Lumbung Ikan Nasional (LIN) dan Kemiskinan Masyarakat Pesisir Maluku

Lumbung Ikan Nasional (LIN) dan Kemiskinan Masyarakat Pesisir Maluku

- in Opini
119
0
Jan Tuheteru, Mahasiswa Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang

Sekitar beberapa minggu yang lalu, tepat di tanggal 30 Agustus 2020 Mentri Kelautan dan Perikanan Indonesia Bapak Edhy Prabowo mengungjungi daerah Maluku. Lawatan yang dilakukan merupakan komitmen Edhy Prabowo untuk menyelesaikan hutang pemerintah pusat kepada Rakyat Maluku. LIN (Lumbung Ikan Nasional) bisa dikatakan sebagai hutang pemerintah pusat, beberap tahun lalu penetapan provinsi Maluku sebagai LIN sudah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Maluku, namun janji tersebut hanyalah omongan manis yang tidak pernah di realisasikan.

Awal tahun 2010 semasa kepemimpinan Presiden SBY, Maluku telah tetapkan sebagai wilayah Lumbung Ikan Nasional (LIN)  namun dalam perealisasianya mengalami kemandekan total. Di pemerintah Presiden Joko Widodo LIN  kemudian di suarakan kembali.

Menelisik hal tersebut, maka menarik untuk dibahas secara mendalam dan komperhensif. Secara bahasa Lumbung dapat di artikan sebagai “tempat penyimpanan”. Sehingga secara defenitif Lumbung Ikan Nasional dapat di jelaskan sebagai tempat penyimpanan ikan berskala Lokal maupun Nasional. Artinya Maluku sebagai salah satu wilayah dengan potensi sumberdaya perikanan tangkap yang besar dapat menjadi epicentrume penghasil ikan untuk kebutuhan Nasional.

Selaras dan tepat apa yang menjadi keputusan pemerintah pusat untuk menggelontorkan dana sekitar 1,5 T untuk suksesi Maluku Sebagai Lumbung Ikan Nasional. Kenapa demikian, Maluku adalah kawasan dengan potensi laut yang sangat besar, terbagi menjadi tiga wilayah pengelolaan perikanan (WPP) RI dengan total mencapai 3.055.504 ton/tahun, detailnya tersebar dibeberapa tempat, diantaranya  di laut banda (714) dengan jumlah 431.069 ton/tahun, laut seram (715) 631.701 ton/tahun dan laut Arafura (718) dengan potensi 1.992.732 ton/tahun. Namun mirisnya potensi tersebut belum di maksimalkan dengan baik.

Kemiskinan Masyarakat Peisisr Maluku

Perbincangan mengenai LIN (Lumbung Ikan Nasioanal) beberapa pekan ini sangat hangat di diskusikan oleh berbagai kalangan yang ada, mulai dari para akademisi, praktisi, pengusaha maupun mahasiswa dan tak ketinggalan pula rekan-rekan media yang terus mereproduksi berita mengenai LIN. Namun, ruang dirkursus yang dibangun sangatlah jauh dari pembahasan mengenai kemiskinan masyarakat pesisir Maluku.

Berangkat dari hal tersebut, memang perlu ada fragmentasi pembahasan secara mendalam mengenai kemiskinan masyarakat pesisir yang ada di Maluku. Diakui memang dalam tulisan ini, sajian data yang yang di tampilkan kurang lengkap, namun demikian bisa menjadi pertimbangan kolektif untuk melengkapi dan secara bersama dijadikan sebagai rujukan penyelesaian problema kemiskinan yang ada. Data dari badan Pusat Statistik sepanjang 2014 – 2017 Pulau Maluku dan Pulau Papua  memiliki presentase penduduk miskin yang terbesar di bandingkan dengan beberapa pulau lainnya, yakni Sumatera, Jawa, Bali, Nusa tenggara, Kalimantan dan Sulawesi.

Sedangkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Maret 2019 menyebutkan jumlah penduduk miskin di Maluku Sebanyak 317,69 ribu jiwa atau sekitar 17,65 Persen. Dari data tersebut penyumbang angka kemiskinan tertinggi berada pada wilayah pedesaan pesisir. Ironi memang, wilayah dengan potensi perikanan yang besar, namun masyarakatnya masih di himpit oleh kemiskinan.

Raymond Firth, membagi karakteristik kehidupan nelayan miskin menjadi lima bagian penting, diantaranya, Pertama pendapatan nelayan yang bersifat harian. Kedua, jenjang pendidikan nelayan yang rendah. Ketiga, produk ikan yang mudah rusak menyebabkan konsekuensi nelayan untuk menjualnya kepada para tengkulak dengan harga murah. Ke empat, investasi yang besar di bidang perikanan menyebabkan nelayan lebih memilih untuk mereduksi resiko dan hanya monoton bergerak di bidang perikanan. Kelima, keluarga nelayan lebih mudah terjerumus kedalam perangkap hutang yang merugikan.

