GEMURUH ADZAN DAN DENTUMAN LONCENG GEREJA DI LARANTUKA

GEMURUH ADZAN DAN DENTUMAN LONCENG GEREJA DI LARANTUKA

- in Artikel
2508
0

Kotaku Larantuka, ibu kota kabupaten Flores Timur dahulu disebut orang Kota Sharani. Masyarakat Lamaholot menyebut kota itu bernama Sharani, secara konotatif artinya kota umat Nashrani. Di kota ini terdapat mayoritas umat Katolik. Oleh karena itu di sini berdiri Patung Bunda Maria, pelembagaan situs dan ritus umat nashrani yang terawat dengan baik. Institusi Pastoral, Keuskupan puluhan gereja ada di pusat kota Larantuka. Rumah jabatan Bupati Flores Timur dan Kantor DPRD berada di samping Kantor Keuskupan dan Gereja Besar. Pemandangan ini mengesankan bahwa Larantuka identik dengan Kota Nashrani bagi umat Katholik.

Tetapi tentu Anda tidak menduga kalau di Kota Larantuka terdapat komunitas umat Islam yang berkonsentrasi di sekitar Kampung Postoh, Kampung Baru dan Kampung Weri serta tiga masjid besar yang menjadi pusat aktivitas peradaban dan peribadatan umat Islam. Bahkan di malam hari dari laut kita dapat menyaksikan potret yang mengagumkan, pemandangan dari setiap menara gereja seperti bintang gemerlap mengelilingi Gunung Ile Mandiri.

Namun di setiap lima waktu gemuruh adzan berkumandang dari ufuk masjid Kota Larantuka yang terdengar nyaring seantero kota. Setiap pagi dan petang dentuman lonceng gereja berbunyi memecahkan riuh renda Kota Larantuka. Suara adzan dan gemuruh lonceng gereja saling bertautan seakan ingin menghidupkan Kota Larantuka dari keheningan menuju kota perjumpaan ummat berperadaban agama.

Puisi Sukmawati mengkomparasikan antara kidung atau bait bait lagu dan adzan. Bagaimana mungkin bait lagu mau dibandingkan dengan teks adzan. Teks adzan itu berisi lafadz Allahu Akbar artinya Allah maha besar. Syahadat Tauhid dan Shahadat Rasul, yaitu Asyhadu an laailaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammad Rasulullah. Artinya aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad utusan Allah. Hayya alashsholaah, mari mendirikan shalat, hayya alal falaah, mari menuju kemenangan. Allah Akbar, Allah Maha Besar. Laailaaha illallaah, tiada Tuhan selain Allah. Bisa dibayangkan teks atau lafadz adzan itu berisi kalimat yang thoyyibah, syahadat persaksian seorang mukmin tentang Allah dan Rasul-Nya, mari menunaikan shalat untuk menuju kemenangan.

Bacaan itu disebut adzan karena digaungkan untuk mengundang orang-orang mukmin menemui Tuhannya pada waktu waktu yang ditentukan. Adzan, bukan seperti bait lagu, olehnya tidak pantas disandingkan dengan kidung. Kidung hanya didengarkan untuk sebuah hiburan. Sementara adzan adalah lafadz yang didengungkan untuk mengundang orang menemui Tuhan dan setiap pertemuan dengan Tuhannya akan sanggup mengangkat martabat manusia dari fahsya dan mungkar. Dengan shalat manusia meraih keberuntungan atau kemenangan. Adzan bisa melahirkan keberanian untuk menaklukan musuh, adzan bisa menghancurkan kebathilan. Apakah bisa kidung menghancurkan kedzaliman musuh dan perilaku kebathilan? Bagaimana Sukmawati bisa meletakan “Adzan setara dengan Kidung?” Naudzubillaahi min dzaalik.

