Komodo dan Masyarakat Pulau Komodo: Berteman Lebih dari Saudara

Komodo dan Masyarakat Pulau Komodo: Berteman Lebih dari Saudara

- in Opini
446
0
Farhan Ainun Rafi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Pulau Komodo merupakan salah satu habitat utama Komodo.  Jauh sebelum reptil raksasa ini popular dan dikenal masyarakat dunia, nenek moyang warga desa Komodo telah memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Komodo. Hingga sekarang, penduduk asli masih percaya bahwa Komodo adalah saudara kembar mereka. Kepercayaan ini berakar pada legenda putri Komodo yang menceritakan bahwa zaman dahulu di tanah Komodo telah lahir sepasang makhluk hidup. Yang laki-laki berwujud manusia, sedangkan yang perempuan berwujud Komodo. Dari legenda ini, lahirlah salah satu nama local Komodo, yaitu sebai yang artinya sebelah, yang dimaknai sebagai saudara kembar. Selain sebai, masyarakat lokal juga menyebut Komodo dengan nama ora. Jika secara historis kita bahkan langsung mengetahui keterkaitan antara Komodo dan masyarakat pulau Komodo itu tersendiri. Namun dalam hal ini, Komodo dan masyarakat pulau Komodo merupakan makhluk hidup yang mempunyai nilai sejarah yang patut kita ketahui dan juga kearifan lokal yang harus dijaga.

Seiring berjalannya waktu, pulau Komodo merupakan satu destinasi wisata yang dimiliki labuan bajo. Kini, labuan bajo menjadi tujuan utama popular bagi wisatawan yang ingin menyelam atau wisata petualang ke pulau Komodo. Bahkan, kini labuan bajo telah masuk ke daftar 10 destinasi wisata prioritas nasional. Labuan Bajo memiliki sejumlah tempat menarik untuk dikunjungi. Mulai dari gugusan kepulauan di Taman Nasional Komodo untuk menyaksikan hewan purba yang masih hidup di dunia, wisata budaya di Kampung Melo, hingga wisata kuliner di Kampung Ujung. Berada di pesisir, membuat Labuan Bajo menyuguhkan pemandangan matahari terbenam yang memesona. Memiliki perbukitan yang tidak jauh dari perairan, travellers pun bisa menyaksikan sunset yang mengagumkan dari Bukit Cinta maupun Bukit Amelia. Potensi wisata labuan bajo dan gugusan pulau didalamnya yang menyimpan kekayaan alam yang begitu melimpah. Tentu saja, banyak pandangan mata yang melirik keindahan alam labuan bajo. Semua mata terpusat dan terpesona dengan suasana yang alamiah yang ditawarlkan keindahan labuan bajo dan gugusan pulau lainnya.

Geliat Wisata

Pulau Komodo merupakan nama yang tidak familiar lagi ditelinga para traveler atau wisatawan lokal maupun domestik. Nama pulau Komodo dan potensi  keindahan alam yang memanjakan para pengunjunggnya telah terkenal se-antero dunia. Namun, semua keindahan dan pesonanya tidak hanya dengan ungkapan kagum, tok. Jika dalih sector pariwisata untuk meningkatkan perekonomian daerah maupun nasional , apakah semua dampak positif ataupun negative telah diperhiungkan. Isu pembaangunan Jurassic park   Salah satu kawasan yang akan mengalami perubahan desain secara signifikan adalah Pulau Rinca, Kabupaten Manggarai Barat. Pulau ini bakal disulap menjadi destinasi wisata premium dengan pendekatan konsep geopark atau wilayah terpadu yang mengedepankan perlindungan dan penggunaan warisan geologi dengan cara yang berkelanjutan. “Tujuan utama konsep ini adalah mempromosikan kesejahteraan ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan dengan mengembangkan potensi yang ada dengan cara yang berkelanjutan,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. Di Indonesia agenda Post-2015 mendapatkan tantangannya untuk diuji sejauh mana kemampuannya dalam mengatasi krisis sosial-ekologis yang sudah kadung berurat-akar. Hal ini dapat kita cermati bahwa krisis sosial-ekologi yang terjadi di Indonesia adalah akibat dari pembangunan yang masih bertumpu pada cara pikir antroposentrik yang menjadikan alam sebagai target sasaran untuk dieksploitasi sedangkan paradigma pembangunan yang berdimensi ekosentrik di mana hubungan antara subyek dan obyek pembangunan bersifat ko-eksistensi masih belum diterapkan sepenuhnya meskipun dalih pembangunan berkelanjutan sudah menggema namun masih pada tataran retorika semata—kalau boleh dikatakan demikian. Faktanya, krisis lingkungan di Indonesia sudah mengalami kerusakan yang memprihatinkan bahkan pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup (sebelum digabungkan dengan Kementerian Kehutanan) mengamininya. Misalnya, krisis kerusakan hutan di Indonesia adalah sekian dari krisis sosial-ekologis yang disebabkan oleh orientasi pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan dan atau sama sekali tidak sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals [SDGs]) yang selalu digadang-gadangkan oleh PBB. Pembangunan berkelanjutan adalah pendekatan yang banyak disuarakan akhir-akhir ini. Prinsip berkelanjutan adalah respon dari kerusakan alam akibat pembangunan yang eksploitatif. Sehingga perlu adanya upaya untuk menyelaraskan pembangunan dengan kelestarian lingkungan. Salah satu prinsip yang paling berkembang adalah perspeksitf ekologi manusia, dimana pembangunan harus selaras antara pembangunan fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan.

