Millenial dan Masa Depan Tidore

Millenial dan Masa Depan Tidore

- in Opini
157
0
Fahmi N Ismail (Founder Kieraha Institute)

“Gila, Jika kita mengharapkan hasil yang berbeda, dengan melakukan cara yang sama”

Albert Einstein

Kalimat yang sempat dilontarkan oleh salah satu orang penemu di dunia ini membuat kita berfikir ketika ingin mendapatkan sesuatu yang berbeda jangan kemudian melakukan dengan cara yang sama. Berbicara tentang Tidore mungkin yang akan timbul dibenak orang hanya tentang kebesaaran sejarah kesultanannya yang mampu menaklukan portugis yang ingin mengambil rempah-rempah yang ada di pulau tersebut. Namun jika ditanya sekarang seperti apa Tidore saat ini?

Pemerintah Kota Tidore sejak pemekaran menjadi Kota Madya sampai saat ini hanya sukses menjalankan dan menghidupkan birokrasi pemerintahan saja. Mereka silih berganti menjalankan strategi, yang sebenarnya sama saja. Ibarat sebuah barang dagangan yang hanya berganti kemasan. Apa yang kurang dari Tidore? Tuhan yang Maha Esa menganugerahkan Tidore dengan kekayaan besar dan melimpah yang sangat potensial sebagai modal dasar pembangunan.

Tempat duduk menjadi sarana Produksi Pengangguran

Pengangguran merupakan salah satu masalah yang hingga kini masih menjadi konsen pemerintah, baik pusat maupun pemerintah daerah. Pengangguran terbuka merupakan salah satu indikator makro ekonomi yang banyak digunakan oleh pemerintah dalam melakukan perencanaan pembangunan. Terutama bagaimana pemerintah dapat menyediakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat yang berada dalam kategori menganggur. Pada tahun 2018, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka Pengangguran Terbuka di Kota Tidore 4,97 persen dan ini lebih besar dari tingkat penggangguran terbuka di Maluku Utara sebesar 4,77 persen .

Memang, apabila kita mengamati besarnya Tingkat Parstisipasi Angkatan Kerja (TPAK), terjadi kenaikan yang relatif signifikan di kota Tidore, yaitu sebesar 69,48 persen atau naik sebesar 3,29 poin jika dibandingkan pada Agustus 2018. Berdasarkan angka-angka ini kita dapat pahami bahwa jumlah orang yang berminat untuk bekerja lebih besar daripada lapangan kerja yang tersedia di Kota Tidore Kondisi ini juga memberi pengertian kepada kita semua bahwa, peluang kerja di Kota Tidore masih menjadi masalah akibat minimnya ketersediaan lapangan kerja

Jika ingin mengetahui secara sederhana tingkat pengangguran di kota Tidore tidaklah sulit karena dengn berjalan sepanjang jalan raya kota Tidore akan berhamburan anak muda yang hanya sebatas nongkrong di tempat duduk yang bertebaran di samping jalan kota tidore, ini merupakan simulasi sederhana dari penulis untuk menggambarkan tingkat pengangguran di Kota Tidore, namun tidak bisa disalahkan karena keterbatasan lapangan kerja baru yang di sediakan oleh pemerintah sehingga orientasi pemuda Tidore jika bekerja hanya menjadi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN).

Bagaimana Membangun Tidore?

Dalam konteks pembangunan, tujuan pemerintah pada dasarnya adalah untuk memajukan kesejahteraan masyarakatnya. Samirin (2014:136) menegaskan, “Konstitusi kita menjunjung tinggi hak asasi manusia, termasuk hak asasi yang terkait dengan kesejahteraan, misalnya hak untuk: mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan (pasal 27, ayat 2); mendapatkan pendidikan dan kesempatan berkembang (pasal 28C); bekerja serta mendapat imbalan yang adil (pasal 28D); hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan memperoleh pelayanan kesehatan (pasal 28E, ayat 1); dan mendapatkan jaminan sosial (pasal 28E, ayat 3). Oleh karena itu, kesejahteraan yang hendak dicapai tidak terbatas hanya kebutuhan pangan, sandang, dan papan, tetapi juga kebutuhan-kebutuhan yang bersifat non materil seperti: pendidikan, kesehatan, rasa aman, dan lain-lain.

Efektivitas kebijakan-kebijakan pembangunan yang telah diklakukan oleh pemerintah sangat menentukan tingkat kesejahteraan yang dicapai. Dengan demikian, berbagai upaya pembangunan yang telah dilakukan oleh pemerintah harus dievaluasi keberhasilannya.

Lantas pertanyaan yang sering muncul adalah sejauh ini pembangunan apa yang telah dilakukan pemerintah di Kota Tidore? Dan merujuk pada pertanyaan kedua yang menurut penulis sangat menusuk, Bagaimana cara membangun Tidore? Dengan kompleksitas masyarakat yang ada banyak orang kemudian bingung dari mana memulai membangun Tidore.

Menurut Hemat penulis membangun Tidore harus memulai dengan membangun manusianya atau terlebih khusus membangun generasi penerusnya. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Syekh Yusul al-Qardawi “jika ingin melihat masa depan sebuah negara lihatlah generasi muda nya pada saat ini”.

