Rahmat Tuhan (Suatu Kontemplasi Ramadhan 1439 H)

Rahmat Tuhan (Suatu Kontemplasi Ramadhan 1439 H)

- in Artikel
4545
0

Oleh : Rahmad Nasir (Staf Pengajar STKIP Muhammadiyah Kalabahi)

Apakah manusia mengira bahwa amalan pahalamu yang akan menyelamatkanmu di alam akhirat kelak? Atau membawanya menghirup bau surga hingga menikmati fasilitas super nikmat di dalamnya?. Dalam kerangka inilah manusia ibarat sedang menjadikannya semacam bank pahala yang terus ditumpuk sebanyak-banyaknya.

Mungkin tak ada yang menyalahkan jika orientasi pahala menjadi modus dalam melakukan segala tindakan kebajikan manusia sebagaimana keterkaitannya dengan teori motivasi Abraham Maslow, namun di sisi lain apakah benar berkonsekuensi pada selamatnya manusia di alam akhirat. Istilah yaumul mizan sebagai hari timbangan amal perbuatan jika amal kebaikan lebih berat dari amal keburukan maka akan menerima catatan amal dengan tangan kanan yang menandakan nasib baik.

Manusia tidak bisa menjamin bahwa amal kebaikan pasti lebih banyak dari amal buruk. Peluang yang memungkinkan adalah banyak di antara manusia kemungkinan mengumpulkan kebaikan tidak sampai 50% dengan skala maksimal 100%. Konsekuensi dari itu adalah tidak selamatnya manusia kelak di akhirat. Mungkin hanya golongan nabi, sahabat nabi, alim ulama dan pemimpin adil yang bisa berpeluang selamat namun bagaimana dengan kita sebagai manusia biasa?.

Saya meyakini bahwa amal bukanlah satu-satunya faktor yang membuat manusia selamat, melainkan faktor rahmat Tuhan yang bakal menyelamatkan manusia dari nasib buruk di akhirat. Hal ini sebagaimana ilham yang diturunkan pada hamba-hamba yang dikehendaki demikian juga jika disesatkan maka susah bagi faktor lain untuk menyelamatkan.

Saat perdebatan antara kemerdekaan manusia (ikhtiar) dan keharusan universal (takdir) berkaitan begitu erat dalam suatu realitas nasib manusia, sebagian orang percaya bahwa keselamatan manusia hanya karena semata faktor ikhtiar manusia itu sendiri dan ini pun ada dalil-dalilnya. Demikian juga banyak orang yakin bahwa ikhtiar manusia tak sedikitpun menentukkan nasibnya di akhirat namun semata karena faktor kehendak Tuhan tanpa kebebas manusia.

Beberapa orang malah memilih jalan tengah bahwa realitas nasib manusia yang berwujud takdir hidup dikehendaki Tuhan berdasarkan penghargaan Tuhan pada ikhtiar maksimal manusia hingga bentuk tawakkalnya pada Tuhan. Lalu, di manakah seorang hamba harus berpihak?.
Semua argumentasi tersebut memberikan satu perspektif bahwa aliran jabariyah dan qadariyah sampai sekarang memiliki pengikut meskipun mungkin saja tidak disadari manusia bersangkutan. Satu titik penghubung adalah adanya perintah langit untuk melakukan sesuatu dalam koridor teologi. Persenyawaan ikhtiar dan takdir pada akhirnya membentuk satu keputusan realitas apakah manusia itu selamat atau celaka.

Karena defenisi Islam secara istilah adalah “selamat” dan “pasrah/tunduk”, maka dalam konteks ini siapa pun yang berislam secara kaffah akan selamat juga. Ada intelektual Islam seperti Nurcholis Madjid (Cak Nur) yang percaya bahwa agama-agama yang dibawa nabi-nabi sebelum Muhammad SAW juga adalah Islam karena sama-sama percaya dan pasrah pada hukum-hukum ilahiah.

