Refleksi Kemerdekaan

Refleksi Kemerdekaan

- in Artikel
150
0
Fajar, Kabid KPP HMI Cabang Malang Kom. Hukum Universitas Muhammadiyah Malang

Bhineka tunggal ika, bukanlah sekedar kata mutiara belaka, bhineka tunggal ika adalah mutiara yang berhasil digali dari kedalaman jiwa nusantara oleh leluhur kita. Empu tantular sang Begawan pemilik kitab sutasoma-lah pencetusnya. Secara historis bumi nusantara memang syarat akan perbedaan, hal itu terbukti dari berbagai teks sejarah mulai dari karangan Mpu tantular, Mpu prapanca, Mpu sedah dan masih banyak lainya. Berbagai perbedaan yang ada sejak zaman dahulu tersebut seharusnya menjadi suatu pembelajaran bagi seluruh nyawa yang memijakkan kakinya di bumi nusantara perbedaan entah itu dari segi agama, ras, bahasa dan budaya jikalau disadari sepenuhnya akan menjadi sumber kekuatan bangsa kita. 

Argumen penulis sebagaimana diatas bukanlah sebuah asumsi belaka  sebab kerajaan majapahit telah menjadi saksi nyata bagaimana sebuah perbedaan diwadahi dengan sepenuhnya dan pada akhirnya berujung pada sebuah tatanan masyarakat gemah ripah loh jinawe serta sebuah kejayaan. Leluluh kita telah membuktikan bahwasanya meskipun berbeda ras dan agama yang dianut bukanlah halangan untuk saling merangkul, bukan pula alasan untuk menindas dan membinasakan.

Bhineka tunggal ika bukan hanya sekedar simbol belaka, ia adalah ruh dari segala pilar yang mengguatkan kesatuan nusantara. Jika ada yang ingin mengusik ruh (Bhineka tunggal ika) dari bumi  nusantara sama halnya mencoba untuk meruntuhkan semua kedamaian dari bangsa kita. Leluhur kita telah member banyak contoh terkait pentingya saling menghormati dan merangkul satu sama lain tanpa memandangn ras dan agama, oleh harena itu konsekuensi logis dari kaki memijak di daratan Indonesia ialah menghormati segala perbedaan dan menerima hukum yang berlaku di Indonesia.

Namun beberapa bulan belakangan marak gerakan lucu yang ingin mengganti seluruh dasar negara bumi Indonesia, sekolompok orang yang mengatas namakan “islam” dan berada di naungan HTI sedikit membuat lelucon untuk mengganti dasar negara bumi nusantara. Mereka menjual label islam sebagai pondasi gerakan dan meracuni ummat untuk berpikiran menyimpang. Gerakan yang dibuat oleh HTI jelas telah salah dari sudut pandang manapun. Agama islam sendiri tidak pernah menganjurkan untuk membuat negara sendiri yang berlandaskan khilafah. Jelas bawasanya lelucon yang dipentaskan oleh HTI menggambarkan kedangkalan dalam beragama. Gerakan yang dilakukan HTI jelas bertujuan untuk menghancurkan nusantara, sebuah usaha untuk membuat nusantara dalam bahaya, sebuah gerakan yang tak berlandaskan akal budi Landasan mereka hanya satu kebodohan yang membabi buta.

Gerakan yang mereka buat justru memperlihatkan bahwa pondasi yang menopang bumi nusantara terlampau kuat untuk diruntuhkan oleh kelompok ekstrimis, namun kiranya perlu menjadi perhatian bahwa krikil-krikil seperti HTI tetap harus di ringkus. Paham sedemikian jikalau tetap ingin bertahan hanya ada satu cara yaitu enyahlah dari Bumi nusantara. Bumi nusantara yang asri ini tak patut ditinggali kelompok ber rasio dangkal layaknya mereka. Gerakan untuk menerapkan sistem khilafah yang dimotori oleh HTI jelas merupakan upaya yang bertujuan untuk meluluh lantakkan Indonesia. Kiranya mereka perlu berkaca atau bahkan terjun langsung ke timur tengah dan melihat kondisi riil di yaman, suriah dan lainya. Apakah kondisi seperti negara yang penulis sebut itu yang di inginkan oleh mereka (HTI) ? jikalau iya maka tugas kita menyadarkan sebagian saudara kita dari kejumudan berpikir itu.

Indonesia adalah negara istimewa, penduduk dengan keberagaman yang sangat kompleks saling membaur dan relative tidak ada konflik yang berarti. Sebagai generasi penerus bangsa kita perlu menjaga kesatuan dari negara nan asri ini serta menghindarkan dari gerakan sparatis berkedok apapun. Kegagalan dari HTI, dan pihak lain yang ingin memecah belah kesatuan dari bangsa ini membuktikan bahwa Bhineka tunggal ika masih tertanan di relung hati setiap rakyat negeri ini. Generasi muda sangatlah penting untuk merawat ke-bhinekaan, karena itulah yang akan menjauhkan dari jurang kehancuran. (Adt).

DIRGAHAYU INDONESIAKU TETAPLAH GAGAH GARUDAKU.

Facebook Comments