Kisah Surga Yang Hilang

Kisah Surga Yang Hilang

- in Resensi
614
0

Judul Buku : Dari Puncak Andalusia
Penulis : Dr. Tariq Suwaidan
Penerbit : Zaman
Cetakan : I, 2015
Tebal : 720 halaman
ISBN : 978-602-1687-24-6

Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Ibn Khaldun dengan teori siklus peradabannya. Menurutnya, sebuah perabadan akan selalu melewati empat fase dalam perjalanannya. Yaitu fase primitive, fase urbanisasi, fase kemewahan dan terakhir adalah fase kemunduran yang berujung pada kehancuran dari sebuah peradaban.Demikianlah pula halnya dengan yang dialami oleh peradaban Islam di Andalusia.

Dulunya, Andalusia (Spanyol sekarang) adalah wilayah yang pernah menjadi kekuasaan umat Islam. Di sanalah sejarah kegemilangan Islam pernah bersinar selama tujuh abad lamanya. Dalam rentang waktu yang begitu panjang tersebut, tidaklah mengherankan bila puncak kejayaan Islam pun pernah bersinar di negara yang dikenal dengan kompetisi sepak bola La Liga-nya yang sangat ciamik itu.

Meskipun pada akhirnya, pilar-pilar peradaban itu telah runtuh, namun sisa-sisa peninggalan Islam masih berdiri di sana. Bangunan-bangunan tersebut seakan-akan menegaskan bahwa Islam pernah menyesapi relung-relung kehidupan masyarakat di Andalusia. Megahnya kemewahan mercusuar peradaban Islam di Andalusia saat itu, bisa pembaca simak lewat buku karya Tariq Suwaidan ini.

Dalam buku ini, Tariq Suwaidan menyuguhkan kepada pembaca tentang sejarah Andalusia yang dibagi dalam empat bagian. Bagian pertama adalah prihal masuknya Islam ke bumi Andalusia. Pada bagian ini, pembaca dituntun untuk mengetahui latar belakang umat Islam melakukan ekspansi militer ke Andalusia. Menurut Tariq Suwaidan, tujuan Islam melakukan penaklukan bukanlah diselimuti oleh nafsu dan angkara untuk menjajah, melainkan hanya untuk menyebarkan kalimatullah, membebaskan manusia dari penghambaan terhadap mahluk, dan untuk memakmurkan bumi. Pada bagian ini, Tariq juga mengisahkan pintu-pintu yang menjadi jalur masuknya Islam di Andalusia, pengepungan-pengepungan, penyerangan hingga penaklukan yang dilakukan oleh panglima perang umat Islam waktu itu.

Generasi muda Islam saat ini, tentu lebih akrab dan mengenal para bintang lapangan hijau dari Spanyol. Semisal Fernando Torres, Xavi, Iniesta dan Casillas. Nama-nama tersebut lebih akrab di telinga dibanding nama Uqbah ibn Nafi’ Al-Fihri dan Musa ibn Nushair. Keduanya, Uqbah dan Musa, selain juga Tariq ibn Ziyad, mempunyai sumbangsih yang sangat besar bagi perkembangan Islam di tanah Eropa. Peran ketiga orang tersebut dengan keberaniannya sebagai panglima perang, mampu membuka jalan bagi Islam untuk tersebar di Eropa dan Afrika.

Untuk bagian kedua dari buku ini, Tariq Suwaidan membahas era Dinasti Umayyah di Andalusia. Yang menarik dari bagian ini adalah bagaimana Dinasti Umayyah dibangun oleh Abdurrahman Ad-Dakhil. Gelar Ad-Dakhil yang disematkan di belakang namanya diberikan karena dialah orang pertama dari Bani Umayyah yang masuk ke Andalusia sebagai seorang penguasa.

Kisah hidup Abdurrahman Ad-Dakhil sangatlah dramatis. Keluarga Bani Umayyah, termasuk dirinya, dikejar-kejar dan diburu oleh pihak penguasa dari Dinasti Bani Abbasiyah. Bahkan yang sangat menggiriskan adalah adanya perintah dari Gubernur Bashrah saat itu, Sulaiman Ibn Ali, untuk membunuh seluruh kaum Umayyah. Kemudian, mayat-mayat kaum Umayyah yang sudah tak bernyawa itu dibuang ke jalanan, bergelimpangan untuk kemudian menjadi santapan anjing.

