Pembunuhan Asa ; antara ketulusan & Rasionalitas Akliah

Pembunuhan Asa ; antara ketulusan & Rasionalitas Akliah

- in Fiksi
946
0

Oleh : Rahmad Nasir

 

“Perempuan yang meninggalkan kamu itu adalah orang yang bodoh, tapi kamu lebih bodoh karena tak bisa melupakan dia. Mungkin saatnya kamu mulai belajar mencintai orang lain”

Kamu telah mencintainya dengan tulus dengan berbagai pengorbanan mulai dari mengadvokasi hampir segala kebutuhan bahkan kepentingannya.

Berapa banyak pulsa yang telah ludes disedot cinta buta, berapa ratus liter bensin telah habis untuk mengantar kemana saja sang gadis pujaanmu itu sehingga lebih tepatnya kamu sudah beralih profesi menjadi ojek jalanan dengan penghasilan Rp. 0,-.

Energi fikiranmu telah terkuras untuk memikirkannya, padahal kamu bisa saja memaksimalkan energi itu untuk memaksimalkan kinerja hidup yang lebih produktif untuk masa depanmu.

Telah banyak gadis yang menghampirimu, namun dengan tegas kamu menolaknya demi perjuangan suci untuk mendapatkan gadis yang telah kau percayai bakal menjadi istri pertama dan terakhirmu itu, kamu benar-benar telah melakukan ini selama bertahun-tahun.

Perjuangan agresif cintamu bertambah semangat, lantaran ada indikasi pengharapan dari gadis itu kepadamu. Memuji kebaikanmu, memberikan perhatian manja padamu, serta kata-kata pengharapan yang telah membesarkan hatimu untuk semakin yakin bahwa inilah calon ibu dari anak-anakmu kelak.

Dengan begitu seluruh energi cinta dikerahkan untuk ditumpahkan padanya. Kalau difikir-fikir, cinta terkadang tak adil bagi sebagian pencinta seperti kamu. Harapan tak selalu berbanding lurus dengan kenyataan, semua yang diperjuangkan ternyata menguap entah kemana.

Gadis itu lantaran memilih orang lain dengan alasan yang tak dimengerti. Apakah karena lelaki pilihannya itu memiliki kualitas cinta yang lebih? Wajahnya yang lebih tampan? Memiliki pekerjaan yang lebih menggiurkan? Keturunan ningrat? Atau apalah itu? Kebenaran pastinya ada dalam palung hati sang gadis.

Berdasarkan hasil musyawarah para pencinta di dunia bahwa hal yang sangat sakit adalah mencintai orang, namun di dalam hatinya ada orang lain. Kamu harus menyesali telah mencintainya secara tulus tanpa menghargai sedikitpun rasionalitas akliah.

Kamu hanya bisa tertunduk lesuh dan lusuh dengan hati penuh mendung murung di sudut kota ini sambil meneteskan air mata lelaki yang tak tumpah dengan sembarang, air mata lelaki yang hanya tumpah karena ketulusan yang tak dibuat-buat. Air mata lelaki yang mungkin seabad hanya tumpah setetes.

Kau sembunyikan air mata itu dari khalayak lantaran ego kelaki-lakian dari kawan-kawanmu, dari realitas yang akan menertawakanmu karena tak pantas lelaki itu cengeng dan merengek seperti yang kau lakukan.

Apa pun beratnya kepiluan diammu, kau telah menghadapi kenyataan pahit yang harus diterima secara perlahan. Mungkin inilah ujian hidup bagi orang-orang yang sabar dan tulus sepertimu. Harapan-harapanmu telah dibunuh secara perlahan, seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya tanpa menghargai panjangnya alur waktu perjuanganmu.

Tak mudah memang menerima kenyataan pahit, namun kamu tak harus berlarut-larut dalam kepiluan maha dahsyat ini. Makhluk bernama waktu terus berlari dan tak menoleh ke belakang sedikit dan sedetik pun, sementara rambutmu bisa beruban kapan saja jika hanya bertahan dengan kebutaan kamu terhadap cinta.

Kamu memang memiliki organ fisikal bernama “mata” namun tak memiliki jiwa bernama “penglihatan”. Kamu harus pergi ke dokter untuk mendiagnosa apakah kamu mengalami kebutaan mata di kepala atau kebutaan mata hati? Atau mungkin kebutaan mata kaki untuk berjalan di setapak kehidupan.

Dia telah memilih lelaki lain, kamu harus segera bangkit dari tersungkurnya kamu di lumpur ketakberdayaan untuk memilih dan berusaha belajar mencintai orang lain dengan semangat baru.

Facebook Comments