Meski memiliki syariat yang berbeda, namun punya satu prinsip tauhid yang sama. Meski, ilmuan Islam lainnya percaya sebagaimana teori sakral Tuhan bahwa hanya Agama formal Islam yang dibawa Rasul Muhammad-lah yang akan selamat. Pada titik ini, saya lalu percaya bahwa banyak orang-orang sebelum Islam dengan agama yang berbeda secara formal akan selamat juga di akhirat. Hal ini membuat orang Islam kekinian tak harus ego bahwa mereka sendiri yang bakal selamat.

Mungkin saja jika kita ditakdirkan selamat berdasarkan rahmat Tuhan, kita bakalan bertemu dengan orang-orang yang berbeda keyakinan saat di dunia bersama-sama menikmati manisnya telaga di firdaus, empuknya kasur di jannah-Nya Allah dan semua fasilitas mewah nan nikmat lainnya. Apa kita harus heran dan protes terhadap Tuhan?. Apa Tuhan telah menipu kita?.

Peluang manusia selamat berdasarkan amal perbuatan begitu kecil sehingga hanya rahmat Tuhan yang mampu menyelamatkan kita untuk lolos dari kecelakaan paling mengerikan dalam sejarah hidup manusia. Rahmat Tuhan bukan begitu saja datang secara tiba-tiba namun tentu atas niatan tulus menjalankan ibadah kepada Tuhan meski amalnya sedikit.

Keadilan Tuhan bisa saja mengusik nalar manusia tentang kisah ahli maksiat yang semasa hidupnya hanya membangkang perintah Tuhan, namun bertobat sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, lalu Tuhan begitu gampangnya menerima taubatnya dan ditempatkan bersama orang-orang dengan derajat taqwa. Atau seorang ahli ibadah yang malah masuk neraka. Apa ini tidak bertentangan dengan nalar dan rasa keadilan manusia?. Jika demikian maka sebaiknya manusia tidak usah bersusah payah beribadah mengerjakan amal kebaikan karena tinggal menunggu rahmat Tuhan.

Sekali lagi, kecurigaan saya ada pada kualitas ibadahnya yang dalam pandangan kasat mata terlihat minim kuantitas namun mungkin saja secara kualitatif berharga di mata Tuhan, bukankah Tuhan maha melihat?. Niat dan keikhlasan beribadah menjadi sangat penting dan faktor penentu diterima dan tidaknya amalan manusia. Saya percaya bahwa tokoh sufi sekelas Rabiah Al-Adawiyah dengan jargonnya beribadah bukan karena ingin surga dan takut neraka adalah hakikat ibadah yang sesungguhnya, hakikat pencinta yang sesungguhnya. Atau argumentasi membingungkan Shawni dalam kisah “Iblis Menggugat Tuhan” bahwa iblislah makhluk yang paling mencintai Allah karena tak mau tunduk pada selain Tuhan, meski dihadapkan pada pilihan sujud pada Adam As.

Iblislah yang bekerja sama dengan Tuhan untuk mengetahui siapa manusia yang paling mencintai Tuhan dan siapa manusia yang munafik dalam beribadah?. Meski iblis menandatangani pernyataan bermaterai 6000 untuk kekal di neraka, yang terpenting bagi Iblis adalah tetap mencintai Tuhan. Ia dengan bangga merasa paling mencintai Tuhan.

Beberapa kejadian malah membuat manusia bingung, mengapa bisa demikian?. Itulah keadilan Tuhan yang berbeda dengan perspektif keadilan manusia. Bukankah kita yakin bahwa Tuhan maha adil?.
Sekali lagi, mari kita raih keridhoan Allah dengan memohon rahmat Tuhan secara sungguh-sungguh. Orientasi beribadah harus diluruskan bukan karena semata pahal/amal, bukan karena orientasi surga atau karena takut akan neraka yang menyala-nyala.

Mari berhijrah bersedekah karena Allah, puasa karena lillahita’ala, shalat karena cinta pada Allah. Mari menjadi pencinta sejati untuk mendapatkan rahmat Tuhan. Itu saja. Hanya Allah yang maha Tahu.

Lombok, 25 Mei 2018.

Facebook Comments