Konflik internal di dalam tubuh umat Islam inilah kemudian yang merembes sampai pada anak turunan kedua bani tersebut. Saat Andalusia berada di bawah kepemimpinan Abdurrahman Ad-Dakhil, ada sekitar 25 pemberontakan yang mampu dipadamkan olehnya. Tragisnya, pemberontakan-pemberontakan itu dilakukan oleh umat Islam sendiri. Melihat kondisi tubuh umat Islam yang rapuh karena konflik internal inilah yang memberikan peluang bagi Charlemagne (Raja Kaum Frank Jerman) untuk bertolak ke Andalusia dan melakukan pendudukan di Zaragoza.

Selain prihal pemberontakan dan peperangan, bagian kedua dari buku ini juga mengungkapkan sumbangsih Islam bagi kemajuan ilmu pengetahuan di Andalusia. Majelis-majelis ilmu banyak berdiri, pemimpinnya juga begitu peduli dengan perkembangan yang terjadi saat itu dengan mendirikan perpustakaan-perpustakaan. Ada sekitar 70 perpustakaan di masa Andalusia di bawah kepemimpinan khalifah Abdurrahman ibn Nashir, yang koleksinya untuk setiap perpustakaan tersebut memiliki koleksi sebanyak 400 ribu judul buku. Sebuah pencapaian yang mungkin tak bisa ditemui hingga saat ini (hal.280).

Tak hanya itu saja, pada periode An-Nashir juga banyak dibangun infrastruktur masjid sebanyak 3000 masjid dengan mozaik ornamen dan arsitektur yang sangat khas dan mengagumkan. Bangunan-bangunan berarsitektur indah digenjot di sana sini. Pada masa inilah Andalusia menjadi pusat sastra, budaya dan ilmu pengetahuan.

Ibarat sebuah pertunjukan yang harus segera berakhir. Demikian pula yang dialami Andalusia. Detik-detik penyebab keruntuhan imperium keagungan Islam di Andalusia, dibahas oleh Tariq Suwaidan dalam bagian ketiga dan keempat dari buku ini. Pada bagian ketiga, Tariq memaparkan dinasti-dinasti kecil yang muncul setelah terjadinya konflik internal dalam tubuh umat Islam sendiri, terutama dalam keluarga Bani Umayyah. Ia menyebutkan sekitar 22 dinasti kecil yang lahir dari konflik internal tersebut.

Syahwat kekuasaan yang tinggi, doyan kemewahan dan konflik internal inilah yang menjadi penyebab wilayah Andalusia satu persatu dipreteli. Sevilla, Zaragoza, Malaga, Almeria, Baza, Kordoba dan terakhir adalah Granada. Umat Islam pada akhirnya terhempas dan terusir dari bumi Andalusia. Yang masih berkenan tinggal dan menetap di Andalusia harus rela dijerat dengan peraturan perundang-undangan yang sama sekali tak masuk akal.

Dengan mengatasnamakan titah gereja, raja Ferdinand mengeluarkan dekrit yang melarang beroperasinya masjid-masjid yang ada dan pelarangan melaksanakan ritual-ritual keislaman, pelarangan menggunakan bahasa dan pakaian Arab, hingga yang sangat teramat keji pembentukan Dewan Inkuisisi yang bertugas menyelidiki dan mengungkap kaum muslim yang masih memegang teguh agamanya. Menurut Tariq Suwaidan, ada sekitar tiga juta jiwa kaum muslim mati dibunuh ‘hanya’ karena memegang teguh ajaran agamanya.

Buku setebal 720 halaman ini berisi rekaman tapak kaki Islam saat pertama kali masuk ke Andalusia, berkembang dan kemudian runtuh. Dan Tariq Suwaidan mencoba membangkitkan kenangan akan kejayaan Islam di sana lewat narasi-narasi yang sangat singkat, berurutan dan disisipi ilustrasi gambar yang membuat mata tak jemu untuk segera menuntaskannya. Sayangnya, buku ini tak menyertai profil penulis buku ini yang biasanya terdapat di halaman terakhir. Hal ini menyebabkan pembaca akan berpikir keras, siapakah Tariq Suwaidan ini?

Muhammad Shofa
*Aktivis Bakornas LAPMI PB HMI

Facebook Comments