Secarik Kertas Positif Lawan Pobia Corona

Secarik Kertas Positif Lawan Pobia Corona

- in Artikel
338
0
Moh. Rifqi Syadid, Pegiat Sosial Lintas Kampus

Semenjak mulai munculnya corona di wuhan sekitar akhir tahun 2019 silam dunia dihebohkan dengan virus asal tiongkok ini. Sampai sekarang banyak orang menyalahkan cina dan banyak orang saling menyalahkan orang yang terjangkit virus corona. Virus ini telah membuat kepanikan global dan kemacetan ekonomi sosial.

Dilansir dari newyork post (27 januari 2020) bahwa corona disebarkan lewat pasar hewan di wuhan. Dilansir dari media metro (24 januari 2020) virus corona disebabkan karena adanya kebocoran biokimia di laboratorium wuhan. Sampai munculnya opini di metro tersebut dunia digiring kepada opini bahwa cina sengaja membuat senjata biologis yang digunakan untuk genosida.

Diupdate dari tirto.id (9 maret 2020) sebaran populasi dunia yang terkonfirmasi terjangkit virus corona adalah 110.034 dengan total kematian mencapai 4.003 orang dan yang berhasil sembuh 62.841 orang. Virus ini tersebar dengan kurun waktu tiga bulanan dan diperkirakan akan tersu merambah. Opini masyarakat digiring kepada politisasi farmasi dimana secara mengejutkan cina telah menemukan vaksin untuk penawar COVID-19 ini. Sampai tulisan ini dibuat banyak tulisan dan bahkan video yang ditakedown oleh pemerintah setempat terkesan seperti sedang ada agenda yang ditutup-tutupi. Apakah benar bahwa COVID-19 ini memang sengaja dibuat atau bocor di laboratorium biokimia wuhan institute of virology dan ditambah dengan konspirasi virus SARS di tahun 2003 yang melanda cina juga merupakan buatan manusia yang memang di sengaja. Sehingga masyarakat berpikir bahwa dua virus tersebut memang senjata biologi yang dirahasiakan oleh otoritas setempat untuk mengurangi populasi di cina? Dan lebih epicnya lagi munculnya COVID-19 ini juga bertepatan dengan hari raya rakyat cina yang merupakan migrasi terbesar di tiongkok dan dipantik juga dengan perang dagang cina dan amerika yang tak kunjung usai.

Jika pembaca telah mendalami dan merasakan kiasan emosi karena tulisan diatas maka anda telah terjangkit virus negatif dan bahkan anda tidak akan merasakan nikmatnya hidup seperti sebelumnya. Dan taukah kamu ini lah yang terjadi di media sosial kita hari ini, alih-alih ingin memeringati COVID-19 tapi ternyata menebar virus yang lebih bahaya, yaitu keputus asaan, negatif thingking dan masyarakat tertutup.

Mari kita simak penjelasan dari penulis ini untuk mengajak masyarakat benar-benar sadar dan bangkit dari kehampaan. Cerita ini berawal dari seorang pasien dengan gejala phnemonia di bulan desember 2019 lalu yang terus merambah ke pasien-pasien lain yang memiliki gejala phnemonia dan pernafasan akut (Sout China Morning Post). Seiring degan banyaknya jumlah pasien yang semakin bertambah dan disinyalir kebanyakan berasal dari wuhan, pemerintah tiongkok segera mengambil tindakan untuk mengisolir kota wuhan sesegera mungkin dengan harapan epidemi ini semakin terkontrol. Sejauh ini pemerintah tiongkok memiliki optimisme dalam menyelesaikan wabah ini dengan pengalaman masa lalu yang berhasil menyelesaikan wabah SARS. Dan bahkan setelah dibangun rumah sakit dengan skala waktu 6 hari dengan daya tampung ribuan pasien corona pemerintah tiongkok berhasil memenangkan perang melawan COVID-19 ini.

Faktanya meskipun virus corona ini memiliki kemiripan dengan virus SARS di tahun 2003, COVID-19 tidak seganas virus SARS. Tercatat dari total 110.034 yang terjangkit COVID-19 di dunia, pasien berhasil sembuh berjumlah 62.841 dan total kematian 4.003 orang dan sebagian besar yang meninggal adalah lansia dan memiliki riwayat penyakit kritis seperti jantung, diabetes kanker dan para pasien yang memiliki imunnitas rendah (TIME.com). Gejalanya adalah demam, pilek, batuk dan mengalami sesak nafas. Sedangkan data yang dikutip dari NEW Straits Times penderita dengan sistem imun atau tubuh yang lebih fit dapat mengalami kesembuhan dengan cepat karena virus corona ini memiliki sifat Sua-Sirna yang mana orang atau pasien yang memiliki fisik dan antibody yang kuat virus tersebut akan hilang dengan sendirinya dan justru sistem imunitas kita akan membentuk antibody sendiri dari corona. Jadi kuncinya adalah jaga kesehetan kita seperti olahraga, makan makanan 4 sehat 5 sempurna dan hindari kontak langsung dengan populasi masyarakat yang berkrumunan diatas 10 orang. Namun tetap diwaspadai dengan bijak karena memang virus corona termasuk cepat menyabar lewat aliran pernapasan, sentuhan dan mata. Kita tetap berhadap indonesia tetap bersatu melawan COVID-19.

Akhir-akhir ini penulis malah lebih khawatir dengan virus-virus kebencian oleh oknum tidak bertanggung jawab yang mengatas namakan bahwa virus ini adalah azab karena pemabantaian islam Uyghur oleh pemerintah Tiongkok. Dimanakah letak empati dan kesadaran kita sebagai manusia yang beradab bahkan itu semua adalah kehendak tuhan yang kita tidak boleh menjustifikasi dan mengagantikan peran tuhan atas nama azab. Epidemi ini adalah virus berskla global yang bahkan juga dapat menyerang orang islam dengan populasi terbesar seperti india dan Indonesia juga.

Selajutnya jika permasalahan di Tiongkok ini tetap dibiarkan besar oleh buzzer-buzzer tidak bertanggung jawab maka akan memicu krisisi global di seluruh dunia. Karena sampai saat ini negara Tiongkok adalah negara dengan perekonomian paling maju di asia dalam berbagai sektor. Layaknya manusia yang satu dengan yang lain saling membutuhkan maka mekanisme negara juga berlaku sama ada hubungan billateral dan multilateral, bahkan karena mandeknya perekonomian di beberapa nagara seperti contohnya indonesia kini rupiah telah menyentuh angka 16.567 (UTC, 23 maret 2020). Kita semua related satu sama lain meskipun kita berbeda. Tidak cukup kah kita mengawali 2020 ini dengan positivisme setelah terjadinya banyak bencana seperti banjir di ibukota, kebakaran di Australia, ancaman world war III antara Iran dan Amerika dan jutaan belalang mengahabisi panen di Afrika. Sepertinya tidak hanya pribadi kita saja yang perlu diresolusi di 2020 ini, bahkan harusnya jutaan manusia harusnya perlu duduk bersama atau bahkan semua kepala negara kita harus duduk bersama untuk melakukan resolusi untuk bumi ini sendiri. Mari kita tinggalkan ego kita masing-masing dan tetaplah menjadi masyarakat yang bergotong royong karena itulah vaksin untuk indonesia maju.

Facebook Comments