Saatnya Millenial Berkolaborasi

Pada dasarnya membangun saebuah daerah tentunya sangat diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga pembangunan tercapai dalam segala bidang ataupun sektor. Generasi muda atau pemuda sangat berperan dalam pembangunan daerah karena generasi muda adalah pemegang estafet kepemimpinan daerah nantinya. Sebagai pemegang estafet dimasa yang akan datang, pemuda harus menjadi pilar, penggerak dan pengawal jalannya pembangunan daerah. Namun kenyataan dan permasalahan yang dihadapi sekarang ini banyak generasi muda yang disorientasi, diskolasi dan dalam kepentingan politik. Seharusnya melalui para pemuda  bisa melahirkan banyak inspirasi atau karya untuk mengatasi berbagai kondisi dan permasalahan yang ada, terutama dalam pembangunan daerah yang lebih.

Generasi muda juga menjadi kaum yang mendominasi populasi terbanyak untuk saat ini, harus mengambil peranan sentral sebagai insiator di barisan terdepan untuk kemajuan daerahnya. Sudah waktunya para pemuda  menempatkan diri sebagai agen dalam perubahan (agen of change). Generasi muda yang masih relative bersih dari berbagai kepentingan, harus menjadi aset yang memiliki  potensial dan mahal untuk kejayaan di masa yang akan datang.
Generasi muda yang tergabung dalam berbagai organisasi kemasyarakatan atau organisasi kepemudaan ataupun organisasi kedaerahan memiliki posisi atau peran yang sangat penting dalam pembangunan daerah, terlebih para generasi muda yang baru menyelesaikan pendidikan, yang merupakan gernerasi yang di tunggu untuk merealisasikan atau menyampaikan  ilmu yang dipelajari demi kemajuan daerah.

Mereka memahami dengan baik kondisi daerah dari berbagai sudut pandang dan memiliki interaksi yang kuat dengan lapisan masyarakat dan penguasa elit, sehingga menjadi pengalaman untuk melakukan pembangunan daerah. Terlebih di zaman sekarang sudah banyak para generasi muda yang mengenyam atau menjalani  pendidikan tinggi yang bisa di jadikan objek untuk membangun suatu daerah dengan ilmu dan ide yang mereka miliki. Generasi muda yang mempunyai kesadaran dan peka terhadap situasi dan kondisi daerahnya pasti mereka akan memikirkan serta melakukan sesuatu untuk mendobrak daerah supaya lebih maju. Perubahan besar yang mereka lakukan yang cocok dengan situasi dan kondisi di banyak daerah yaitu dari segi ekonomi dan pendidikan, banyak sekali daerah-daerah yang penduduknya tidak bekerja karena alasan pendidikan atau susahnya mencari pekerjaan, disitulah generasi muda yang mempunyai kesdaran serta pendidikan yang mampu merubah situasi dan kondisi seperti itu.

Sebagaimana perkataan Soekarno tentang generasi muda: “berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan ku cabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Sejarah yang membuktikan keberhasilan generasi muda dalam pembangunan daerah ataupun untuk membela bangsa, yaitu ketika pada tahun 1825 — 1830 sekelompok kawanan pemuda dari kalangan ulama, santri, dan bangsawan keratin berperang melawan jajaran kepemerintahan Hindia — Belanda di bawah pimpina Pangeran Diponegoro. Peperangan ini menyebabkan Hindia — Belanda mengalami kerugian yang cukup besar, akibatnya dari perang ini masyarakat Hindia — Belanda mengalami trauma dan ketakutan. Lalu, dalam sejarah islam membuktikan adanya keberhasilan generasi muda yang dijadikan sebuah peradaban kemajuan islam, yakni Sultan Muhammad Al-Fatih yang berusia 21 tahun. Beliau, menaklukan konstantinopel pada abad ke-14 dimana selama beberapa abad lamanya umat islam belum bisa menaklukkannya. Dengan ide beliau yang fantastis yang membuat konstantinopel dapat kembali ketangan umat islam. Generasi muda tau sosok — sosok yang pernah ada dalam sejarah tersebut begitu dibutuhkan dalam kondisi pada zaman sekrang. Generasi muda yang berintelektual, agamis, berakhlakul karimah dan mempunyai keberanian yang bisa merubah untuk kemajuan pembangunan suatu daerah maupun kemajuan pembangunan bangsa dan Negara ini.

Ada kesalahan berpikir yang terjadi dikalangan Millenial Tidore saat ini yaitu dengan menempatkan pemerintah sebagai actor pembangunan, terlihat agak tradisional jika di era revolusi industry 4.0 seperti saat ini masih menjadikan pemerintah sebagai actor pembangunan. Harusnya pada era saat ini tonggak perubahan maupun pembangunan dimulai dari Gerakan kolaborasi yang dibangun millennial yang dimulai dengan Gerakan-gerkan social dan Pendidikan penyadaran terhadap masyarakat. Semoga lebih baik ke depan. Aamiin.

Facebook Comments