Sepeda dan Berhala Simbolitas

Sepeda dan Berhala Simbolitas

- in Opini
373
0

Oleh : Rais Syukur Timung. S.Sos (Penulis Apa Saja)

Ada Issu tentang, Sepeda akan di kenakan pajak. Yah, begitulah Jika Sesuatu tidak diperuntukkan bukan pada Nilai Gunannya?.

Tradisi bersepeda di Indonesia, sebenarnya bukan hal baru, sudah berlansung lama, ditandai sejak zaman kolonial. Namun, saat itu hanya kalangan tertentu yang mampu membeli sepeda, sebab sepeda dianggap sebagai barang mewah dan menjadi simbol kekayaan seseorang dikala itu.

Pasca Indonesia merdeka, semakin banyak orang yang menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi darat yang murah dan menyehatkan (olahraga). Simpel saja, karena bersepeda mudah dan murah. Tanpa menentukan jenis sepeda yang dikenakan. Akhirnya Berbagai jenis sepeda pun muncul, seperti sepeda kumbang, sepeda jengki, sepeda unta dan sepeda ontel.

Kini, tujuan bersepeda mulai bergeser, nilai gunannya dilacuri. Bersepeda tidak lagi sebagai sarana transportasi, tetapi sebagai style yang membentuk gaya hidup, terutama masyarakat kota. Dari gaya Hidup tersebut lahirlah berbagai komunitas-komunitas sepeda, yang membentuk kelas-Kelas sosial dimasyarakat.

Yah, Dulu sepeda asal jalan. Kini sepeda memberi tanda siapa yang berjalan.

Hal itu mengingatkan kita pada diskusi yang telah Usang bahwa budaya Konsumerisme yang kian mengakar sampai di titik nadir masyarakat akar rumput, sungguh sangat memprihatinkan. Tugas kita hanya mengingatkan.

Kira-kira konsumerisme muncul sejak terjadinya revolusi industri di Inggris pada awal abad ke-19, tolong ingatkan saya jika keliru.

Dalam revolusi industri digunakanlah teknologi baru sebagai proses produksi. Yang tadinya proses produksi memakan waktu lama, bisa lebih cepat dan menghasilkan produk dalam jumlah yang sangat banyak. Untuk menjual produk yang banyak, produsen memaksa masyarakat untuk membeli dengan menjadikan produk tersebut sebagai gaya hidup.

Ketika menjadi sebuah gaya hidup maka produk akan cepat laku di pasar. Hal ini dikarenakan masyarakat kita membeli bukan lagi karena “butuh, tetapi karena ingin”.

Revolusi industri ini memunculkan apa yang disebut oleh Marx sebagai kapitalisme, yang membelah masyarkat menjadi dua kelas, yaitu kaum pemilik modal dan kaum buruh. Kapitalisme bertujuan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Oleh sebab itu, produsen sebisa mungkin memproduksi barang dalam jumlah banyak. Mereka tidak lagi menjual produk untuk sekadar memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi menjual produk untuk dijadikan lifestyle-Gaya Hidup.

Namun Baudrillard, seorang tokoh postmodern Prancis mengkritik pemikiran Marx yang bertutur bahwa suatu barang memiliki dua nilai, yaitu nilai guna dan nilai tukar. Ia menyatakan bahwa suatu barang juga mempunyai nilai simbolik.

Kebanyakan kita mengkonsumsi suatu barang bukan karena nilai guna dari barang tersebut atau karena nilai tukarnya, tetapi untuk mendapatkan simbol.

Maksudnya, barang menjadi simbol status sosial. Seseorang bisa mendapatkan prestise dari barang yang ia konsumsi.

Mengutip Igauan Yasraf Amir Piliang bahwa “fenomena yang menonjol dalam masyarakat Indonesia dewasa ini yang menyertai kemajuan ekonomi adalah berkembangnya gaya hidup sebagai fungsi dari diferensiasi sosial yang tercipta dari relasi konsumsi”. Misalnya, orang yang menggunakan merek sepeda Brompton akan merasa kedudukannya lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang menggunakan merek sepeda kumbang atau mustang. Itu fakta, jangan Bohong?.

Kita lebih memilih untuk mengunyah simbol dibandingkan dengan kegunaan dari suatu barang, inilah yang disebut Baudrillard sebagai “masyarakat konsumer”.

Kita tidak hanya mengonsumsi objek, tetapi juga makna sosial yang ada di balik objek tersebut. Dalam masyarakat ini, simbol bisa mengubah suatu barang yang fungsinya sama menjadi berbeda. Simbol juga bisa membuat seseorang melakukan pengorbanan yang besar
untuk sebuah konsumsi yang fungsinya tidak terlalu berarti. Hal ini terjadi karena logika konsumsi yang mereka lakukan bukan lagi karena kebutuhan, tetapi karena hasrat-Syahwat-Keinginan-Nafsu.

Kawan, Saya hampir 9 Tahun bersepada, bahkan saat SMP punya Komunitas sepeda di landak Baru (Kota Makassar). Hampir setiap malam Mingu melipir disetiap lekuk kota Makassar dan Singgah di pelataran Jalan-Jalan Protokol, menonton Atraksi sepeda karib kerabat. Dulu di rumah, saya tidak kewalahan Mencari sepeda karena hampir semua jenis sepeda ada, sekitar 7-8 sepeda, karena sepeda digunakan sebagai sarana untuk mengantar Koran Harian Pedoman Rakyat (loper).

Kini, sepeda-Sepeda itu sudah tidak ada, habis di timbang sebagai besi tua.

Facebook Comments