Membesarkan Partai Baru (Islam) Lebih Sulit Daripada Mendirikannya

Membesarkan Partai Baru (Islam) Lebih Sulit Daripada Mendirikannya

- in Opini
310
0

Igor Dirgantara*

Tidak ada korelasi yang signifikan antara tingginya ketaatan umat Islam di Indonesia dalam beribadah dengan peningkatan perolehan suara parpol yang berazas atau berbasis massa Islam di Pemilu. Jika misalnya terjadi kenaikan suara dari satu parpol Islam, itu biasanya lebih disebabkan turunnya suara partai Islam yang lain.

Islam jelas merupakan sumber pemikiran politik di Indonesia yang paling konsisten sejak masa kolonialisme sampai sekarang. Sayangnya, daya tarik Islam lebih mengarah kepada golongan ketimbang nasional. Memang ada identifikasi parpol (Party ID) yang rendah serta minimnya pemilih yang loyal terhadap satu parpol. Hal ini menyebabkan volatilitas dukungan terhadap parpol rentan berubah dari satu pemilu ke pemilu yang lain. Ini adalah peluang bagi partai baru untuk menggaet swing voters tersebut. Tetapi sebuah data menunjukkan bahwa ada 50 persen lebih masyarakat yang tidak berminat untuk memilih partai baru. Selain itu, proporsi terbesar pemilih di Indonesia itu berada di “tengah”. Yang “terlalu kiri” atau yang terlalu “kanan” tidaklah besar jumlahnya. Jadi peluang kemunculan Partai baru Masyumi Reborn yang diasumsukan bisa mengancam parpol berbasis Islam lainya yang sudah ada sekarang ini relatif kecil. Justru peluang kandasnya seperti partai baru lainnya jauh lebih terbuka.

Partai baru Masyumi Reborn bisa bertahan seperti PKS atau PKB jika punya jaringan dan logistik yang bagus untuk mempopulerkan dan mengiklankan dirinya terus menerus tanpa henti sampai 2024 nanti. Masyumi reborn harus bisa menemukan format yang pas antara politik Islam dan prinsip demokrasi modern bagi pemilih muda, misalnya soal keberagaman yang terkandung dalam pemikiran politik tokoh Masyumi, Muhammad Natsir. Jika Masyumi Reborn mentargetkan basis massa Islam tradisional di pedesaan akan kalah dengan PKB. Jika membidik pemilih muslim perkotaan, PKS jauh lebih kuat. Masyumi reborn harus bisa menarik suara pemilih muslim muda milenial yang akan mendominasi demografi pemilih di masa depan. Salah satu caranya adalah membuat terobosan baru dengan mencari tokoh muda muslim berpengaruh dan punya popularitas bagus, seperti Anies Baswedan atau Sandiaga Uno.

Salah satu tren kuat jelang lengsernya Jokowi di 2024 adalah fenomena anak ideologis tokoh nasional yang di dorong menjadi pemimpin masa depan Indonesia. Mulai dari Puan Maharani, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sampai Gibran Rakabuming adalah contoh dari nama-nama yang saat ini akrab di pentas politik. Begitu juga nama putra sulung Amien Rais pendiri PAN dan Partai Ummat, Hanafi Rais. Berbeda dengan Masyumi Reborn, Partai Umat di dirikan ketika PAN terpecah pasca Kongres ke V di Kendari, Sulawesi Tenggara. Banyak loyalis Amien Rais di PAN bergabung ke Partai Ummat karena kecewa dengan kepemimpinan Zulkifli Hasan saat ini. Namun dalam keadaan masih baru di masa konsolidasi, sebaiknya Amien Rais yang sementara menjadi ketum Partai Ummat dulu, karena figur dan ketokohannya masih kuat di PAN. Baru setelah masa konsolidasi selesai dan Partai Ummat bisa membuktikan lolos ke Senayan dan mampu mengalahkan partai baru lainnya di Pemilu 2024, seperti Partai Gelora, maka Hanafi Rais bisa menggantikan posisi bapaknya sebagai Ketum. Berbeda dengan AHY di Demokrat, misalnya, Hanafi Rais adalah putra mahkota Amien Rais yang tidak pernah merasakan manisnya menjadi ketum PAN yang didirikan Bapaknya

Partai baru berazas dan berbasis massa Islam seyogyanya juga jangan terlalu mengandalkan popularitas dai-dai kondang seperti Uztad Abdul Somad atau Habib Rizieg untuk tujuan Pemilu. Lihatlah redupnya Partai Bintang Reformasi yang didirikan oleh “dai sejuta umat” almarhum KH. Zainuddin MZ. Atau kurang populer apa Rhoma Irama itu di mata publik. Konsernya tak pernah sepi. Tapi bang haji akhirnya tenggelam bersama Partai Idaman yang dia dirikan. Saat ini, Rhoma Irama tetaplah legend musik dangdut dengan jumlah penonton yang fantastis, tetapi itu bukan jumlah pemilihnya di bilik suara walaupun sudah begadang.

*Igor Dirgantara, Dosen Fisip Universitas Jayabaya, Director Survey & Polling Indonesia (SPIN)

Facebook Comments