Islam Tidak Hanya Soal Halal-Haram

Islam Tidak Hanya Soal Halal-Haram

- in Artikel
173
0
Fajar Irawan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sejak kemunculanya Islam  identik dengan agama yang revolusioner serta menolak segala bentuk penindasan. Sejarah mencatat sejak Muhammad SAW. hal paling mencolok dari islam selain tauhid ialah semangat yang revolusioner, bahkan hal itu dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Islam dan semangat revolusioner ialah dua hal yang bertautan erat. Kendati demikian semangat revolusioner dan penolakan terhadap segala bentuk penindasan mengalami kiranya sekarang kurang disuarakan dalam dakwah-dakwah yang dilakukan oleh sebagian agamawan, terutama yang sering berseliweran di layar kaca televisi nasional.

Gerakan revolusioner dalam tubuh islam diakui ataupun tidak telah mengalami degradasi, Sebagai contoh paling sederhana munculnya fenomena agamawan “halal-haram”. Sebagai agamawan sudah seharusnya mereka berperan sebagai awal atau sumber mata air revolusioner ditengah-tengah umat, namun fakta dilapangan bertolak belakang. Sebagai perbandingan sederhana kita ambil contoh di stasiun televisi nasional, nampak jelas bahwasanya sebagian besar agawaman yang mengisi  ceramah (atau dalam bahasa islaminya dakwah) di stasiun televisi berbicara hanya mengenai “halal-haram”, apakah itu salah? Tentu saja tidak (Jika saya mengatakan itu hal yang salah tentu saya sudah di cap kafir) namun terdapat some thing wrong akan hal itu. Jikalau kita tarik jauh kebelakang nampak jelas bahwa rosulullah SAW. diturunkan di Bumi yang katanya asri ini untuk membebaskan umat dari penindasan (eh jangan di cap komunis loh ya hehehe), lantas apakah agamawan yang penulis sebut sebagaimana diatas tidak tahu akan hal itu ?, Jelas tahu jawabanya. Kenapa mereka tidak menyampaikanya kepada umat? Yaa mungkin takut tidak dapat job dan kehilangan pemasukan (terserah deh kalo sampe disini penulis mau dicap menistakan agamawan wkwkwk).

Bahkan jika di cermati lebih dalam dan mau menggunakan “rasio nakal” penulis berkesimpulan fenomena agamawan halal-haram merupakan satu rentetan dari penggiringan opini umat guna meng-impotenkan semangat revolusioner islam dalam melawan penindasan dan kapitalisme (bahasanya udh kayak aktipis belum nih hehehe), yang jelas dalam terjadinya kondisi tersebut ada perselingkuhan antara elit penindas dan kapitalis dengan kaum agamawan (wiih ngueeeri). Namun disamping fenomena agamawan “halal-haram” ada juga sekelompok penindas yang memperalat agamawan untuk meredam upaya penolakan terhadap beberapa sumber kapital para penindas. Sebagai contoh penggunaan agamawan untuk meredam perlawanan terhadap adanya pertambangan ataupun hal yg lainya, dalam kasus ini nampak jelas bahwa agamawan yang seharusnya mengobarkan pesan revolusioner malah meng-impotenkan gerakan revolusioner menghunakan kitab suci. Ada satu contoh unik lagi berkenaan dengan agamawan “halal-haram” yaitu berkenaan dengan adanya lomba dakwah yang disiarkan langsung di stasiun tv nasional, (ngeri gak tuh dakwah dikapitalisasi bosku wkwkwk)

Jikalau memang hal-hal sebagaimana agamawan penulis sebut diatas masih berjalan dengan masif maka substansi dari ajaran islam akan semakin jauh dari umat kehidupan umat. Dalam tulisan singkat ini penulis bukan bermaksud mengatakan bahwa sudah tidak ada agamawan yang dalam dakwahnya menyisipkan pesan-pesan revolusioner ataupun semangat-semangat pembebasan tetapi sekedar ingin mengkritisi sikap agamawan yang Hanya membicarakan hal-haram. Agamawan yang revolusioner dan selalu menebarkan benih-benih pembebasan masih ada namun jarang di ekspos oleh media, dan kita perlu juga mengapresiasi akan ulama-ulama revolusioner dan selalu menebarkan pesan-pesan pembebasan. Kemungkinan besar rezim media sengaja untuk sama sekali tidak mengekspos ulama-ulama yang bersikap demikian. Jikalau memang sikap media yang demikian ini benar adanya maka sungguh dzolim mereka yang berbuat demikian.

Coba kita beranjak sejenak dari realita dan sedikit berimajinasi, jikalau corak dakwah tidak dipersempit pada hal “halal-haram” pastilah bibit-bibit revolusioner pada umat akan terus bermunculan dan sudah menjadi ke niscayaan pula umat islam menjadi agen penyedia  the next ernesto che guevara.

 

Penulisi adalah Fajar Irawan Kabid KPP HMI Cabang Malang Komisariat Hukum Universitas Muhammadiyah Malang

Sekjen LSO Fordima (Forum Dinamika Mahasiswa) Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang

 

Facebook Comments