Karl Marx, Perang Baratayudha, dan Lafran Pane

Karl Marx, Perang Baratayudha, dan Lafran Pane

- in Artikel
136
0
Arya S.

Oleh: Arya S. (Kader HMI Cabang Satire) Tulisan ini Terilhami dari Peristiwa Pulau Tidung VS Bogor

Tulisan ini ingin penulis bagikan kepada para pembaca terkhusus di dalam ruang lingkup HMI di tengah jenuhnya tontonan elit yang tak layak jadi tuntunan. Semoga bisa menjadi hiburan dan salah satu usaha memperbanyak khazanah himpunan kita.

Penulis adalah kader di Cabang Satire. Penulis ikut basic training tak lama setelah anies baswedan (yang katanya alumni HMI itu) dilantik di Jakarta. Jujur, penulis sangat nge-fans dengan anies dari sejak penulis aqil balik. promosi itu yang jadi jualan senior-senior ku waktu itu untuk memasukan penulis ke dalam organisasi ini.

Awalnya semua berjalan indah, dimulai dari liburan 4 hari didaerah puncak dengan selingan pemberian materi dari SEJARAH, NDP, KONSTITUSI, MISSION, dan tentu saja materi yang paling penulis seriusin yaitu KOHATI, dan ditambah beberapa materi tambahan. Setelah itu, tepat tengah malam, penulis dengan keadaan sulit menahan ngantuk, akhirnya resmi dilantik menjadi kader HMI.

Semua senior disitu sembari memeluk dan berjabat tangan sambil mengucapkan selamat kepada 30 orang peserta yang baru saja dilantik. seakan-akan ada heroisme dan perasaan haru biru saat itu dimata mereka, ya walaupun di mataku biasa aja sih, malah bingung dengan keadaan yang tiba-tiba seperti sad momentnya FTV begini.

Setelah resmi jadi kader dan beberapa bulan aktif mengikuti kegiatan di komisariat, dari diskusi, kepanitiaan, dan acara-acara lainnya, pelan-pelan penulis mulai merasa paham dan senang dengan organisasi ini. Tumbuhnya minat membaca buku yang tinggi sampai munculnya hobi demostrasi penulis menjadi semakin membuncah. Pokoknya cinta deh sama HMI.

Segala bimbingan idealisme kader mulai dijelaskan pelan pelan oleh para senior, ya walaupun kadang-kadang ada beberapa senior yang terjangkit virus feodal dari stadium 1 sampai stadium 4, tapi itu tidak mengurangin cinta penulis yang sedang mekar-mekarnya kepada organisasi ini. Nalar kritis yang menjadi ciri kader pelan pelan mulai menjangkit isi kepala penulis. Setelah beberapa tahun berada di organisasi ini dan semakin paham dengan hitam putihnya hijau hitam ini, Pekerjaan mengkritisi kampus sampai mengkritik pemerintah adalah makanan sehari-hari.

Semua hal bisa penulis kritik, tapi ada yang tak boleh dilakukan dalam aktivitas ini, yaitu mengkritisi senior sendiri. Apalagi yang punya jabatan struktural, ampunnn dehhh, “jangan coba-coba diganggu tuh” kata beberapa teman penulis. Tapi, hasrat penulis tetap tak bisa dikekang, walaupun kadang ada takut campur sungkan kalau mau bertanya tentang problem hirarki organisasi yang lebih tinggi, mengingat penulis masih di tingkat komisariat. Beberapa hari yang lalu, penulis bertemu beberapa senior yang katanya sudah punya posisi penting di puncak struktur nasional organisasi, ketemunya ga sengaja di tempat ngopi. Penulis kaget campur bangga, ga nyangka bisa ketemu pengurus pusat ditempat ngopi kader jelata begini, di daerah lagi.