Pada zaman Rasulullah di Kota Madinah saking besarnya makna adzan, setiap kali orang mendengar lafadz adzan yang dikumandangkan Bilal Bin Robba, orang-orang musyrik Madinah dan orang-orang Yahudi Madinah tergoncang hatinya sehingga mereka berbondong-bondong bertemu Muhammad Rasulullah untuk disyahadatkan. Untuk di Larantuka gemuruh adzan telah mensenyawakan relasi muslim dan nashrani menjadi persaudaraan antar iman yang tidak saling menggoyahkan. Warga muslim dan nashrani saling menjaga dan melindungi untuk keutuhan dan integritas Lamaholot dan Larantuka.

Umat Islam dan umat Katholik di kota kecil itu saling melakukan perjumpaan dalam kehidupan sosial, baik di pasar, pelabuhan, kantor, sekolah. Kami di sana hidup rukun damai dan tidak saling mengusik. Kehidupan kota tidak terganggu. Apakah umat Katholik terganggu dengan suara adzan? Sepanjang saya lihat tidak ada umat Katholik yang mempersoalkan. Belum lagi bulan ramadhan ayat suci Al-Qur’an dikumdangkan setiap maghrib dan subuh tiba. Tidak ada umat Katholik yang terusik. Kenapa di sini yang mengaku muslim nasionalis yang merasa terusik?

Sekitar pertengahan tahun 2017 yang lalu, saya mendampingi kunjungan Menteri Agama RI, Bapak Lukman Hakim Syaifuddin ke Lamakera dalam rangka peresmian 124 Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah se-NTT yang berpusat di Lamakera. Saat itu bersamaan dengan hari ketiga meninggalnya adik kandung mama saya. Kebiasaan adat kami Lamaholot semua handai tolan, kerabat tetangga datang dan membawa apa yang bisa mereka bawa untuk membantu dan menolong keluarga dalam urusan kedukaan. Tetangga yang Katholik pun datang, teman kantor pun datang. Di dapur saya melihat banyak ibu berpartisipasi, baik yang berjilbab maupun yang berkonde. Mereka membaur saling membantu memasak melayani para pelayat yang membanjiri rumah duka.

Sekitar tahun 2003 saya bersama keluarga, beserta umat Islam sekota Larantuka menunaikan sholat Idul Fitri di halaman Kantor Kepala Daerah Kabupaten Flores Timur. Posisi Kantor Bupati persis di lereng Gunung Ile Mandiri dan berada di tengah Perkampungan Umat Katholik Labao. Gemuruh Takbir, Sholawat, bacaan imam, dan khotbah berkumandang terbuka melalui pemancar menembus rumah-rumah saudara umat Katholik di sekitar situ. Dan satupun mereka tidak ada yang protes.

Sebagai alumnus fakultas Ushuludiin kami hanya berbicara filsafat agama dan perbandingan agama di ruang kuliah bersama para guru besar. Hari itu saya temukan suatu pengakuan akan otentitas dan ketulusan perjumpaan peradaban agama di Kota Larantuka.

Mayoritas ummat Katholik merelakan halaman kantor bupati untuk minoritas muslim menunaikan sholat Idul Fitri. Agama tidak hanya memperdebatkan wacana di mana Tuhan, di mana surga dan neraka, dan kebenaran agama masing-masing. Lebih dari itu, misi kemuliaan agama ialah memberikan ruang perjumpaan manusia yang berbeda pandangan, menghargai perbedaan keyakinan setiap orang untuk menyelenggarakan peribadatan sesuai keyakinan, itulah puncak keberagamaan.

Moga saudara-saudari, kakan arin Lamaholot di Larantuka Flores Timur, sanggup menjadi percontohan atau pelajaran atas perjumpaan setiap perbedaan keyakinan dan pandangan keagamaan. Bahkan sanggup menjadi solusi atas kepicikan yang menegangkan antara Suara Kidung dan Adzan, antara Konde dan Kerudung. Dan kita menjadi titik tengah yang menjamin terselenggaranya perjumpaan pandangan keberagamaan, sebagaimana nama negeri kita Larantuka, yaitu Jalan Tengah.

MHR. Shikka Songge
Direktur Lembaga Kajian Pengembangan Muballigh Indonesia.

Facebook Comments