Bunga-bunga Cinta Bung Karno

Bunga-bunga Cinta Bung Karno

- in Resensi
769
0

11407095_10202922871152044_6965273600223745456_n

Judul Buku : Bunga-Bunga di Taman Hati Sukarno, Kisah Cinta Bung Karno Dengan 9 Istrinya
Penulis : Haris Priyatna
Penerbit : Literati
Cetakan : I, Maret 2015
Tebal : 177 halaman

Jamak diketahui, di belakang laki-laki yang sukses, ada motivasi, saran, pendapat, dorongan dan dukungan dari sosok perempuan istimewa di sampingnya.Hal itu bisa dilihat dari sejarah hidup tokoh-tokoh besar dunia, di mana peran perempuan begitu besar memberikan suntikan motivasi bagi perkembangan karier pasangannya. Begitu pula halnya dengan apa yang terjadi dalam kehidupan pendiri bangsa ini, Bung Karno.
Membincangkan bapak bangsa kelahiran Surabaya ini memang tak akan pernah ada habisnya. Berpuluh-puluh buku sudah banyak yang lahir membahas tentangnya. Baik dari pemikirannya, jejak hidupnya hingga kisah asmaranya. Dan buku ini adalah termasuk salah satu di antaranya.

Lewat buku ini, Haris Priyatna mencoba menguak sisi melik kehidupan Bung Karno dengan sembilan istrinya. Dari sini, pembaca bisa mengetahui bagaimana trik Bung Karno menaklukkan hati para dara jelita itu. Kesan romantis, perayu ulung, play boy, mungkin akan pembaca sematkan pada Bung Karno seusai menyigi buku ini.

Bung Karno memang dikenal sebagai lelanangin jagad. Kepintarannya mengolah kata, mengumbar rayuan mautnya, serta memberikan sebentuk perhatian lewat hadiah dan semacamnya, membuat siapapun wanita yang menjadi targetnya, tak kuasa untuk menolak tawaran cintanya.

Haris Priyatna dalam buku ini, memetakan istri-istri Bung Karno dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang menemani perjuangan Bung Karno menuju pintu gerbang kemerdekaan. Pada kelompok ini terdapat putri dari guru bangsa HOS.Tjokroaminoto yang menjadi istri pertama dari Bung Karno, Siti Oetari. Kemudian perempuan tangguh dari Sunda, Inggit Ganarsih. Dan terakhir adalah putri dari tokoh Muhammadiyah Bengkulu, Fatmawati.

Kelompok kedua adalah mereka yang mengisi hari-hari dan kehidupan Bung Karno saat Indonesia sudah berada dalam masa kemerdekaan. Pada barisan ini terdapat Hartini, Kartini Manoppo, Naoko Nemoto atau Ratna Sari Dewi, Hariyatie, Yurike Sanger dan Heldy Dja’far. Kesembilan istri Bung Karno tersebut, masing-masing memiliki kisah tersendiri saat menemani Bung Karno menjalani hidupnya.

Yang menarik dari buku ini adalah sikap bagaimana para istri tersebut memperlakukan Bung Karno sebagai seorang suami dan Presiden. Mereka mengetahui saat di mana Bung Karno berperan sebagai seorang Presiden atau sebagai seorang suami. Ternyata patokannya sangatlah sederhana. Hal ini bisa dilihat dari penuturan Hariyatie yang ada dalam buku ini.

Hariyatie selalu bersikap hati-hati dalam soal pelayanan terhadap sosok revolusioner romantik ini. Ia, sebagai seorang istri Presiden, harus pandai-pandai menempatkan dirinya dalam melayani Bung Karno. Ketika Bung Karno masih mengenakan busana kepresidenan, maka Hariyatie akan menempatkannya sebagai seorang Presiden. Termasuk bagaimana Hariyatie harus bersikap, sekalipun itu di meja makan. Seusai Bung Karno mengganti busana kepresidenan tersebut dengan busana santai di rumah, itulah saat Bung Karno harus diperlakukan sebagai seorang suami. Saat itulah Hariyatie leluasa melampiaskan kemesraannya sebagai seorang istri kepada suaminya.

Sisi menarik lainnya yang ada dalam buku ini adalah ditampilkannya kegemaran Bung Karno pada kuliner Nusantara. Meskipun itu hanya sepintas saja. Pada sate Madura dan sayur lodeh misalnya. Dalam buku ini diterangkan bagaimana doyannya Bung Karno pada sate Madura dan sayur lodeh.

Dikarenakan dua kuliner inilah tak jarang Bung Karno mendaratkan cintanya pada seorang dara yang dipandangnya pandai merebut hatinya lewat makanan yang disajikan di hadapannya. Istilah “dari lidah turun ke hati” sepertinya sangatlah tepat untuk menggambarkan kisah cintanya dengan beberapa perempuan yang menjadi istrinya.

Buku setebal 177 halaman ini adalah buku yang mengungkap sisi lain dari hidup Bung Karno beserta istri-istrinya. Tak jarang saat membacanya, pembaca akan terbawa arus kisah yang dituturkan oleh Haris Priyatna. Ada kalanya tertawa dan tersenyum saat Bung Karno melemparkan rayuan dan bagaimana cara ia mengatur jadwal pertemuan dengan istri-istrinya tersebut. Ada kalanya marah saat ia melukai hati Inggit Ganarsih dan Fatmawati yang diduakannya. Yah, buku ini sedikit banyak menunjukkan bahwa Bung Karno juga manusia yang tak luput dari salah dan dosa. Selamat Membaca.

Muhammad Shofa
*Koordinator Bibliopolis Book Review Surabaya

Related Posts

Facebook Comments