Penulis berpikir mungkin kanda-kanda ini lagi ada urusan di daerah,mungkin juga nge-cek basis, ya mengingat waktu kongres udah ga lama lagi (Rasanya baru aja kemaren kongres, eh udah mau kongres lagi. Mungkin waktu bergerak sangat cepat, atau mungkin udah selesai pilpres kali ya…). Langsung saja dengan gegap gempita penulis menyapa kanda-kanda pusat itu sambil menyalami dengan takjim tangan-tangannya. Sampai kepada kesempatan bisa ngobrol dengan mereka. Walaupun satu meja, tapi mereka lebih banyak sibuk dengan HP mereka, penulis sih positif thinking aja, mungkin kanda-kanda lagi up date perkembangan negara, atau ngecek kurs Rupiah per detik, atau mungkin sedang konsolidasi online untuk buat gerakan penuntasan kasus HAM dan tambang ilegal, atau mungkin mengamati situasi politik terkini, sungguh luar biasa batinku dalam hati.

Ya karena canggung, penulis memberanikan diri untuk memecah keheningan dengan bertanya kepada mereka, “Kanda besar, katanya ada dualisme di pusat ya, itu kenapa kok bisa kayak begitu, kanda besar?”. Dengan bersamaan mereka langsung melirikku, dan salah satu kanda yang duduk di paling pojok langsung bertanya kepadaku,” ah, dinda sekarang menjabat sebagai apa? Dan dimana ya? ” wah, hatiku senang sekali mendapat pertanyaan dari orang besar ni, langsung saja penulis menjawab dengan semangat 74″ saya sekarang Alhamdulillah mendapat kepercayaan untuk magang di departemen di komisariat kanda, bagian atur-atur rak buku gitu kanda”, dengan sedikit senyum pahit diujung bibir kanda yang satunya lagi langsung merespon “oh, Dinda baca-baca buku dulu aja, jangan tanya2 itu dulu, ini konflik para dewa dinda, dinda-dinda yang di komisariat ga bakal kuat, biar kanda saja”, sontak langsung kaget aku dengan jawaban kanda itu yang menurutku sangat puitis filosofis milenial begitu, sungguh beruntung aku malam ini.

Walaupun sudah terlihat tanda tak nyaman dari mereka, penulis belum menyerah untuk melewatkan momen ini begitu saja. kembali penulis bertanya kepada mereka “tapi kanda, isu itu begitu kencang terdengar sampai ke lapak tetangga-tetangga kita dikampus, yang akhirnya dijadikan bahan untuk menghalangi kita merekrut kader baru. Calon kader dicekoki isu-isu tak sedap, dari isu elit organisasi ini amoral lah, isu organisasi ini hanya sibuk ngurus rebut jabatan kekuasaan lah,isu organisasi ini hanya berlomba-lomba dalam kebai… eh,,, berlomba-lomba selfi sama mas presiden lah, sampai isu diamnya organisasi ini pada problem-problem negara hari-hari ini (ya menurutku yang terakhir ini bukan isu sih tapi hoax) yang akhirnya bikin kita sulit dapat kader, kanda besar”.

Pertanyaan lanjutan penulis ini berhasil membuat salah satu kanda meletakan hp nya dan memperbaiki posisi duduknya, lantas dengan suara berat beribawa mengatakan kepada penulis “dinda, sebenarnya bukan porsi kamu untuk tau masalah itu, tapi karena malam ini kandamu ini lagi berbaik hati (mungkin habis ditransfer batinku), maka kanda akan sedikit menjelaskan kepadamu mengenai perjuangan kami-kami ini disana” aku tambah bersemangat mendengarnya, seraya memasang kupingku baik-baik, lalu dia melanjutkan ” kami-kami ini yang dipusat, siang malam rapat hanya untuk memperjuangkan nasib perkaderan kita ini, memperjuangkan nasib kalian, membesarkan organisasi kita ini, jadi sikut-sikut dikit biasalah, ya namanya juga pejuang, kalau gak lecet ga asyik, jadi kalian yang dibawah itu, berkader saja yang baik, baca buku yang banyak, dan jangan lupa berdoa untuk kami-kami ini, perwakilan kalian dipusat”.