Sedangkan Kusnadi, membedakan factor penyebab kemiskinan nelayan dalam 2 kelompok besar,yakni bersifat internal dan eksternal. Dalam penafsiran yang dilakukan yang  bersifat internal terbagi menjadi beberapa bagian (1) Sumberdaya Manusia yang tidak memadai. (2) kekurangan modal usaha dan keterampilan menggunakan teknologi. (3) Relasi kerja dalam organisasi sering berimplikasi negatif terhdap nelayan. (4) Kurang kreatif dalam mendeversifikasi hasil tangkapan dll. Sedangkan yang bersifat eksternal  lebih kepada. (1) Kebijakan pembangunan perikanan yang lebih berorientasi terhadap produktifitas perekonomian nasional. (2) sistem Pemasaran yang lebih menguntungkan pedagang perantara. (3) Kerusakan ekosistem pesisir dan laut karena pencemaran dari wilayah darat dll.

Senada dengan hal itu, Pemerintah Maluku perlu melihat faktor-faktor di muka dengan teliti dan jelih. Program LIN harus di jadikan sebagai jalan keluar dalam menyelesaikan problema kemiskinan yang ada di Maluku, terkhusunya di daerah Pesisir. Hemat penulis, bahwa penyelesain naskah akademik harus segera di rampungkan dengan mengikutsertakan seluruh elemen masyarakat, unsur pentahelix (Masyarakat, Akademisi, Pengusaha, Media) Maupun keterlibatan Mahasiswa. Ini menjadi point penting, sebab dalam pengalamannya, pemerintah enggan untuk melibatkan unsur pentahelix, sehingga dalam pengabsahannya sering di tolak. Karena hanya mementinngkan kepentingan korporat maupun pemodal-pemodal besar.   

LIN Solusi Kemiskinan Masyarakat Pesisir Maluku

Boleh di katakanan, anggaran 1,5 T bukanlah angka yang sedikit. Negara melihat potensi perikanan Maluku yang sangat besar, sehingga tidak ragu-ragu untuk jor-joran dalam mengakomodasi kepentingan tersebut. Dana di atas perlu dimaksimalkan dengan baik oleh pemerintah daerah guna mensejatrahkan rakyat Maluku. Orientasi pemerintah terhadap peningkatan perekonomian Nasional perlu di revisi terlebih dahulu, mengapa demikian karena pada dasarnya kesejatrahan masyarakat pesisir Maluku menjadi tugas penting pemerintah daerah untuk mencapainya. Analogi sederhananya adalah bagimana satu komunitas yang tidak berdaulat secara mandiri, namun moro-moro di perintah untuk mengisi stock kebutuhan orang lain. Hal ini bisa menimbulkan pergesesaran cara berpikir yang dapat berimplikasi akan adanya gesekan. Maka Inilah yang perlu menjadi atensi bersama. Intinya, Masyarakat Maluku harus lebih dahulu berdaulat secara mandiri.

Berangkat dari prespektif tersebut, dana yang di keluarkan oleh pemerintah pusat sebesear 1,5 T perlu di akomodir dengan baik oleh pemerintah daerah. Secara sederahana pemerintah daerah perlu melakukan tabulasi permasalahan apa saja yang terjadi sehingga kemiskinan di daerah pesisir Maluku terus meningkat. Upaya menginventarisir masalah yang ada menjadi acuan utama pemerintah daerah, dalam menyusun kebijakan atau program-program penunjang keberhasilan LIN sebagai solusi mengentaskan kemiskinan masyarakat Pesisir Maluku.

Kalaupun pemerintah daerah telah melakukan inventarisasi permasalahan maka selanjutnya, menganalisis dan menyusun formula yang tepat. Hemat penulis, untuk menyelesaikan masalah kemiskinan yang ada, dana 1,5 T harus di alokasikan secara merata kepada nelayan pesisir dengan mengupayakan program-program pemberdayaan kepada nelayan pesisir Maluku. Pemberdayaan yang di maksud dapat dilakukan dengan adanya moderinasi nelayan pesisir dan melakukan revitalisasi nelayan pesisir.

Untuk moderinisasi dapat dilakukan dengan adanya alokasi dana bantuan modal usaha, bantuan teknologi modern, maupun pelatihan peningkatan keteramapilan dan manajemen usaha perikanan. Sedangkan untuk revitalisasi dapat dilakukan dengan mendeversifikasi usaha perikanan maupun non perikanan dan  pemberdayaan kepada anak-anak nelayan, perempuan dan lansia keluarga nelayan pesisir Maluku. Terlepas dari itu semua, kebijakan Pemerintah harus pro terhadap kepentingan nelayan pesisir masyarakat Maluku bukan kepada kepentingan individu. “Mari bersama Kawal LIN, saya anak Maluku cinta Maluku, Kesejatrahan Masyarakat Pesisir Maluku harus di perhatikan’. “Potong di kuku rasa di daging” Salam.

Facebook Comments