Kekalahan Trump dan sinyal kerapuhan petahana dalam Pilkada Kota Tidore 2020

Kekalahan Trump dan sinyal kerapuhan petahana dalam Pilkada Kota Tidore 2020

- in Opini
553
0
Fahmi Ismail (Founder Kieraha Institute)

Kandidat dari Partai Demokrat, Joe Biden, mengalahkan Donald Trump dalam pemilu Amerika Serikat (AS). Biden akan menjadi presiden AS ke‑46 direncanakan masuk ke Gedung Putih pada 20 Januari 2021.
Biden Ungguli Trump dengan selisih 2‑1 di kalangan pemilih minoritas. Kantor berita Reuters melaporkan, para pemilih sepertinya secara tegas menolak kepemimpinan yang kacau dari Donald Trump dan memilih janji Biden untuk memerangi pandemi virus Corona dan memperbaiki ekonomi AS.

Ex Bulletin melaporkan, salah satu prioritas pertama Biden adalah menerapkan rencana tanggap pandemi yang lebih agresif. Pada 6 November, Amerika Serikat mencatat lebih dari 130.000 infeksi virus Corona baru dalam satu hari, jumlah tertinggi yang dilaporkan di seluruh dunia sejak dimulainya epidemi.
Pemerintahan Biden juga akan membuka kembali jalur komunikasi dengan negara lain dan organisasi internasional dalam memerangi virus Corona. Presiden Trump yang sempat terinfeksi Covid‑19 menarik Amerika Serikat keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia awal tahun ini. Trump mengkritik badan internasional tersebut yang memberi dukungan kepada China, tempat pandemi dimulai.

Kemenangan Biden didorong oleh dukungan kuat dari berbagai kelompok termasuk wanita, Afrika‑Amerika, pemilih kulit putih dengan gelar sarjana, dan penduduk kota. Dia unggul lebih dari empat juta suara di atas Trump dalam penghitungan suara populer nasional.
Biden yang telah menghabiskan setengah abad dalam kehidupan publik sebagai senator AS dan kemudian menjadi wakil presiden di pemerintahan Barack Obama, akan mewarisi sebuah negara yang berada dalam kekacauan atas pandemi virus corona dan perlambatan ekonomi terkait serta protes yang mengganggu terhadap rasisme dan kebrutalan polisi.
Biden mengatakan, prioritas pertamanya adalah mengembangkan rencana untuk menahan dan pulih dari pandemi, berjanji untuk meningkatkan akses ke pengujian dan memperhatikan saran dari pejabat kesehatan masyarakat dan ilmuwan terkemuka yang selama ini diabaikan Trump.

Kemenangan Biden disambut lega oleh banyak kalangan. Ilmuwan AS mengaku lega ketika Biden menang. Mereka berharap Biden bisa menghapus kebijakan anti‑sains yang dibuat Trump. “Mimpi buruk nasional kami yang panjang sudah berakhir,” kata Alta Charo, ahli bioetika di Fakultas Hukum Universitas Wisconsin

Peneliti berharap banyak kerusakan bisa diperbaiki Biden. Dengan tidak adanya Trump, fisikawan dan spesialis proliferasi nuklir yang berbasis di Islamabad, Pervez Hoodbhoy, akan membuat AS lebih memiliki kerja sama internasional serta akan lebih patuh terhadap hukum dan perjanjian, lebih banyak kesopanan dalam politik di seluruh dunia. “Lebih sedikit ‘berita palsu’, lebih banyak senyuman, dan sedikit kemarahan.

Runtuhnya Mitos Petahana 2 Periode

Suhu politik lokal mulai menghangat. Pemicunya adalah pelaksanaan kontestasi demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang puncaknya dijadwalkan berlangsung pada 09 Desember 2020.

Pilkada 2020 rerata menjadi pilkada langsung keempat di masing-masing daerah. Dinamika politik awal selalu diwarnai munculnya analisa, prediksi koalisi, survei hingga spekulasi dan hantu mitos. Salah satu yang menarik adalah mitos politik pilkada. Mitos semestinya tabu dalam dunia modern, tetapi nyatanya menjadi hantu yang mempengaruhi dinamika. Tantangan kontestan adalah menyikapi hingga kemampuan mematahkan mitos jika berada pada pihak terugikan.

Banyak pihak memilih tidak percaya tapi sebagian cukup fanatik adanya mitos politik, termasuk dalam perhelatan pilkada. Mitos politik muncul sebagai produk politik tradisional. Menurut Karen Armstrong, mitos memiliki fungsi khusus, yaitu menjelaskan sesuatu yg belum mampu disentuh oleh logos (nalar, akal). Seiring perjalanan waktu, mitos mengalami komodifikasi, yakni dirancang sebagai komoditas guna memenuhi berbagai jenis tujuan (Endibiaro, 2014).

Komodifikasi mitos paling mutakhir adalah hadirnya mitos politik (Lupiyanto, 2014), termasuk pilkada ini. Banyak bentuk mitos politik pilkada selama ini muncul dan penting dipahami secara empiris dan ilmiah.

Pertama, mitos kekalahan kepala daerah petahana. Tren pilkada memberikan bukti kekalahan yang dialami kepala daerah yang maju sebagai kepala daerah. Dalam posisi ini kepala daerah tersebut adalah petahana. petahana yang kalah dalam pemilu seperti yanh terjadi di pemilu AS karena kekalahan Trump atas Joe Bidden juga terjadi di Indonesia antara lain Rano Karno di Banten, Muallem di Aceh, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di DKI Jakarta, dan Rustam Efendi di Bangka Belitung. Kesemuanya diunggulkan berdasarkan mayoritas survei.

Kedua, mitos sulit mengalahkan petahana. Petahana yang baru menjabat sekali periode hampir pasti maju kembali. Petahana diyakini memiliki modal lebih kuat dibanding kontestan pesaingnya. Modal politik tersebut antara lain popularitas dan elektabilitas, jaringan birokrasi, kemudahan memanfaatkan anggaran daerah untuk kampanye, kemudahan mendapatkan cukong, dan lainnya. Hal tersebut memang ilegal dan petahana dalam kondisi wajib cuti selama kampanye, namun sudah menjadi rahasia umum.

Gagal Program Petahana

Seperti yang terjadi pada daerah-daerah lain, di Kota Tidore Kepulauan indikasi runtuhnya petahana bisa dilihat dari realisasi program-program yang menjadi janji politik periode pertama belum mampu dilaksanakan dengan maksimal.

deretan program gagal seperti kelapa genja, pabrik saos tomat dan investasi bodong pun menjadi catatan buruk petahana harus perlu di evaluasi dan menjadi momok bagi petahana dalam bertarung dalam periode kedua.

contoh yang diperlihatkan Ahok dalam pilkada DKI Jakarta kiranya menjadi tampram keras bagi seluruh kepala daerah yang sering berkata kasar dan suka mengancam ASN pun menjadi Common Enemy bagi petahana. kekalahan trump di Amerika bukan karena hal lain namun kekalahannya karena kebijakan Trump yang sering Antimainstream sehingga gerakan rakyat mengalahkan semua kekuatan Politik yang dibangun oleh Trump selama menjabat sebagai Presiden AS.

Facebook Comments