingin mencoba menulis terkadang terasa sulit.

Kondisi ini dirasakan banyak akademisi pemula sehingga butuh latihan keras dan berkelanjutan. Dari waktu ke waktu sebaiknya kualitas tulisan harus semakin baik. Beberapa kesalahan klasik yang sering dibuat oleh para penulis di antaranya adalah penulisan tanda baca, logika kalimat, problem kutip mengutip teori serta potensi plagiat, penyusunan kerangka tulisan, serta kesalahan teknis lainnya. Jika karya ilmiah yang bersifat konseptual, sering penulis mengalami kesulitan pada kemampuan mengorganisasi teori dan pikiran-pikiran serta pengalaman penulis. Sementara untuk karya ilmiah yang ditulis dari hasil kegiatan penelitian, terkadang penulis/peneliti mengalami kesulitan pada bagaimana membahas tabrakan/kesesuaian antara teori dan kenyataan hasil penelitian.
Pada penulisan karya ilmiah pada level nasional bahkan skala internasional tentu tema-tema yang diharapkan adalah aktual, unik, urgen, universal serta menjadi kebutuhan bagi masyarakat/publik.

Tentu jika bisa memenuhi beberapa kriteria tersebut maka akan sangat berpeluang diterima dan diterbitkan. Tentu jika diterbitkan pada level internasional harus menggunakan bahasa internasional seperti bahasa Inggris, oleh karena kebutuhan akan penerjemah juga menjadi penting. Penerjemah akan mencermati struktur bahasa yang digunakan apakah sudah sesuai atau tidak. Mari para dosen muda terus mengasah diri untuk generasi bangsa. SALAM LITERASI.

Referensi
Mukhadis A, 2015. Kiat Menulis Karya Ilmiah, Bentuk, Anatomi, Isi Esensial, dan Contoh Aplikasinya. Aditya Media : Yogyakarta.

Tarigan H. G, 2013. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Angkasa: Bandung.

Tim Penyusun, 2017. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Universitas Negeri Malang : Malang.

UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Fokusmedia : Bandung.

Facebook Comments