Mendengar jawaban itu, aku langsung takbir dalam hati, seraya beristigfar 2 kali, ternyata, sungguh mulia pekerjaan pusat itu, ternyata tidak seperti yang penulis bayangkan selama ini bahwa kerja mereka hanya bikin SK sama audensi-audensi cantik di Senayan dan sekitarnya. Tapi, penulis belum puas dengan jawaban itu, penulis pun langsung menanggapi dengan pertanyaan “maaf kanda, kalau boleh diperjelas, kanda-kanda ini memperjuangkan kami yang dinda-dinda ini dalam hal apa ya? Dan tolong pahamkan dindamu yang agak tersesat ini bang, tentang karya-karya kalian disana?” Pertanyaan lanjutan penulis ini, langsung disambar oleh kanda yang paling ujung yang dari tadi diam itu, dengan sedikit naik nadanya dia berkata “eh, DINDA, kamu ini kayaknya kurang ngopi,kamu udah khatam buku das kapitalnya Karl Marx belum?”

Mendengar pertanyaan balik itu, otakku langsung  kupaksa berpikir keras, tentang apa hubungannya antara pertanyaanku tadi, kurang ngopi, dan khatam DAS kapital, aku yakin ini filisofis banget nih, model menjawab dengan pertanyaan ala socrates itu. Dengan sedikit bengong, aku ragu-ragu menjawab “baru selesai 2 jilid kanda, yang ketiganya belum sempat terbaca karena kena swiping aparat kemarin, kanda besar” lalu aku lanjutkan “kira-kira, maksud hubungannya dengan pertanyaan saya tadi bagaimana ya kanda?” Aku kembali bertanya. “Nah, itulah dinda, DAS kapital aja belum kamu khatamin, jadi gak bakal sampai otakmu kalau kami jelaskan tentang perang baratayudha kami dipusat ini” jawab kanda yang dipojok itu lagi. Dengan kepala masih bingungku ini, kanda yang disampingku langsung menambahkan “SUDAH dinda, jangan banyak tanya sama Kanda-kanda mu ini, sami’na waato’na aja, nanti kalau gak gitu bisa gak panjang umur kamu dihimpunan”.

Pernyataan terakhir tadi sontak semakin membuat aku kaget, seraya bergumam dalam hati “masyaAllah, DAS kspital? , perang baratayudya? , panjang umur dihimpunan? , apa-apaan semua ini..” mau pecah kepalaku ini saking takjubnya. Tak lama kemudian kanda-kanda itu pun langsung pamit pergi, entah ada urusan atau tak nyaman pada tampangku yang masih bingung membengong.

Sepanjang malam itu aku tetap duduk diwarung kopi itu (yang kebetulan 24 jam) sampai pagi sendirian kembali merenungkan kata-kata kanda-kanda itu. Sambil kadang berimajinasi dengan pertanyaan liar, apa mungkin Karl marx masih keturanannya pandawa atau kurawa dalam kisah perang baratayuda nya mpu sedah itu, trus apa hubungannya sama pak lafran pane yang tulus dan sederhana itu? “. Atau mungkin konflik di pusat itu adalah konflik pertentangan class antara pengurus. Emangnya di pusat ada kaum proletarnya ya, sehingga harus perang baratayudha segala? Saking dalamnya berpikir, penulis sampai stres dan menjadi merasa emosi sama kanda-kanda tadi itu yang tidak menuntaskan penjelasannya. “Gak solutif blasss,” gumamku, penulis semakin alergi dengan konflik pusat yang pertentangannya hanya tentang hal yang tak subtantif perkaderan, kalaupun harus berkonflik, penulis pribadi merindukan jenis konflik ideologis seperti zaman 85 itu, biar pisahnya jelas karena prinsip yang mendasar.

Menjelang adzan subuh penulis pun bergegas sholat, dan karena belum juga paham apa maksud kanda-kanda itu, akhirnya penulis memutuskan, mulai sekarang, penulis akan berhenti mengkritik kampus dan pemerintah, dan akan fokus mengkritik PB HMI SAMPAI ISLAH… dan penulis mengajak semua khalayak kader HMI untuk ikut mengkritik perilaku hirarki struktural organisasi tertinggi ini yang konfliknya merugikan perkaderan. Harus ada yang mengalah, kalau ga ada yang mau ngalah, ya mundur aja semua toh,, biar kita milih yang baru aja lagi, asal yang baru nanti, jangan konflik lagi ya, KANDA BESAR.

Facebook Comments