Alih-alih melestarikan Komodo dan habitat alaminya, pembanguna Jurassic park akan membuat masyarakat pulau Komodo tergusur dan tersiksanya Komodo. Dengan konsep pembangunan yang ditawarkan, tentunya menuai banyak penolakan publik dan juga protes keras dari Wahana lingkungan hidup (WALHI) terkait dengan dampak negative terhadap pembangunan Jurassic park. Selain berdampak pada habitat Komodo proyek pembangunan juga berdampak pada masyarakat sekitar. proyek tersebut akan membuat masyarakat menjadi terasingkan di tanah kelahirannya sendiri. Dampak pada kehidupan masyarakat lokal di sana yang sudah menyatu dengan kehidupan Komodo.

Komodo dan masyarakat pulau Komodo telah hidup berdampingan sekian lamanya. Hemat penulis “Komodo dan masyrarakat pulau Komodo berteman lebih dari saudara”. Jika proyek pembangunan Jurassic park terus dilanjutkan. Maka, fenomena adaptasi Komodo dengan  habitatnya akan berdampak pada kelangsungan hidup Komodo. Secara alamiah, Komodo merupakan binatang yang liar yang hidup di alam liar. Jangan sampai hewan yang hampir punah ini dipunahkan oleh proyek megah Jurassic park bukannya punah secara alamiah. Komodo adalah binatang yang juga mempumyai hak hidup dengan habitatnya. Bahkan, fenomena peralihan profesi akan terjadi secara drastic di Komodo menunjukan kemampuan masyarakat beradaptasi menghadapi tekanan regulasi yang  berubah cepat. Mereka seolah dipaksa untuk terjun ke industry pariwisata tanpa bekal pengetahuan dan keterampilan yang cukup. Orang-orang ini memperoleh pengetahuan dari pengalaman langsung sebagai penyedia kebutuhan wisatawan. Komodo dan masyarakat pulau Komodo merupakan entitas yang harus dijaga. Oleh sebab itu, pembangunan Jurassic park tidak seharusnya menjadi proyeksi pembangunan yang mengatasnamakan kesejahteraan tapi harus dtinjau kembali dengan melihat seluruh aspek keberlangsungan hidup yang ada di pulau Komodo.

Komodo Vs Truck

Sebelumnya, sebuah foto komodo yang menghalang sebuah truk dan 2 orang pekerja di Pulau Rinca, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur viral di jagad maya. Berbagai persepsi muncul atas foto tersebut, terutama soal rencana pembangunan Jurassic Park. Public dengan berbagai persepsi muncul dengan pemaknaan gambar yang viral di media social akhir-akhir ini, terlepas dari ketidak sengajaan Komodo yang menghadang truck tersebut. Komodo merasa terganggu dengan lalu-lalang truck sehingga mengganggu ketenangan di habitat Komodo yang secara alamiah hidup dengan gelapnya hutan , dengan riuh alam di pulau rinca dan gemuruh ombak pesisir pantai pulau Komodo. Hak Komodo dengan alam sekitar diganggu dengan tabiat pembangunan proyek Jurassic park. Komodo merupakan reptile raksasa yang hampir punah, tetapi jangan sampai kepunahan Komodo disebabkan oleh nafsu manusia terhadap peningkatan ekonomi dan surplus kapital semata. Komodo adalah binatang dan binatang juga mempunyai hak sebagaimana  Richard Ryder, seorang penulis dan psikolog dari Inggris adalah salah satu orang yang mempulerkannya. Ia menciptakan istilah speciesisme untuk menggambarkan orang-orang yang mendukung berhentinya objektifikasi pada binatang. Paham ini mempercayai kalau binatang tak seharusnya dipandang hanya sebagai properti pemuas kebutuhan manusia, seperti dijadikan makanan, pakaian, subjek penelitian, hiburan, atau selalu dicap sebagai sesuatu yang mengerikan atau dikesampingkan hak hidupnya.

Dalam bukunya Painism: A Modern Morality (2001), Ryder menggambarkan bahwa rasa sakit adalah salah satu indikator mengukur moralitas di era sekarang. Jika manusia enggan dilukai dan merasa sakit, maka binatang juga demikian, sebab keduanya adalah makhluk hidup yang dapat merasakan pain atau kesakitan.

Facebook Comments